Di pinggir sebuah hutan tua, hiduplah seekor burung pipit kecil bernama Pip. Pip tidak memiliki paruh yang tajam seperti elang atau bulu yang indah seperti merak. Namun, Pip memiliki cita-cita yang tulus: membangun sebuah sarang yang kokoh di atas dahan pohon terkuat agar bisa melindungi unggas-unggas kecil dari ancaman badai.

Kehadiran Pip yang gigih rupanya membuat sekelompok gagak di hutan itu merasa terusik. Mereka iri melihat semangat Pip yang tak pernah padam. Setiap kali Pip terbang mencari ranting, kawanan gagak itu akan menghadangnya, mencemooh, dan melemparkan batu-batu kerikil keras ke arah Pip.
“Burung kecil tak berguna! Sarangmu tidak akan pernah berdiri!” serak pemimpin gagak sambil melempar batu tajam yang mengenai sayap Pip.
Rasa sakit membuat Pip sempat meneteskan air mata. Namun alih-alih membalas mematuk atau melarikan diri sambil menangis, Pip melakukan hal yang tak disangka. Setiap batu yang dijatuhkan kawanan gagak ke tanah, dipungutnya satu per satu dengan paruh kecilnya. Batu-batu itu dibawa pulang ke dahan pohonnya yang sepi.
Batu yang dilempar dengan penuh kebencian itu ada yang kasar, berujung runcing, dan terasa sangat berat bagi tubuh Pip yang mungil. Namun Pip pantang menyerah. Bagi Pip, setiap lemparan adalah hadiah bahan bangunan gratis dari para pembencinya.

Hari berganti bulan. Kawanan gagak tak pernah berhenti melemparkan batu setiap kali melihat Pip. Semakin keras mereka melempar, semakin banyak batu yang Pip kumpulkan dan susun.
Pip mempelajari setiap jenis batu. Kerikil yang paling tajam dijadikannya pasak penyangga di celah-celah dahan. Batu-batu yang pipih disusunya menjadi dinding pelapis tahan angin, dan batu-batu bulat ditata rapi membentuk kubah perlindungan.
Hingga suatu malam, badai terbesar dalam satu dekade menerjang hutan itu. Angin putting beliung menumbangkan pohon-pohon besar dan menerbangkan sarang-sarang kayu milik kawanan gagak hingga hancur berkeping-keping.

Saat fajar tiba dan badai mereda, suasana hutan menjadi tenang namun prihatin. Di atas dahan pohon tertinggi yang tetap berdiri kokoh, tampak sebuah benteng batu yang megah—sebuah sarang istana berdinding tebal yang tak bergeming sedikit pun oleh hantaman angin.
Kawanan gagak berdiri teratur di tanah dengan bulu-bulu basah, menggigil kedinginan tanpa tempat bernaung. Mereka mendongak, memandang terpana ke arah istana batu milik Pip.

Pip terbang turun perlahan, hinggap di dahan terendah, lalu melihat ke arah burung-burung gagak yang dulu selalu melempari dirinya. Dengan suara yang hangat, Pip berkata,
“Naiklah ke atas. Istana batu ini cukup luas untuk melindungi kita semua—terima kasih telah membantuku mengumpulkan batunya.”
