Sebelum Ramadan datang, jam kerja Parman normalnya orang kantor di luar sana. Ia akan pulang jam 4 atau jam 5 sore setiap hari. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan, hari Minggu dan libur juga tersita.
Parman kadang mengeluhkan, kalau ternyata waktu yang dia pakai untuk mencari uang justru sekaligus menjadi waktu yang mengabaikan orang-orang yang ia cintai. Di waktu pulang boro-boro Parman mau ngasuh anak, energinya sudah terkuras habis tiap pilang kerja. Baginya menjadi pelayan masyarakat memang sangat melelahkan, karakter masyarakat yang bermacam-macam selalu membuat parman mengeluarkan energi lebih setiap hari.
Namun khusus untuk bulan Ramadan seperti sekarang, masyarakat tidak terlalu berkeperluan dan tak banyak yang harus dibantu administrasinya. Mungkin karena mereka juga membatasi aktivitas, dan mengurangi jam kerja. Saat Ramadan, Parman sudah pulang jam 2 atau jam 3 paling sore sampai rumah.
Parman sangat bahagia, karena sebulan penuh ini ia bisa membantu istrinya mempersiapkan makan sahur dan buka. Ia pun bisa menghabiskan waktu bersama anaknya, yang kebetulan sekarang tengah belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Riri, anak Parman dan Siti mulai diajarkan untuk mengenal apa itu puasa dan menahan diri dari segala yang membatalkan.
Siti dan Parman memang tidak memaksakan, mereka hanya mendukung apa yang akan dijalankan anaknya. Sejalan dengan pikiran anaknya sudah mulai mengerti dan memahami apa puasa itu. Parman sangat menikmati kehidupan yang banyak berisi waktu luang sekarang di bulan Ramadan.
Paginya ia bisa berangkat tidak lebih pagi dari sebelumnya, jika dulu setengah tujuh harus sudah keluar dari rumah. Sekarang jam 8 ia baru berpamitan, sehingga jam-jam sebelumnya ia bisa menghabiskan waktu dengan anak dan istrinya atau membaca Al-Quran meski satu halaman. Waktu-waktu seperti sekaramg ini betul dimanfaatkan Parman untuk lebih dekat dengan keluarganya.
Jadi pelayan masyarakat di kantor kecamatan adalah pengabdian Parman selama ini. Ia selalu mengajarkan pada istrinya, bahwa membantu orang lain bukan hanya kewajiban dan panggilan hati tapi setelahnya selalu mendatangkan kepuasan. Sebagai istri yang baik, Siti selalu mendukung apapun yang suaminya lakukan.
Hari ini puasa hari ketujuh untuk Riri, sebenarnya Parmen dan Siti tidak pernah memaksakan. Tapi Riri ternyata kuat sampai jam 11 atau jam 12 siang. Parman selalu mengajarkan kalau puasa yang dia lakukan tidak perlu sampai ke Maghrib jika memang tidak kuat, karena Allah pasti memaafkan anaknya.
Riri diajarkan untuk berpuasa dan memaknainya, meskipun jam 11 atau jam 12 siang dia mengakhiri puasanya. Riri berkomitmen kepada ibunya kalau dia juga akan berpuasa melanjutkan sampai ke jam berikutnya. Parman tidak pernah memaksa, kalaupun Riri tidak bisa menahannya, ia boleh makan dengan syarat tidak boleh di luar rumah, supaya belajar menghormati orang lain yang berpuasa.
Parman sangat menikmati momen-momen ini, kadang jika Riri bertahan sampai sore hari, ia sering diajak jalan-jalan oleh ayahnya itu. Tujuan Parman agar Riri bisa lebih mengalihkan perasaannya terlebih dahulu. Disamping itu, Riri juga sangat bahagia karena di hari-hari biasa Riri tidak pernah mendapatkan momen ini kalau bukan seminggu sekali, itupun jika ayahnya sempat.
Hari ini dan sebulan penuh ke depan, Riri akan merasakan jalan-jalan setiap sore bersama ayahnya, dan bersama-sama mempersiapkan takjil. Membuat kolak, manisan, es campur, atau aneka makanan pembuka saat puasa khas keluarga mereka. Riri sangat antusias di puasa pertamanya kali ini.
Tahun ini sekaligus menjadi momen yang penuh kehangatan yang pertama kali dia rasakan. Sejak kecil Riri sudah berkutat dengan pembagian waktu dan jam kerja ayahnya. Pekerjaan Parman yang berkaitan dengan hal-hal sosial kemasyarakatan sebenarnya sangat membanggakan untuk Riri.
Meskipun di sisi lain dalam beberapa waktu Riri merasa di nomor duakan karena tuntutan pekerjaan ayahnya. Tahun ini adalah ramadan pertama yang mengasyikkan untuk Riri, pun menjadi ramadan yang berkesan untuk Parman. Karena Parman bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya sebulan penuh.
Atas kehadirannya, Riri sering mengajaknya Parman dan istrinya berjalan-jalan. Menghabiskan waktu setiap sore, sesekali jika waktunya sedang lapang dan memiliki cukup uang, Parman sering mengajak istri dan anaknya untuk pergi ngabuburit. Pergi ke tempat yang mereka suka, membeli makanan, minuman kesukaan atau mainan yang Riri inginkan.
Namun Parman selalu mengajak keluarganya untuk pulang dan berbuka bersama di rumah. Meskipun sering bepergian, tapi Parman tidak pernah melewatkan buka bersamanya di rumah. Menurutnya buka puasa di luar rumah ternyata disamping menyita waktu dan membuyarkan momen khusyuk dalam ibadah, kontak dengan keluarganya menjadi kurang erat.
Maghrib juga berpeluang terlewat waktunya, karena keramaian dan sibuknya orang-orang nantinya. Parman lebih memilih ngabuburit beberapa menit sebelum buka, tak jauh-jauh mereka selalu pulang dari jalan-jalan yang mereka lakukan. Lagi pun, Siti lebih merasa tenang berbuka di rumah saja, bisa pergi ke Masjid di lingkungan rumahnya pula.
Bagi Parman, ramadan kali ini adalah bulan yang penuh sekali maknanya. Bukan hanya soal kedekatan dan caranya beribadah, tapi sebulan penuh ini dia bisa membangun komunikasi yang lebih erat dengan anak dan istrinya. Parman sangat bahagia karena Riri dan Siti ternyata berbahagia juga atas momen ini.
Riri dan Siti memang adalah perempuan yang sederhana, bagi Parman Siti sangat sempurna dan Riri adalah hasil dari pendidikan dan representasi isi hati Siti yang terdalam. Parman sangat bahagia dan bangga melihat mereka sehat, bahagia dan tenang. Semoga keluarga mereka tetap harmonis, sehat dan mampu menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya kelak.
