Bulan Ramadan ini adalah bulan penuh keberkahan. Banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala yang banyak di bulan suci ini. Beberapa orang bahkan menyengaja untuk mengagendakan ibadah yang sudah mereka susun selama 30 Hari penuh.
Ada yang rutin membagikan takjil, ada yang target tarawih dan tahajud setiap malam, ada yang membaca Al-quran dengan target juz setiap hari, dan ada yang melakukan banyak kegiatan sambil memprioritaskan ibadah di dalamnya. Bulan Ramadan adalah bulan yang ditunggu-tunggu dan dimimpikan oleh setiap muslim di dunia. Setiap tahun orang-orang selalu berharap untuk segera bertemu dan bisa bertemu kembali di Ramadan berikutnya.
Sederhana saja, harapan itu tumbuh karena bulan Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat. Jadi, orang mengharapkan pahala yang berkali-kali lipat, karena bisa menemukan kasih sayang Tuhan di dalamnya. Umat muslim di dunia mempercayai hal itu, termasuk perempuan di sebuah desa bernama Nadia.
Nadia adalah seorang perempuan saliha. Ia tinggal di rumah sederhana bersama suami dan anaknya. Nadia tidak pernah meminta sesuatu kepada suaminya, setelah nafkahnya untuk menghidupi keluarga tunai, Nadia jarang bertanya lagi tentang perolehan uang yang bisa suaminya berikan hari itu padanya.

Nadia memang sangat baik, perempuan yang tidak banyak menuntut. Bahkan hingga hari ini ia selalu berpakaian sederhana, memiliki gaya hidup yang begitu-begitu saja, tidak berubah. Tak berubah, bahkan sejak pertama pertama kali Indra mengenalnya.
Ramadan tahun ini adalah Ramadan ke lima yang masih dipenuhi pembelajaran bagi Nadia. Indra yang tak kunjung berubah, Indra tak kunjung menjadikan Ramadan sebagai bulan penuh kemenangan seperti yang orang lain harapkan. Indra bahkan mungkin tak akan Salat Shubuh jika istrinya tidak membangunkannya dari tidur yang lelap.
Nadia selalu berdoa supaya suaminya itu berubah sedikit demi sedikit. Sifat dan sikapnya memang lembut, tapi Nadia masih lelah mengingatkannya untuk Salat dan mengingatkan Indra dalm banyak hal. Seperti cerita Ramadan tahun ini, ia punya kebiasaan yang masih sama seperti tahun kemarin, pergu bekerja setengah hari.
Setelah pulang kerja, Indra selalu tidur sampai sore hari, bahkan saat berbuka puasa tiba. Salat pun harus tetap Nadia ingatkan, kalau tidak diingatkan entah bagaimana caranya Indra menunaikan salat. Nadia masih sangat percaya pada kekuatan doa, dan selalu afirmasi pada diri sendiri bahwa doa adalah segalanya.
Ketika keinginan seseorang untuk beribadah sudah datang dari hati, lain lagi dengan suaminya. Indra harus diingatkan dan setengah dipaksa, namun Nadia pun tak pernah berlebihan. Ia masih dengan sangat halus mengingatkan dan membicarakan baik buruknya cara mereka beribadah.
“Mas, sahur yuk. Kamu mau puasa kan hari ini?”
Memang Indra tidak melakukan hal yang besar dan mencoreng nama baik keluarga. Tapi kepribadiannya yang masih jauh dari standar kepemimpinan laki-laki idaman Nadia membuat Nadia masih harus banyak berdoa. Nadia memang berharap bahwa ibadah dirinya dan suaminya bisa lebih lekat dan lebih dekat dengan Tuhan.
Bulan Ramadan ini Nadia masih harus effort bangunkan sahur. Nadia masih sangat harus mengingatkan soal salat, karena setiap tahun di bulan Ramadan, Indra selalu menghabiskan waktu dengan cara tidur seharian. Nadia selalu berdoa untuk Indra, supaya ketika suaminya itu jauh darinya, Indra tetap bisa mendisiplinkan diri.
Nadia selalu menitipkan Indra dalam doanya pada Tuhan. Indra tidak sadar, betapa banyak doa yang Nadia panjatkan. Sebelum Ramadan ini datang, mertuanya juga tahu bahwa Nadia adalah perempuan yang suka puasa Senin Kamis.
Ia hanya berusaha beribadah untuk memanjatkan doa demi kebaikan keluarganya, dia ingin keluarganya semakin baik dari sisi agama dan ekonomi. Dipermudah segalanya, dilindungi oleh Tuhan, dan diberi kesehatan. Nadia tak pernah putus berdoa, tapi hingga lima tahun ini Indra belum banyak berubah.
Nadia sempat bertanya di satu doa sepertiga malamnya, “Ya Tuhan apa yang akan engkau tunjukkan di depan nanti? betapa seperti jauhnya kami dariMu, betapa seperti lalainya kami di hadapanMu Ya Allah. Aku menitipkan suamiku dan keluargaku dalam doa. Semoga dalam hela nafas yang dia embuskan, dia akan selalu bersyukur dan mengingatMu.”
Ramadan kali ini Indra belum benar-benar berubah, seumur hidup Indra dengan Nadia dalam pernikahan memang tak benar-benar menunjukan sisi spiritualnya. Nadia bahkan tak pernah melihat Indra benar-benar membaca Alquran, kalau bukan surah Yaasiin sesekali. Dii bulan suci sekalipun, Indra berangkat ke Masjid gara-gara ditegur Pak RT. Keluarga Pak Indra dianggap sangat sibuk sampai-sampai tidak terlihat di Masjid pada saat tarawih.
Shubuh pun berangkat karena tidak enak hati dengan tetangga. Pokoknya alasan-alasan yang membuat dia beribadah masih seputar ke duniawian, bukan karena tidak enak dengan Tuhan. Nadia selalu berdoa semoga Ramadhan tahun ini menjadi perubahan yang baik untuk Indra dan keluarganya.
Semoga Indra lebih bersemangat beribadah, Indra lebih semangat menjemput rezeki untuk keluarganya. Doa Nadia yang paling utama adalah permintaan yang spesifik untuk Indra yang lebih semangat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, lebih berbenah diri. Nadia tak pernah lelah berdoa untuk keluarganya.
