Bulan Ramadan adalah bulan suci penuh berkah, bukan konon katanya. Semua orang harus belajar memaknai betul, bagaimana bulan Ramadan ini memberikan wadah bagi kita untuk banyak beramal dan bersedekah, untuk memperoleh berkah tersebut. Namun jalan untuk memperoleh kemenangan itu tentunya tidak dengan jalan yang mudah.
Dari hari ke hari dalam sebulan penuh, ada saja tantangannya. Ada yang tiba-tiba berubah menjadi pribadi yang malas dan cenderung banyak menunda banyak hal. Ada yang melewatkan waktu selama bulan Ramadan dengan kegiatan yang percuma.
Berpuasa bukanlah alasan untuk seseorang tidak melakukan sesuatu. Saat sekolah kita sering terikat dengan kurikulum yang mengharuskan membuat agenda Pesantren Ramadan. Dulu kita giat sekali mengikuti berbagai rangkaian kegiatannya, namun saat dewasa?
Setelah dewasa dan tempat kerja melakukan pengurangan jam kerja. Harusnya membuat kita lebih bersyukur, sebab banyak jam yang isinya bisa digunakan untuk istirahat dan membaca Alquran. Tapi kenyataannya, banyak yang hanya tidur seharian.
Lalu sore hari disibukan dengan berburu makanan, atau biasa disebut war takjil dalam istilah modernnya. Sungguh sangat disayangkan, betapa antusiasme menyambut puasa dan hari raya Idul Fitri adalah antusiasme yang masih bersifat duniawi. Berburu makanan, menyalakan kembang api, membeli baju lebaran berlebihan, dan masih banyak lagi.
Seperti di sudut kota kecil, Romi terlihat kelelahan selepas bekerja. Ia yang sedang berpuasa namun tetap bekerja dengan keras. Tahun lalu, puasa Ramadan Romi masih ada bolongnya, tapi ia berusaha supaya bulan ini full.
Romi selalu berharap apa yang ia lakukan bisa memacu diri untuk lebih baik dan membawa perubahan. Di lingkungan kerja sebelumnya memang ia sangat sulit menunaikan puasa, tensi pekerjaan yang berat selalu menuntut ia makan siang setiap hari. Romi dulu adalah buruh pengangkut kayu dari hutan menuju mobil pengangkut, dalam pekerjaan itu kalau tidak minum Romi bisa mati.
Dia sangat bersyukur, hari ini ia bisa bekerja si tempat yang lebih aman dan minim godaan. Dulu memang gajinya besar, namun risikonya besar pula. Sekarang Romi jadi teknisi listrik rumah sakit yang dalam waktu senggangnya merangkap sebagai tenaga kebersihan.
Lima tahun lebih Romi menjalani profesi sebagai buruh kayu, lima tahun itu pula puasanya tak pernah ada yang sempurna. Karena ia sadar sedang berada di tempat yang penuh risiko, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Baru tahun ini ia bekerja di rumah sakit, dengan format formulir yang ditawarkan bidan desa tahun lalu.
Romi terlihat tiduran, mengoperasikan ponsel, lalu duduk termenung di halaman masjid rumah sakit. Disana dia tengah beristirahat sebelum melanjutkan pekerjaannya menyapu taman. Panas terik menjadi satu-satunya ujian dalam pekerjaan Romi kali ini.
Saat meneruskan lamunannya, Romi melihat banyak hal yang bagi dirinya, itu adalah sesuatu yang menyejukkan. Romi melihat orang yang membaca Alquran di sela istirahatnya, adapula yang menunaikan salat Zuhur awal waktu. Namun tiba-tiba Romi tidak enak hati ketika melihat seseorang di lorong toilet yang berada di antara rumah sakit dan minimarket.
Toilet itu terlihat sepi, tapi kepulan asap di sana tidak bisa bohong, bahwa itu adalah rokok. Romi seketika berpikir, jika memang dia sedang berada di sebuah perjalanan mungkin makan dan minum bisa sangat dimaklumi, tapi merokok masa tidak bisa ditunda? Romi seketika menggerutu dalam hati.
Namun sisi lain Romi berasusmsi, kita harus menghormati keputusan orang lain bagaimanapun keadaannya. Tapi harusnya dia juga bisa menghormati orang lain dengan cara bersembunyi, atau gimana terserah. Tapi dari gelagatnya sepertinya dia bukan orang yang tengah bepergian, ia mengenakan kaos oblong dan celana pendek serta sandal jepit.
“Aih, kayaknya aku kenal deh.” Pikir Romi saat itu.
Tiba-tiba orang yang sedang diperhatikan itu menghampirinya. “Apa kamu lihat-lihat saya? tatapanmu itu buat saya nggak nyaman.”
Romi lantas meminta maaf dan menjulurkan tangan sebagai tanda permintaan maaf. “Mas Sofyan? Maaf Mas saya tidak bermaksud apa-apa kok.”
Dengan tatapan yang tajam, “Buat risih aja sih anak baru, sok berlaga suci lu ya!” Tekan Sofyan.
“Bukan begitu Mas, ini kan bulan Ramadan, mungkin urusan puasa atau tidaknya itu kan urusan Mas dengan Tuhan, jadi saya tidak terlalu memperdulikan itu. Tapi berbuat seperti itu di hadapan umum mungkin bisa dikurangi dulu untuk menghargai orang lain Mas.” Terang Romi kemudian.
“Lagian ya lu mancing-mancing emosi, bulan puasa gini ada aja yang bikin marah!” Bentak Sofyan meneruskan argumennya.
Tiba-tiba waktu terasa menyambar seperti petir. Namun dalam hati, Romi tertawa kecil di hatinya. Ramadan ini memang sepertinya emua orang mengalami ujian, baik yang menunaikan puasanya ataupun tidak.
“Ya ampun ini ujian kesabaran yang sebenarnya, aku mungkin salah memperhatikan orang lain dengan tatapan yang terlalu dalam.” Bisik Romi dalam hati.
Romi menemukan makna kesabaran di balik kalimat-kalimat yang ia lontarkan. Ia mungkin bersalah menatap orang terlalu dalam, terlalu mengikuti dan mencampuri urusan orang lain. Menghargai keputusan orang lain juga adalah hal yang baik, tapi kalau dalam situasi seperti ini, siapa yang salah?
Entahlah.
