Sri berdiri di pojok dekat rak bunga. Dia merenung di sana membayangkan ayah dan ibunya. Setiap kali termenung, Sri selalu mengingat waktu-waktu saat bersama ayah dan ibunya. Tak jarang ia menangis tersedu karena merindukan mereka berdua.
Sri hari ini sendirian menghadapi dunia menjadi anak yatim piatu. Hal itu memang tidak mudah, apalagi jika hanya mengandalkan belas kasihan orang lain. Sri hidup bersama bibi dan pamannya setelah ayah dan ibunya meninggal.
Bibinya memang baik sekali, tapi kehidupan memaksa Sri untuk mengerti segalanya. Bibinya dan pamannya menghidupi 3 orang anaknya, ditambah Sri yang dititipkan oleh orang tuanya dulu kepada bibinya. Bibinya berjualan makanan keliling, jika bulan ramadan seperti ini bibinya sering menjajakan sop buah, gorengan, dan lauk pauk. Ia biasa mangkal di dekat joglo angkringan di alun-alun.
Sri percaya bahwa dia memang terlahir menjadi perempuan kuat. Orangtuanya meninggal di kendaraan umum saat akan pergi ke air terjun menuruti permintaan Sri waktu itu. Waktu itu, Sri ingin sekali pergi ke curug landung di Kuningan. Nahas, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hebat hingga membuat kedua orang tua Sri kritis dan mereka meninggal saat dalam perawatan di Rumah Sakit.
Sedangkan Sri mengalami luka ringan saja waktu itu, dan dia adalah salah satu orang yang selamat. Sri harus melanjutkan hidup bersama bibi dan pamannya. Untuk biaya hidup yang tak ingin merepotkan paman dan bibinya, hari ini sri bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah rumah makan terkenal di Ciamis.
Bulan ramadan ini Sri sering mendapatkan uang lebih dari gajinya seperti biasa. Tapi tentu tensi pekerjaan makin tinggi dan sulit istirahat. Bosnya mengerti betul kalau bulan ramadan seperti ini banyak yang booking tempat. Orang silih berganti berdatangan, menu harus diperiapkan lengkap sedemikian rupa, dan tempat harus ditata lebih rapi.
Seperti biasa, dari tahun ke tahun setiap bulan ramadan, orderan akan semakin menumpuk jauh lebih banyak daripada hari sebelumnya. Karena Ciamis adalah kota kecil, Bos pemilik rumah makan tempat Sri bekerja punya strategi bisnis yang baik. Ia membuat sebuah rumah makan yang instagramable, dengan menyuguhkan pemandangan yang ciamik, desain yang menarik, dan dijaga kebersihannya. Pokoknya banyak memikat pelanggan untuk melaksanakan buka bersama.
Sebelum ramadan datang, sebenarnya rumah makan ini sering didatangi orang untuk menjadwalkan banyak pertemuan pekerjaan. Sekarang rumah makan itu lebih sibuk lagi, karena menerima reservasi buka bersama. Crew yang lain mulai sibuk, Namun Sri masih termenung di sudut itu belum berubah.
Setelah melaksanakan salat ashar seperti ini, ia biasanya menyapu dan mempersiapkan tempat yang sudah direservasi. Tugas Sri saat ramadan bertambah, ia harus melakukan konfirmasi terhadap pemesan dan pelanggan yang reservasi. Tugasnya memang jadi banyak, tapi ia selalu bersemangat.
Di kehidupan yang hanya sekali ini, ia mencurahkan dirinya di sana. Di tempat yang menghidupi dirinya, di tempat yang membangkitkan harga dirinya. Ia selalu bersemangat menghadapi hari. Dari sanalah ia membantu bibinya untuk membeli kebutuhan dasar di rumah.
Sri memang bukan anak bibinya, tapi ia sendiri berkomitmen untuk membantu biaya listrik, menambah uang dapur, dan menambah hal-hal lain yang Sri bisa. Selama Sri bekerja menurutny ia akan membantu bibi dan paman untuk memenuhi kebutuhan rumah ini.
Bibinya selalu menolak, tapi jika Sri memaksa, uang yang selama ini sering berikan selalu ditabung di tabungan khususnya. Katanya jaga-jaga kalau Sri ada apa-apa bisa ambil dari uang tabungan itu.
Jelang berbuka tiba, Sri mulai sibuk melayani sana sini. Mencatat pelanggan, mengatur nomor kursi, memastikan menu dan porsi yang benar. Setelah waktu berbuka tiba, Sri tidak selalu langsung makan karena pasti tidak nyaman. Ia hanya meminum kolak kolang kaling kesukaannya itu.
Setelah salat magrib di ruangan karyawan, Sri kembali bekerja. Setelah pelanggan pulang ia dan karyawan lain mulai mengambil piring dan gelas kotor. Kadang Sri menjadi juru foto, mengelap meja bekas pelanggan, menyapu bekas makanan yang terceceran. Pokoknya hari itu ia menjadi operator lapangan. Memang tugas Sri selama ini menjadi pelayan di rumah makan itu, tapi bosnya percaya betul bahwa Sri adalah perempuan yang multitasking.
Bosnya tidak berencana merekrut karyawan baru di ramadan kali ini. Karena memang kejadian hectic seperti ini akan terjadi pada saat ramadan saja. Bos mempercayakan banyak hal pada Sri.
Hari ke dua puluh ramadan ini, dua puluh kali pula Sri meneteskan air mata setiap kali membereskan bekas makan pelanggan. Sebagai seorang pejuang yang dulu hidup bersama ayah dan ibu yang mati-matian mencari kehidupan, Sri jadi banyak mengerti tentang banyak hal. Sekarang Sri punya pekerjaan nyaman dan memiliki penghasilan yang cukup untuk membeli banyak keinginan yang pernah ia pendam semasa kecil.
Tapi alasan menetesnya air mata Sri bukan karena lelah bekerja dan bentakan atasannya. Melainkan terlalu banyak kenangan dan memori yang menguap tentang ayah dan ibunya. Saat membereskan bekas makan pelanggan, ia tiba-tiba ingat nasihat ibunya.
“Habiskan ya nasinya, kalau tak habis dan sisanya dibuang, dia bisa nangis lho.”
Sekarang Sri bisa melihat dengan nyata nasihat ibunya. Ia ingat betul bahwa kehidupannya yang pas pasan dulu mencetak Sri yang penuh empati. Ia meratapi diri yang mencari makan dengan cara bekerja ditempat yang membuang-buang makanan.
“Padahal aku bersikeras untuk ayam ini.” Suara hati Sri yang lirih tak terdengar oleh orang lain.
Hampir setiap hari menuangkan nasi dan lauk sisa ke dalam tong sampah bekas makanan pelanggan. Bahkan ada yang hanya menyentuhnya sedikit, atau ada yang tidak dimakan sama sekali. “Bu, ternyata aku yang nangis ya sekarang, bukan nasinya.” Kata Sri tak sengaja keluar dari mulutnya.
Apalagi di ramadan seperti sekarang, orang-orang banyak yang melakukan buka bersama dan memesan banyak makanan sekaligus. Kadang saat tidak habis semua, mereka akan meninggalkan makanan begitu saja. Mereka mungkin dari kalangan orang berada dan tidak akan membungkus makanan jika tidak habis.
Sri jadi mengulas kembali masa lalu dan mengingat kembali ada kata-kata ayahnya yang sering menguatkannya hingga hari ini. Kata ayahnya, ia pernah mendengar nasihat dari seseorang. Puasa itu belajar menahan diri, mensyukuri keterbatasan dan kesederhanaan.
Tapi orang-orang di zaman sekarang menyambut puasa ini justru sebagai perayaan yang berlebihan. Mereka melakukan buka puasa bersama, melalaikan waktu salat dan mengabaikan hal-hal kecil, seperti membuang makanan. Mungkin bagi mereka itu adalah hal yang sepele.
Tapi bagi pekerja seperti Sri, hal itu sangat menyakitkan. Sri sering menyaksikan mereka memiliki pakaian seragam yang mungkin kata orang-orang itu outfit namanya. Mereka sengaja menentukan warna yang senada supaya memberi tanda bahwa itu adalah teman-teman bukbernya.
Sri sering menjadi pengarah gaya yang sekaligus juru foto. Lagi-lagi sore itu Sri meneteskan air mata mengingat ayah dan ibunya yang bekerja keras untuk dirinya. Hari ini uang Sri cukup untuk makan enak dan beli seragam lebaran. Tapi hari ini ia sendiri yang merayakan kehampaan itu.
“Ayah terima kasih atas segala amanahnya, Sri di sini masih bisa memaknai kalau puasa itu belajar memahami perasaan orang lain yang tidak punya makanan dan uang yang lebih untuk beli baju tiap lebaran.” Kata Sri sambil mengelus dadanya.
“Kata ayah dulu, seteguk air minum dan satu buah kurma saat berbuka akan memberikan kesegaran dan tenaga baru. Dan hal itu sangat indah lebih dari pada apapun.” Ucap Sri dalam hatinya terus bergemuruh membahas kenangan orang tuanya bersama dirinya sendiri.
“Semoga Ayah dan Ibu bahagia di sana, lebih bahagia daripada waktu mengantarku pergi ke Air terjun tempo hari.” Doa Sri tak henti.
