Bagas mulai melakukan olahraga rutin di bulan ramadan ini. Ia sengaja berolahraga dan menjaga pola makan untuk menjawab tekadnya menurunkan berat badan yang dirasa mulai mengganggunya. Istrinya juga kadang cemas sendiri, karena bukan hanya bobot tubuh Bagas yang naik setelah beberapa tahun menikah, tubuh Rani pun menjadi lebih tambun dan ia sudah hampir kesulitan berdiri. Bagas dan Rani memang berolahraga sebelum azan maghrib berkumandang, namun makan menu sunda hampir setiap berbuka puasa kadang membuat mereka kalap, lagi-lagi tak mampu menahan diri.
Bagas pernah menonton tayangan yang menayangkan cuplikan tayangan pernyataan dari binaragawan Indonesia, Ade Rai. Ia menuturkan kalau makanan sunda adalah tipe kuliner nusantara yang paling sehat. Bagaimana tidak, lalapan dan makanan kukus dan bakar tentunya mengurangi penyerapan lemak pada tubuh dan baik karena tinggi serat.
Namun bagas lupa makan banyak, apalagi dengan kandungan karbohidrat berlebihan juga tak baik bagi kesehatan. Bagas dan Rani meyakini kalau apa yang mereka lakukan adalah tipe diet Intermiten Fasting yang meskipun makan, namun akan memabntunya menurunkan berat badan. Bagas dan Rani berusaha keras melakukan berbagai macam olahraga bermodal panduan Youtube dan sumber-sumber yang mereka percaya.
Di Rumah, Bagas dan Rani memang memasak sesuka hati mereka. Mereka selalu saling bantu mempersiapkan buka dan sahur bersama-sama. Kadang untuk apresiasi diri mereka, membuat gorengan bersama-sama, mengkreasikan makanan berat dengan santan kental, dan banyak lagi lauk makanan yang pedas dan menggugah selera. Katanya, tak apa makan berat sesuai keinginan asalkan olahraga masih jalan dan konsisten.
Mereka hampir setiap hari menyediakan lalapan yang banyak, ikan asin dan sambal tak pernah absen, tahu dan tempe apalagi. Belum lagi makanan pembuka, mereka sering membuat diri sup buah dengan penuh sirup, agar-agar den susu kental manis. Beberapa kali istrinya sengaja membuat nasi liwet dengan jengkol dan kol goreng, membuat Bagas selalu tak bisa mengendalikan dirinya.
Menambah porsi berkali-kali, minum sup buah bergelas-gelas karena merasa pedas setelah makan. Setiap malam Rani dan Bagas layaknya liputan mukbang di televisi, selalu porsi banyak dan besar. Bagas selalu menyangkal atas buruknya pola konsumsi yang ia lakukan, tapi ia selalu berdalih “Asal seimbang, semuanya aman kok.”
Suatu hari Bagas dan istri diundang orang tuanya untuk berbuka bersama di rumah orang tuanya itu. Bagas sebenarnya sungkan, karena jumlah anggota keluarga di rumah orang tuanya banyak. Ia pasti tak akan nyaman dengan porsi makan yang ia dapatkan, pasti tak sama dengan apa yang istrinya sajikan di rumah untuk mereka berdua.
Di rumah mereka akan dengan lauk sepuasnya, nasi sepuasnya, gorengan dan sambal sepuasnya. Sedangkan jika di rumah orang tuanya ia tak bisa makan dengan serta merta, melainkan harus mengingat lima orang dewasa dengan sajian yang sama menyerupai dirinya. Rani sudah menangkap sinyal tidak nyaman dari suaminya itu, terlihat dari responnya saat ia ditawari jadwal buka bersama oleh orang tuanya itu.
Tiba waktunya, sore itu Rani membantu mertuanya mempersiapkan menu buka puasa, sedangkan Bagas mengasuh anak balita mereka sekalian momong bayi 7 bulan, buah cinta adik perempuannya. Lusi, adik perempuan Bagas pun nampaknya sengaja diundang oleh mertuanya untuk gelaran buka bersama di rumah mertuanya. Sementara Lusi membantu, anaknya yang masih bayi ia titipkan pada Bagas. Mereka masak dengan porsi banyak, namun menyesuaikan dengan jumlah sesuai dengan banyaknya orang yang ikut berbuka di sana.
Rani tersenyum kecil di sudut ruangan, ia melihat bahwa Bagas memperhatikan betul makanan yang tersaji, ia nampak menghitung gorengan sejumlah orang yang hadir saat itu. Melihat lauk yang pasti ia takutkan tak cukup untuk beberapa orang di sana, belum lagi sup buah yang ia anggap kurang banyak karena di rumah ia berkebiasaan untuk minum 2 gelas sup buah masing-masing dengan Rani istrinya. “Secukupnya ya Mas, awas inget yang lain,” bisik Rani pada Bagas.
Bagas dalam hati menggerutu, “Setelah dari sini aku mau makan lagi di rumah dengan lauk yang kumau.” Istrinya terus memperhatikan suaminya yang tak menambah lagi nasi, tak menambah lagi minuman manis, bahkan air putih pun nampak tak nambah lagi. Suaminya terlihat lesu, dan langsung ke luar rumah untuk menyeduh kopi seperti apa yang ia lakukan biasa di rumah.
Menahan Diri
Bulan ramadan adalah bulan belajar untuk menahan diri dan hawa nafsu. Sebaiknya ketika kita mampu menahan diri di siang hari dari segala yang membatalkan dan mengugurkan pahala puasa, harusnya kita juga bisa mengontrol diri saat buka puasa tiba. Tidak makan berlebihan, dan memakan banyak hal yang tak baik untuk kesehatan. Sebenarnya apa yang terjadi di rumah orang tua Bagas adalah hal yang baik, disamping menahan perasaan supaya tak makan berlebihan karena mengingat anggota keluarga lain. Kita juga sebenarnya bisa membatasi diri untuk tak makan dan minum berlebihan saat buka puasa tiba.
Setelah Rani dan Suaminya selesai makan, anaknya tiba-tiba menangis ingin segera pulang. Bagas lantas mengiyakan dan mengajak istrinya pulang. Mereka berpamitan untuk segera pulang dan melaksanakan salat terawih di samping rumahnya. Bagas dan orang tuanya memiliki jarak rumah yang dekat namun terpisah blok dan RT.
Rani terus tertawa, tak bisa menahan tawanya saat sedang berboncengan dengan suaminya itu. “Kamu pasti masih lapar kan? Hahahaha.” Bagas menggaruk kepalanya, dan tersenyum tipis sedikit malu. Setibanya di rumah Bagas cepat-cepat membuka pintu menuju dapur dan menyendok nasi juga mengambil telur dari kulkas. Ia langsung menggoreng sendiri telurnya, dan makan dengan lahap meski dengan telur dan kecap.
Sebentar kemudian setelah makan yang ke dua kalinya, Bagas lantas duduk di beranda rumah. “Alhamdulillah, sekarang kenyang.”
Rani memperhatikan suaminya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
