Bagi Bu Ratna, menahan lapar dari fajar hingga magrib adalah perkara mudah. Ia sanggup tidak menyentuh nasi uduk langganannya, ia kuat tidak meminum es teh manis yang menggoda di siang bolong, bahkan aroma ayam goreng tetangga pun tak sanggup menggoyahkan imannya. Namun, ada satu dahaga yang jauh lebih menyiksa bagi Bu Ratna daripada sekadar kerongkongan yang kering: dahaga akan informasi panas yang belum terkonfirmasi.
Sore itu, sekitar pukul empat, saat energi warga kampung sedang berada di titik terendah, Bu Ratna sudah duduk manis di teras rumah Jeng Lastri. Mereka tidak sedang bertadarus bersama, meskipun di pangkuan mereka tersampir mukena yang baru saja dipakai untuk shalat Ashar. Di antara mereka, ada sebuah “hidangan” tak kasat mata yang aromanya jauh lebih menyengat daripada kolak pisang yang sedang dimasak di dapur.
“Jeng, sudah dengar belum? Anak Pak RT yang baru pulang dari kota itu, masa tiap malam ada mobil mewah berbeda yang antar jemput sampai depan gang?” bisik Bu Ratna dengan mata berbinar. Kelopak matanya yang kuyu karena kurang tidur mendadak segar benderang, seolah baru saja menemukan oase di tengah gurun Sahara.
Jeng Lastri menggeser duduknya, mendekat hingga jarak mereka hanya seujung kuku. Semangat puasanya yang tadi sempat kendor kini pulih seratus persen. “Ah, masa sih Bu? Padahal penampilannya kalau ke masjid alim sekali ya? Pakai kerudung panjang, bicaranya sopan. Wah, jangan-jangan kerjanya yang nggak bener ya?”
Lidah mereka mulai menari dengan lincah. Dari urusan anak Pak RT, percakapan merembet ke menantu Bu Haji yang katanya boros karena setiap hari kurir paket datang ke rumahnya, hingga ke masalah cicilan motor tukang sayur yang kabarnya sudah nunggak tiga bulan. Mereka sedang berpesta pora di tengah suasana kampung yang sepi. Tanpa sadar, setiap kalimat tajam yang keluar dari bibir mereka yang putih karena puasa itu justru sedang “mengunyah” habis kehormatan orang-orang yang mereka bicarakan.
“Duh, puasa-puasa gini kok ya ada orang kelakuannya nggak tahu malu begitu ya, Jeng? Harusnya kan jaga martabat keluarga,” pungkas Bu Ratna sambil mengelus dada dan beristighfar berkali-kali, merasa dirinya berada di kasta moral yang jauh lebih tinggi karena tidak melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang sedang ia kuliti aibnya.
Tiba-tiba, Ustadz Mansur lewat di depan rumah setelah kembali dari masjid. Ia berhenti sejenak melihat kerumunan kecil yang tampak sangat serius itu. Saat menyapa mereka, Bu Ratna dengan sigap mengubah posisi duduk dan tersenyum sangat santun. “Lagi nunggu buka, Bu Ratna? Bu Lastri? Tadi saya dengar suaranya semangat sekali, lagi diskusi soal zakat ya?” tanya Ustadz ramah.
“Iya, Pak Ustadz. Lagi ngabuburit sambil menjaga lisan, biar puasanya sempurna,” jawab Bu Ratna cepat, dibarengi tawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan.
Ustadz Mansur tersenyum tipis, sorot matanya yang teduh seolah mampu menembus kerongkongan mereka. “Alhamdulillah kalau begitu. Ingat nggih Bu, Rasulullah pernah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa tapi tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan haus. Sayang sekali kalau perut sudah kosong dari makanan halal, tapi jiwa kita malah kenyang karena memakan bangkai saudara sendiri lewat gunjingan. Bau bangkainya susah hilang meski sudah pakai parfum paling mahal saat Lebaran nanti.”
Seketika, teras itu menjadi sunyi senyap, lebih dingin dari bongkahan es batu. Bu Ratna dan Jeng Lastri terdiam membatu. Perumpamaan “memakan bangkai saudara sendiri” yang baru saja diucapkan Ustadz terasa begitu nyata, membuat mereka tiba-tiba merasa mual.
Saat adzan Magrib akhirnya berkumandang, Bu Ratna segera menenggak segelas es sirup merah yang nampak sangat menyegarkan. Namun, anehnya, tenggorokannya tetap terasa serak dan gatal. Setiap suapan gorengan hangat yang ia makan terasa hambar, seolah lidahnya telah kehilangan kemampuan untuk mengecap nikmat. Ia melihat ke cermin di ruang makan dan melihat bayangan seorang wanita yang perutnya penuh dengan makanan halal, namun di sela-sela giginya terselip sisa-sisa “bangkai” yang ia kunyah sepanjang sore tadi. Ia telah memenangkan pertarungan melawan nasi, tapi kalah telak dalam pertempuran melawan lidahnya sendiri.
Â
“Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, tapi memindahkan kendali diri dari nafsu ke hati nurani. Jangan sampai kita sanggup menahan godaan sepiring nasi yang halal, namun tak kuasa menahan godaan satu kalimat fitnah yang haram.”
(Mphon maaf cerita ini hanya fiktif belaka , adapun kesamaan nama tokoh dan tempat adalah unsur ketidaksengajaan untuk menambah keseruan cerita)
