Bagi Budi, grup WhatsApp bertajuk “Alumni SMP So Solid!” adalah sebuah monumen kegagalan tahunan. Setiap kali hilal Ramadan muncul di televisi, Budi sudah bisa meramal masa depan: akan ada ratusan pesan masuk, puluhan stiker lucu, perdebatan sengit tentang menu, yang ujung-ujungnya hanyalah ucapan “Mohon Maaf Lahir Batin” di malam takbiran tanpa satu pun piring yang berdenting.
Semua drama dimulai pada hari ke-10 Ramadan.
Budi: “Guys, tahun ini jangan sampai wacana lagi ya. Ayo, bukber! Aku yang urus administrasinya.”
Seketika, grup yang biasanya hanya berisi pesan forward-an berita hoaks itu meledak.
Santi: “Ikut! Tapi aku mau yang ada AC-nya ya, biar make-up nggak luntur kalau mau foto.” Eko: “AC mah mahal, San. Mending lesehan pinggir sawah, dapet angin sepoi-sepoi gratis!” Doni: “Lesehan banyak nyamuk, Ko. Mending di mall, sekalian bisa cuci mata liat diskon baju lebaran.”
Budi memijat pelipisnya. “Oke, voting ya. Pilih lokasi: A. Mall, B. Lesehan, C. Cafe.”
Hasilnya? Dari 30 anggota grup, 10 pilih A, 10 pilih B, dan 10 sisanya hanya melakukan read tanpa perasaan.
Minggu Kedua: Diplomasi “Share Loc”
Memasuki minggu kedua, perdebatan berpindah ke masalah jarak.
“Mall itu jauh dari rumahku, rek. Bisa habis satu jam di jalan, pas sampai sana sudah imsak,” keluh Rina.
“Ya kamu yang deketin ke sini dong, Rin. Masak kita yang ke sana,” balas Doni.
Diskusi itu berlangsung selama tiga hari tiga malam. Mereka membahas rute jalan tikus, tingkat kemacetan, hingga ketersediaan lahan parkir untuk motor dan mobil. Mereka begitu detail merencanakan perjalanan, seolah-olah sedang menyusun strategi invasi militer, padahal hanya untuk makan ayam goreng.
Budi mencoba menengahi dengan sebuah tawaran final: “Sudah, kita di tengah-tengah saja. Resto ‘Sederhana’ jam 5 sore tanggal 24 Ramadan. Setuju?”
Layar HP-nya dipenuhi jempol biru. Budi pun bernapas lega. Ia segera menelepon pihak resto untuk melakukan booking.
Minggu Ketiga: Badai “Maaf Guys”
H-2 dari waktu yang disepakati, badai itu datang. Badai yang lebih dingin dari es campur manapun.
Santi: “Aduh rek, maaf banget. Tiba-tiba mertuaku datang dari kampung. Kayaknya aku nggak bisa ikut bukber.” Eko: “Aku juga ya, tiba-tiba bos kasih deadline laporan harus beres besok pagi. Padahal pengen banget ketemu kalian.” Doni: “Apalagi aku, motorku lagi masuk bengkel, nggak ada tebengan.”
Satu per satu, jempol biru yang tadinya tegak kini layu. Dari 20 orang yang konfirmasi, tersisa 3 orang: Budi, Rina, dan satu orang lagi yang akunnya sudah tidak aktif tapi tetap dihitung.
Budi akhirnya menelepon resto untuk membatalkan pesanan. “Maaf Pak, nggak jadi. Ternyata temen-temen saya ada halangan… masal.”
Malam Takbiran: Kenyataan yang Pahit
Malam itu, gema takbir membahana. Budi duduk di depan laptopnya, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. HP-nya bergetar hebat.
Doni: (Mengirim foto meja makan penuh opor) “Selamat Lebaran semuanya! Maaf banget kemarin gagal bukber. Tahun depan kita gas lagi ya!” Santi: “Minal Aidin! Iya nih, padahal aku kangen banget. Untung kita tetep ngobrol di sini, jadi serasa bukber beneran di WhatsApp!” Eko: “Iya bener, yang penting silaturahmi di grup tetep jalan. Bukber di WhatsApp aja emang paling praktis, nggak pake macet!”
Budi hanya menatap layar itu dengan senyum kecut. Ia mengetik perlahan: “Iya, kenyang banget bukber di WhatsApp. Sampai-sampai rasa ayam bakarnya berasa di jempol, bukan di lidah.”
Ia kemudian menutup grup tersebut dan keluar menuju teras, memandang langit malam. Ia sadar, mereka bukan kekurangan waktu, tapi kekurangan kemauan untuk benar-benar bertemu.
“Teknologi memang mendekatkan yang jauh, tapi terkadang ia juga membuat kita merasa “sudah cukup” hanya dengan saling sapa di layar. Bukber yang sejati bukan tentang seberapa banyak orang yang membalas chat, tapi tentang siapa yang benar-benar meluangkan waktu untuk hadir. Di akhir hari, pelukan dan jabat tangan langsung tidak akan pernah bisa digantikan oleh emoji jempol mana pun.
