Malam ke-30 Ramadan. Udara di luar Masjid Al-Barokah terasa dingin dan lembap, sisa hujan sore tadi. Gema takbir mulai bersahutan, perlahan tapi pasti, mengikis sisa-sisa kesyahduan bulan suci. Semua orang tampak bersuka cita, sibuk menyiapkan baju baru dan hidangan Lebaran. Semua orang sibuk merayakan “kemenangan”.
Kecuali Husein. Husein duduk bersimpuh di pojok paling belakang masjid, jauh dari kerumunan jamaah yang sedang khusyuk bertadarus. Di depannya terbentang selembar sajadah tua berwarna hijau lumut, hadiah dari ibunya sepuluh tahun lalu. Sajadah itu sudah kusam, benang-benangnya mulai terlepas, dan warnanya memudar seiring berjalannya waktu.
Bagi Husein, sajadah itu bukan sekadar alas shalat. Itu adalah saksi bisu dari seluruh sandiwara spritualnya selama sebulan penuh. Husein mengenang hari-hari Ramadannya yang penuh kepalsuan. Ia menahan lapar dan haus dari fajar hingga magrib, tapi hatinya tetap dipenuhi kedengkian. Ia shalat tarawih berjamaah, tapi pikirannya melayang ke urusan dunia yang tak kunjung usai. Ia membaca Al-Qur’an, tapi lidahnya tak pernah menyentuh makna yang tersirat di dalamnya. Ia merasa puasanya hanyalah sebuah rutinitas belaka. Sebuah “diet” spritual yang tak membuahkan hasil.
“Duh Gusti! Apakah puasaku selama sebulan ini hanyalah lapar dan haus semata? Apakah sujudku selama sebulan ini hanyalah sebuah gerakan fisik tanpa makna?” batin Husein, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Ia melihat sajadah tua itu. Di atas kain yang kusam itu, nampak “noda-noda” kepalsuannya bertebaran. Noda kedengkian, noda kesombongan, noda kemunafikan.
“Sajadah ini… dia tahu segalanya. Dia tahu betapa kotornya sujudku. Dia tahu betapa palsunya doaku,” gumam Husein, suaranya parau oleh rasa bersalah.
Ia bangkit, mengambil sajadah tua itu, lalu berjalan perlahan menuju tempat wudhu yang remang. Ia tak ingin ada orang yang melihatnya. Ia tak ingin ada orang yang mengganggu jalannya menuju pertaubatan yang hakiki. Ia menyalakan keran air. Air dingin membasahi tangannya, menyentuh Sajadah tua yang kusam. Ia mulai menggosok kain sajadah itu dengan tangan gemetar. Ia ingin membersihkan “noda-noda” kepalsuannya. Ia ingin mencuci sajadah itu dengan air mata pertaubatannya.
Air mata Husein jatuh, hangat membasahi kain sajadah. Air mata itu bercampur dengan air dingin dari keran, membentuk “aliran” pertaubatan yang suci. Setiap gosokan tangan Husein diiringi dengan air mata yang tulus. Setiap gosokan tangan Husein diiringi dengan doa yang hancur.
“Ampuni hamba… terima hamba di pojok paling belakang ini… sujud hamba palsu… dosa hamba melimpah… terima hamba yang hancur ini…”
Ia terus mencuci sajadah itu, menggosok kainnya dengan penuh penghayatan. Ia tak peduli tangannya lecet, ia tak peduli bajunya basah. Yang ia peduli hanyalah satu hal: membersihkan jiwanya dari “sampah-sampah” kepalsuannya.
Husein melihat Sajadah tua itu. Di bawah cahaya remang tempat wudhu, nampak “noda-noda” kepalsuannya perlahan pudar. Sajadah tua itu nampak lebih bersih, lebih wangi, dan lebih bercahaya. Nampak seperti “baru” lagi.
“Duh Gusti! Sajadah ini… dia nampak lebih bersih… lebih wangi… lebih bercahaya… nampak seperti ‘baru’ lagi,” gumam Husein, tersenyum kecut. Ia membawa sajadah tua itu kembali ke pojok paling belakang masjid. Ia membentangkannya di atas lantai yang dingin. Ia bersujud di atas sajadah yang “baru” itu. Kali ini, sujudnya bukan lagi sekadar gerakan fisik. Ia merasa sedang meletakkan seluruh beban hidupnya di bawah kaki Sang Pencipta.
Dalam sujud yang panjang itu, ia seolah mendengar gema takbir melambat, memberinya kesempatan untuk bersujud dengan penuh penghayatan. Tidak ada lagi suara bising dunia. Hanya ada detak jantungnya yang berbisik, “Ampuni hamba… terima hamba di sujud terakhir ini…”
Pagi harinya, saat fajar Idul Fitri menyingsing, Husein pergi ke lapangan untuk shalat Ied. Ia tidak memakai mukena baru, tidak memakai baju baru, tidak punya mobil-mobilan yang ada lampunya (referensi dari cerita sebelumnya). Ia hanya membawa sajadah tua berwarna hijau lumut, yang nampak lebih bersih, lebih wangi, dan lebih bercahaya. Nampak seperti “baru” lagi.
Husein bersujud di lapangan itu. Ia merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit namun bermakna: bahwa perayaan sesungguhnya bukan tentang apa yang kita miliki di dunia, melainkan tentang apa yang kita miliki di hati nurani. Jangan sampai kita menjadi orang yang hafal lokasi rak sandal di masjid, namun buta arah menuju jalan pulang kepada-Nya. Dan… jangan sampai kita menjadi orang yang hafal lagu takbiran, namun lupa bagaimana cara bersujud dengan penuh penghayatan.
“Fitrah yang sesungguhnya bukan tentang mengganti baju lama dengan baju baru, melainkan tentang mengganti sujud palsu dengan sujud yang tulus. Janganlah merasa rendah karena pakaian yang lusuh, sebab sajadah yang berbau tanah namun dipenuhi tangis tobat, jauh lebih dicintai langit daripada sajadah sutra yang dipenuhi kesombongan.”
(Mohon maaf , cerita ini fiktif belaka. Kesamaan nama dan tempat adalah faktor ketidaksengajaan, hanya sebagai penambah kesan dalam cerita)Â
