Tubuhku terasa begitu letih. Melakukan perjalanan jauh ketika berpuasa cukup melelahkan juga.
“Buka saja kalau cape,” ucap suamiku menyarankan. Tampak jelas di raut wajahnya ia mengkhawatirkanku.
“Enggak ah.”
Aku menolak dengan alasan tidak mau menambah jumlah utang puasa yang harus diganti di kemudian hari.
Lelaki itu pun mengerti dan pamit untuk beristirahat, “mau rebahan dulu ya,” katanya.
Aku menyimpan dan merapikan pakaian kami ke lemari kecil—lemari yang entah sejak kapan ada di kamar ini. Lalu menyimpan barang bawaan ke meja makan yang ada di area dapur rumah ayah yang lumayan luas.
“Pada kemana, kok rumah sepi?” tanya suamiku ketika aku kembali ke kamar. Mudik ke kampung halaman tanpa sambutan memang agak mengganggu perasaan.
“Maaf ya, mudiknya sepi begini,” ucapku penuh rasa bersalah yang lebih aku tujukan kepada diri sendiri.
“Santai saja,” jawabnya. Memang selama ini ia selalu jauh lebih bijak dalam mentoleransi keadaan.
Dulu, ketika ibu masih ada, rumah pasti sangat ramai. Ketika tahu aku akan pulang, hari-hari sebelumnya ibu pasti akan memberi tahu adik-adik agar bersiap. Berada di rumah dan dilarang bikin jadwal apapun.
“Kakakmu pulang, kumpul di rumah ibu ya! Kita makan bersama.” Itu ucapan yang dikatakan ibu pada adik-adik yang kerap membuat aku merasa benar-benar dirindukan.
Sehari sebelum sampai di kampung, ibu akan menelpon sekadar bertanya, “mau makan sama apa, nanti ibu siapkan.” Atau, “Ibu beli ayam, nau dipepes atau digoreng aja?”
Pilihan yang diberikan ibu semuanya menyenangkan. Aku tetap harus memilih dan menentukan meskipun aku tidak terlalu mempermasalahkan. Asalkan masakan ibu, aku akan selalu suka.
Selama aku di kampung halaman, ibu tidak akan pernah membuat janji dengan siapapun yang membuat ia meninggalkan rumah. Kalaupun ada yang memiliki keperluan, ibu akan memintanya datang sendiri ke rumah.
“Lagi ada anak, ke sini saja ya!” katanya kepada seseorang di ujung telefon.
Dapur menjadi ramai, karena masak bersama. Ibu memasak sebagai koki utama dan kami membantu sebisanya. Mengiris sayur, menggoreng bawang, mencuci piring dan—si bungsu giliran mencicipi makanan.
Kalau hari raya tiba, hari terakhir Ramadan ibu adalah orang yang paling sibuk. Mengelap kaca walaupun masih kinclong, menata kain gorden yang baru saja dicuci dan disetrika. Menyapu halaman berkali-kali lalu memasak menyiapkan hidangan hari raya hingga larut malam. Bahkan dini hari, ibu bangun paling awal. Ia selalu sibuk, demi semuanya siap dan terkendali.
Adapun kami, kami hanya tinggal makan dan memberi bantuan kecil pada ibu.
Lalu kalau sudah waktunya pulang kembali ke kota, seabrek oleh-oleh wajib dibawa. Kalau saya menolak, karena terlalu banyak bawaan, ibu selalu bilang, “masa nggak dibawa. Nanti perlu lho.” Lalu ia pun akan mengemas bawaan dengan berbagai cara, agar semuanya bisa dibawa.
Kini, saat ibu sudah tak ada lagi, rumah rasanya begitu sunyi. Kamar tempat aku tinggal semasa kecil dulu, satu-satunya ruangan yang selalu kujaga bentuk dan tata letaknya sudah berubah total.
Lemari peninggalan ibu sudah tak ada. Kain gorden warna biru laut yang menurut ibu paling pas dipasang di kamarku kini berubah warna.
Aku mendekat ke jendela besar kamar. Lalu menyentuh kain gorden yang warnanya terang benderang itu.
“Hm… Ini terlalu menyilaukan mata,” gumamku yang ternyata sampai di telinga suami.
“Harusnya warna apa?” tanyanya datar.
“Seharusnya tidak perlu diganti. Biarkan tetap pakai gorden ibu,” jawabku. Ada rasa sakit di tenggorokan. Napasku tercekat. Sebulir air hampir meluncur dari sudut mata.
**
“Assalamualaikum…”
Terdengar suara ayah yang baru datang. Aku langsung melompat keluar kamar, begitu pula dengan suamiku, langsung merapikan diri. Mengusap kaus dengan beberapa tepukan di pundak dan merapikan rambutnya.
“Waalaikumsalam…” jawab kami nyaris berbarengan.
Ayah menyambutku dengan pelukan hangat seperti biasanya. Lalu bergantian memeluk suami sebagai anak menantu pertamanya.
“Sudah lama datang?” tanyanya sambil berjalan ke arah kursi ruang tamu.
“Lumayan,” jawabku. Sambil mengikutinya duduk. Di sebelahku, suami ikut duduk berhadapan dengan ayah.
“Dari mana, Yah?” tanya suamiku. Terdengar basa-basi karena sudah kuberi kabar sebelumnya bahwa ayah habis takziyah ke tempat saudara jauh di desa tetangga.
“Habis takziah, ada kerabat meninggal,” katanya. Lalu dilanjutkan dengan cerita panjang tentang kisah kebaikan dan kedekatan ayah dengan orang tersebut. Tak lupa soal peristiwa yang terjadi sebelum almarhum meninggal dunia. Kami hanya mangguk-mangguk menyimak ceritanya.
“Ibu masak apa buat buka?” tanya ayah kemudian.
Aku dan suami saling pandang. Karena memang tidak tahu ada makanan apa hari ini. Datang ke rumah, baru sempat beres-beres barang bawaan dan pakaian—selebihnya sibuk memungut kenangan tentang ibu yang sudah tiada.
Aku mengikuti langkah kaki ayah yang menuju ke dapur. Ayah membuka tudung saji yang tidak berani aku buka sejak datang tadi.
“Eh, gak ada apa-apa ternyata,” sesal ayah. Terdengar jelas di telinga, helaan napas panjang ayah. Raut mukanya tampak kebingungan. Tangannya menggapai ponsel yang ada di atas meja.
“Hallo. Masih di mana? Anak-anak sudah datang sejak tadi.” Meski masih terdengar biasa, aku menangkap nada pertanyaan yang penuh penekanan.
Aku menelan ludah. Kasihan sekali ayahku ini. Pikiran aneh pun muncul: jangan-jangan setiap hari ayah seperti ini. Tak ada makanan saat pulang bepergian. Tak ada makanan menjelang buka puasa.
Aku melirik jam di dinding, sudah pukul setengah enam. Magrib hampir tiba.
Aku berinisiatif mencari bahan makanan di lemari es, bermaksud memasak makanan berbuka. Tubuh letihku tidak terasa lagi. Rasa canggung membuka kulkas “milik orang lain” pun hilang seketika.
Ya, setelah ayah menikah lagi, kondisi rumah memang sudah tidak sama lagi. Banyak barang baru dan hampir menghilangkan jejak ibu. Termasuk lemari es ini, rasanya aku terlalu lancang membuka dan mencari sesuatu di dalamnya.
Satu-satunya yang masih terjaga adalah kamar masa kecilku. Itupun, gordennya berubah warna hari ini. Jujur, aku kurang suka.
Aku memasak telur dadar dan membuat sambal secepat mungkin. Hatiku menangis, hari-hari terakhir puasa dan pulang kampung masih harus memasak dalam keadaan lelah karena perjalanan jauh menggunakan sepeda motor.
Aku menangis bukan karena mengiris bawang. Aku terisak bukan karena terkena sayatan pisau. Namun lebih dari itu ada luka yang teramat dalam dan rindu yang tak pernah sembuh kepada ibu.
Hidangan sederhana selesai. Tepat saat azan magrib berkumandang, ibu sambungku sampai dengan adik tiriku—seorang anak perempuan yang masih berusia 10 tahun. Membawa banyak jinjingan kantong kresek yang nyaris sama penuhnya.
Banyak sekali belanjaannya, pikirku.
Bergegaslah mereka mencuci tangan dan duduk di meja makan. Menyantap masakan yang baru saja aku buat.
“Dari mana, Bu? “ tanyaku.
“Habis belanja baju lebaran dari kota,” jawabnya di tengah kunyahan yang lahap—tampak sekali kelaparan.
**
Malam hari aku menangis sejadinya dalam pelukan suami. Berkali-kali aku meminta maaf karena momen buka terakhir harus seperti ini. Berkali-kali juga aku menyampaikan penyesalan: mengapa tidak membeli makanan buka di jalan biar kami bisa makan buka dengan hidangan yang lebih pantas.
Namun ucapan suami kembali menyadarkan, “sudahlah, bawanya juga bakalan susah. Bawa pakaian dan oleh-oleh saja repot kan…? yang kita pikirkan tadi kan hanya ingin cepat sampai dan istirahat,” katanya.
“Tapi kita kan jadinya kayak gini… Kamu makan hanya sama telur dadar dan kerupuk,” keluhku.
Tiba-tiba suami menghela napas panjang. “Maaf sayang. Maafkan aku belum bisa membelikan kamu mobil.”
Suaranya terdengar parau. Rasa bersalahku menjadi-jadi. Lalu aku berhambur memeluknya.
“Gak apa-apa. Sangat gak apa-apa. Aku yang berterima kasih karena kamu sudah begitu mengerti keadaan di sini.” Aku tidak mampu menahan isak tangis hingga bahuku berguncang.
“Sudahlah…” ucapnya lembut seraya mengelus rambutku. “Yang sudah pergi gak bisa kembali lagi. Kamu hanya harus belajar berdamai dengan keadaan. Adapun ibu sambungmu, percayalah ia tidak pernah berniat untuk berbuat sesuatu yang menyinggungmu. Mungkin komunikasi dan caranya saja yang jauh berbeda dengan yang dilakukan ibu. Termasuk kejadian tadi, seperti halnya kita yang ingin segera sampai di rumah, maka ibu pun gak sempat beli makanan buat buka di jalan. Ingat, jangan hanya seseorang berbeda dari kita, lantas ia dianggap salah besar.”
Apa yang dikatakan suamiku benar. Ibu sambungku pergi ke kota tidak salah, memang ada perlu cari baju. Ibuku yang tiba-tiba langsung ikut makan, tidak salah. Mungkin begitu caranya menghormati hidangan dan desakan rasa lapar saat buka puasa.
Tangisku perlahan reda. Mungkin memang apa yang aku rasakan hanya karena aku terlalu baper dan belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran orang baru sebagai pendamping ayah di rumah. Namun gema takbir yang terdengar dari pengeras suara masjid begitu memilukan.
Tangisku kembali pecah. Lagi-lagi besok aku harus merasakan lebaran tanpa ibu.
