Malam ganjil, malam ke-25 Ramadan. Langit di atas Masjid Al-Kautsar tampak cerah, dipenuhi bintang-bintang yang seolah ikut mengawasi perburuan Lailatul Qadar. Di dalam masjid, ribuan jamaah tertunduk khusyuk, melantunkan doa dengan penuh air mata. Suasananya begitu syahdu, begitu magis.
Namun, di pelataran parkir masjid, suasana magis itu berubah menjadi kekacauan yang tak bersuara. Ribuan sandal berjejalan di ubin yang dingin, membentuk samudra alas kaki yang tak berujung. Ada sandal jepit Swallow biru yang legendaris, sandal gunung kulit yang gagah, hingga sandal jepit Bata yang tampak lelah.
Di tengah-tengah kekacauan itu, berdirilah Aris.
Aris bukan jamaah biasa. Ia adalah Ketua Divisi Keamanan Masjid (DKM), sebuah jabatan mentereng yang tugas utamanya adalah memastikan sandal para jamaah tidak “hijrah” tanpa izin pemiliknya. Ia berdiri tegak dengan seragam batik DKM yang kusam, radio panggil (handy talkie) di tangan, dan sorot mata setajam elang yang sedang memburu mangsa.
Malam ini, firasat Aris buruk. Ia mencium aroma belerang… aroma krisis.
“Aris! Crisis! Krisis di Sektor C!” teriak rekannya, Budi, melalui radio panggil. Suaranya panik, terputus-putus.
Aris segera berlari menuju Sektor C, pelataran parkir di samping masjid. Di sana, seorang kakek tua sedang berdiri di atas satu kaki, wajahnya pucat pasi.
“Cucu… cucuku… sandal jepit Swallow biru… yang baru kubeli kemarin… hilang!” erang sang kakek, air mata menetes di pipinya yang keriput.
Aris menatap kakek itu dengan iba. Hilangnya sandal jepit Swallow biru di malam ganjil adalah tragedi nasional. Itu bukan sekadar sandal; itu adalah alas kaki sejuta umat, simbol kesederhanaan, dan target utama para pencuri alas kaki yang tak punya hati.
“Tenang, Mbah. Tim Investigasi Sandal DKM sedang bekerja,” kata Aris dengan nada wibawa, mencoba menenangkan kakek tua itu.
Aris segera mengeluarkan radio panggilnya. “Tim Investigasi! Krisis di Sektor C! Sandal jepit Swallow biru hilang! Segera lakukan pelacakan! Lacak jejak kaki! Cari sandal yang… tertukar!”
Tim Investigasi DKM—yang terdiri dari dua pemuda masjid yang masih mengantuk—segera bergerak. Mereka mulai memeriksa jejak kaki di atas ubin kotor, mencari sandal jepit Swallow biru yang legendaris di antara ribuan sandal yang berjejalan.
Aris sendiri mulai melakukan investigasi. Ia mewawancarai para jamaah yang baru saja keluar dari masjid.
“Apakah Anda melihat sandal jepit Swallow biru? Yang masih baru? Yang… beraroma karet baru?” tanya Aris pada seorang pria yang sedang sibuk mencari sandalnya.
“Sandal jepit Swallow biru? Ah, tadi saya lihat seorang pemuda… yang terburu-buru keluar… dan mengenakan sandal jepit Swallow biru yang masih baru… dan… beraroma karet baru!” kata pria itu, matanya berkilat penuh kemenangan.
Aris segera berlari menuju gerbang masjid. Ia melihat seorang pemuda sedang berlari terburu-buru menuju jalan raya. Di kakinya, terlihat sandal jepit Swallow biru yang masih baru… dan beraroma karet baru!
“Hore! Tim Investigasi! Target ditemukan! Target ditemukan di gerbang masjid! Sandal jepit Swallow biru sedang ‘hijrah’ ke jalan raya!” teriak Aris melalui radio panggil.
Tim Investigasi segera mengejar pemuda itu. Mereka berhasil menangkapnya di tengah jalan raya yang ramai.
“Serahkan sandal itu! Sandal itu milik Mbah Darmo! Sandal jepit Swallow biru yang baru dibelinya kemarin!” teriak Budi, salah satu anggota Tim Investigasi.
Pemuda itu terkejut. “Sandal jepit Swallow biru? Ah, ini… sandal jepit Swallow biru saya… yang baru saya beli kemarin… di warung Pak Haji!”
Aris menatap pemuda itu dengan tajam. “Lacak jejak kaki! Cari sandal jepit Swallow biru yang tertukar! Cari sandal jepit Swallow biru yang… tertukar di Masjid Al-Kautsar!”
Pemuda itu terdiam. Ia melihat ke kakinya. Di sana, terlihat sandal jepit Swallow biru yang masih baru… dan beraroma karet baru! Ia melihat jejak kaki di ubin yang dingin. Di sana, terlihat jejak kaki yang… tertukar!
“Duh! Sandal jepit Swallow biru saya… tertukar! Tertukar dengan sandal jepit Swallow biru Mbah Darmo! Yang baru dibelinya kemarin… di Masjid Al-Kautsar!” erang pemuda itu, wajahnya pucat pasi.
Aris tersenyum puas. Misteri hilangnya sandal jepit Swallow biru berhasil dipecahkan! Sandal jepit Swallow biru milik Mbah Darmo tertukar dengan sandal jepit Swallow biru milik pemuda itu. Tertukar karena kekacauan yang tak bersuara di Masjid Al-Kautsar.
“Tragedi terbesar manusia bukan saat ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, melainkan saat ia sibuk mengejar ‘keberkahan’ duniawi—baik di masjid maupun di luar masjid—hingga lupa bahwa ada satu ‘sandal’ di mana Tuhan sedang membagikan ‘keberkahan’ yang hakiki. Jangan sampai kita menjadi orang yang hafal lokasi rak sandal di masjid, namun buta arah menuju jalan pulang kepada-Nya. Dan… jangan sampai kita menjadi orang yang… tertukar sandalnya di Masjid Al-Kautsar!”
