Secara administratif, warung itu bernama “Warung Makan Bu Minah”. Sebuah papan kayu kecil yang terpaku di pohon mangga depan gang menjadi buktinya. Namun, selama tiga puluh hari di bulan Ramadan, identitas asli warung itu seolah memuap, digantikan oleh sebuah nama sandi yang hanya dipahami oleh mereka yang imannya sedang “libur”: Warung Godin.
Siang itu, jalanan desa nampak lengang. Toko-toko kelontong tutup separuh, dan suara tadarus dari pengeras suara masjid sayup-sayup memenuhi udara yang gerah. Namun, jika kau jeli memperhatikan sebuah gang buntu di sudut pasar, kau akan melihat sebuah spanduk putih bertuliskan “Sedia Soto Ayam & Nasi Rames” yang terpasang tidak wajar. Spanduk itu menjuntai rendah hingga hanya menyisakan celah sekitar tiga puluh sentimeter dari tanah.
Dari celah itu, terlihat barisan kaki manusia yang memakai sandal jepit, sepatu kets kotor, hingga pantofel mengkilap. Mereka semua diam, tak bergerak, seolah-olah sedang melakukan meditasi massal. Padahal, di balik kain spanduk itu, sebuah “konspirasi kuliner” tengah berlangsung dengan sangat khusyuk.
Boni menyelinap masuk. Begitu kepalanya melewati batas spanduk, indra penciumannya langsung diserbu aroma yang sangat terlarang: perpaduan antara minyak goreng panas, sambal terasi, dan kepulan uap nasi putih.
“Lengkap, Bu?” tanya Boni pelan, nyaris berbisik.
“Lengkap. Tapi es teh manisnya pakai gelas plastik ya, biar kalau tiba-tiba ada razia Satpol PP, gampang dibuangnya,” jawab Bu Minah tanpa menoleh. Tangannya cekatan menyendokkan sayur nangka ke piring plastik.
Boni mengambil tempat duduk di pojok, di sebelah seorang pria berseragam kurir yang nampak sedang memacu kecepatan makannya seolah sedang dikejar deadline akhirat. Di dalam Warung Godin ini, tidak ada percakapan yang keras. Semua orang makan dalam sunyi yang mencekam. Ada semacam rasa solidaritas yang aneh; mereka saling tahu dosa masing-masing, namun sepakat untuk tidak saling menghakimi.
“Seger ya, Mas?” celetuk Boni pada pria kurir di sebelahnya, sekadar memecah kesunyian.
Pria itu menoleh sebentar, mengusap keringat di lehernya. “Haus banget, Mas. Dari jam tujuh tadi muter-muter nganter paket. Kepala saya sudah keliyengan. Daripada pingsan di jalan, mending saya ‘mampir’ sebentar ke sini.”
Boni mengangguk paham. Ia sendiri punya alasan yang lebih sepele: ia hanya bosan melihat meja makan di rumahnya kosong sejak pagi. Baginya, Warung Godin adalah pelarian dari rasa bosan yang mencekik.
Tiba-tiba, spanduk depan tersingkap agak lebar. Sinar matahari masuk dengan kasar, menyilaukan mata para pelanggan. Semua orang di dalam warung mendadak kaku. Seseorang bahkan hampir tersedak biji cabai. Mereka mengira itu adalah razia.
Ternyata, yang masuk adalah Mbah Jono, pemulung tua yang biasa mangkal di depan pasar. Ia masuk dengan langkah gontai, napasnya memburu. Ia tidak memesan makanan mewah. Ia hanya meminta segelas air putih hangat dan sebungkus nasi polos.
“Mbah, kok godin juga? Sudah tua lho,” canda Boni, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.
Mbah Jono duduk perlahan di bangku panjang. Ia menatap gelas air putihnya dengan tangan gemetar. “Mbah tadi pingsan di depan pasar, Nak. Perut Mbah sudah tidak bisa diajak kompromi sejak tadi malam karena nggak sempat sahur. Mbah harus makan sedikit supaya bisa kerja lagi. Kalau Mbah nggak kerja hari ini, besok istri Mbah nggak bisa makan.”
Warung itu kembali senyap. Kali ini bukan karena takut razia, tapi karena kalimat Mbah Jono. Pria kurir di sebelah Boni meletakkan sendoknya. Boni sendiri mendadak merasa es teh manisnya kehilangan rasa manis.
Mbah Jono memakan nasi polosnya dengan sangat lambat, seolah setiap suapan adalah sebuah beban moral yang berat. “Mbah malu masuk ke sini sebenarnya. Seumur hidup, Mbah paling benci kalau harus batal puasa. Tapi Tuhan mungkin tahu, Mbah sudah nggak punya tenaga lagi. Mbah makan di sini supaya orang-orang di luar nggak melihat kelemahan Mbah. Mbah ingin tetap menghormati mereka yang sedang berjuang di luar sana.”
Boni terdiam. Ia melihat sekeliling warung. Di sini, di balik spanduk soto yang kumuh, ia melihat dua jenis manusia. Ada yang makan karena butuh seperti Mbah Jono dan pria kurir itu, dan ada yang makan karena manja seperti dirinya.
Warung Godin ini, yang awalnya nampak seperti pelarian yang menyenangkan, tiba-tiba terasa seperti penjara bagi nuraninya. Spanduk yang menutupi warung itu bukan hanya menutupi mereka dari pandangan warga, tapi juga menutupi rasa malu yang seharusnya mereka rasakan.
“Bu, berapa total semuanya? Sama punya Mbah Jono dan Mas kurir ini juga,” tanya Boni tiba-tiba.
“Lho, kamu mau bayarin?” tanya Bu Minah heran.
“Iya, Bu. Sekalian bungkuskan satu nasi rames yang paling lengkap buat Mbah Jono dibawa pulang,” jawab Boni. Ia berdiri, meski makanannya belum habis. Nafsu makannya sudah menguap, terbang bersama asap rokok yang memenuhi ruangan itu.
Boni melangkah keluar, menunduk melewati celah spanduk. Cahaya matahari yang terik kembali menyapa wajahnya. Ia melihat ke arah masjid, tempat orang-orang sedang bersabar menunggu waktu berbuka. Ia menyadari satu hal: kenyang yang ia dapatkan di dalam Warung Godin tadi hanyalah ilusi. Perutnya mungkin terisi, tapi ada ruang kosong di hatinya yang tidak bisa dikenyangkan oleh nasi rames mana pun.
Ia berjalan pulang dengan batin yang bergejolak. Besok, ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan ada lagi “kaki-kaki tanpa identitas” miliknya di bawah spanduk itu. Karena puasa sejati bukan tentang seberapa kuat kau menahan lapar, tapi seberapa jujur kau mengakui bahwa kemenangan tanpa perjuangan hanyalah sebuah kebohongan yang kau telan sendiri.
“Warung Godin mungkin bisa melindungimu dari terik matahari dan cemooh tetangga, tapi ia tak pernah bisa melindungimu dari suara hati yang berteriak saat kau menelan kemudahan di tengah orang-orang yang memilih untuk bertahan.”

Ya ampun, sampai ke hati bu tulisannya. Terima kasih telah menginspirasi.