Hujan baru saja berhenti ketika telepon itu berdering.
Jam menunjukkan lewat tengah malam. Di luar jendela, jalan kampung sudah kosong. Lampu-lampu rumah padam satu per satu, menyisakan nyala temaram dari warung yang belum menutup pintunya sepenuhnya. Udara dingin masuk melalui celah-celah ventilasi. Malam tampak biasa, sampai suara dari seberang telepon itu terdengar.
Suara seorang lelaki. Parau. Pelan. Seolah datang dari tempat yang jauh. Ia mengaku membutuhkan pertolongan.
Kalimat itu sederhana. Namun ada sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang. Bukan karena kata-katanya, melainkan cara kata-kata itu diucapkan. Seperti seseorang yang sudah lama menahan penderitaan dan akhirnya menemukan kesempatan untuk berbicara.
Malam adalah wilayah yang aneh bagi manusia.
Pada siang hari, semua tampak jelas. Beton, alat berat, kendaraan proyek, dan para pekerja terlihat sebagaimana adanya. Tetapi ketika malam turun, benda-benda itu berubah menjadi bayangan. Tiang pancang menyerupai sosok yang berdiri diam. Rangka bangunan menjadi siluet hitam yang menyimpan banyak kemungkinan.
Dalam suasana seperti itulah kisah ini berkembang.
Sumber cerita mengarah pada sebuah lokasi proyek yang pernah menjadi bahan pembicaraan warga sekitar. Sebuah pembangunan besar dengan nilai investasi yang tidak kecil. Masyarakat melihat aktivitas keluar masuk truk, alat berat bekerja berbulan-bulan, dan suara mesin yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Namun seperti banyak proyek lain di negeri ini, kabar yang beredar tidak hanya mengenai pembangunan.
Selalu ada cerita sampingan. Cerita yang tumbuh dari warung kopi, ronda malam, dan percakapan para pekerja.
Ada yang mengaku mendengar jeritan. Ada yang melihat sosok berjalan di area proyek saat tak seorang pun berada di sana. Ada pula yang percaya bahwa tanah yang dibangun itu menyimpan sejarah panjang yang tidak seluruhnya diketahui para pendatang.
Tak ada yang bisa memastikan mana fakta dan mana tafsir. Tetapi cerita terus hidup. Ia pindah dari satu mulut ke mulut lain. Menjadi semacam legenda kontemporer.
Di banyak daerah Indonesia, pembangunan besar hampir selalu melahirkan dua narasi.
Narasi pertama adalah narasi kemajuan. Jalan baru berarti akses ekonomi. Gedung baru berarti lapangan kerja. Jembatan baru berarti harapan.
Narasi kedua adalah narasi yang lebih tua. Narasi tentang roh penunggu, tentang tanah yang terusik, tentang tumbal, dan tentang hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan gambar teknik maupun laporan proyek.
Kedua narasi itu sering berjalan berdampingan. Yang satu hidup dalam dokumen resmi. Yang lain hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Ketika seorang pekerja mengalami kecelakaan, masyarakat modern akan menunjuk prosedur keselamatan kerja, kualitas peralatan, atau kelalaian manusia.
Namun sebagian masyarakat lain mungkin bertanya hal berbeda.
Apakah ada sesuatu yang tidak terlihat? Apakah ada pertanda yang diabaikan? Apakah tempat itu meminta sesuatu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar tidak rasional bagi sebagian orang. Tetapi sebagai bagian dari kebudayaan, pertanyaan itu terus hadir. Ia bertahan karena menyentuh wilayah terdalam manusia: rasa takut.
Malam ketika suara itu datang, ketakutan itulah yang perlahan mengambil bentuk. Lelaki tersebut bercerita tentang penderitaan. Tentang peristiwa yang konon terjadi di area proyek. Tentang kematian yang dianggap tidak wajar. Dan tentang keinginan agar kisahnya didengar.
Sulit membedakan kapan sebuah cerita berubah menjadi pengalaman spiritual. Apakah ketika seseorang melihat sesuatu yang tak dapat dijelaskan? Ataukah ketika emosi dan imajinasi bekerja sama menciptakan gambaran yang terasa nyata?
Dalam jurnalisme, pertanyaan semacam itu sering muncul. Wartawan terbiasa mencari data, dokumen, dan kesaksian yang dapat diverifikasi. Tetapi kehidupan masyarakat tidak selalu bergerak dalam wilayah yang bisa diverifikasi. Ada pengalaman batin. Ada ketakutan kolektif. Ada keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dan semua itu membentuk kenyataan sosial.
Ketika warga percaya bahwa sebuah lokasi angker, maka lokasi itu memang menjadi angker dalam pengalaman mereka. Ketika pekerja yakin ada sesuatu yang mengawasi dari kegelapan, rasa takut itu menjadi nyata.
Mungkin bukan bagi kamera. Tetapi nyata bagi manusia yang mengalaminya.
Proyek yang siang hari dipenuhi suara mesin, pada malam hari berubah menjadi lanskap yang berbeda. Rangka besi berdiri seperti hutan. Terpal plastik berkibar tertiup angin. Genangan air memantulkan cahaya bulan.
Di kejauhan terdengar bunyi logam beradu. Mungkin hanya efek suhu yang membuat material memuai. Mungkin hanya hembusan angin. Namun malam memiliki cara sendiri dalam memperbesar kemungkinan.
Setiap bunyi menjadi pertanyaan. Setiap bayangan menjadi dugaan. Setiap kesunyian menjadi ruang bagi cerita-cerita lama untuk kembali hidup. Di situlah kisah-kisah mengenai tumbal proyek menemukan tempatnya.
Bukan semata-mata karena masyarakat percaya pada hal gaib. Melainkan karena proyek besar sering melibatkan risiko besar.
Kecelakaan kerja, konflik lahan, penderitaan manusia, dan kehilangan menjadi bagian dari sejarah pembangunan. Ketika masyarakat tidak menemukan penjelasan yang memuaskan, mereka menciptakan narasi.
Narasi itu menjadi jembatan antara tragedi dan makna. Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia menghadapi kematian. Kita selalu ingin percaya bahwa hidup seseorang memiliki arti. Bahwa kepergian seseorang tidak sia-sia. Bahwa ada alasan di balik penderitaan.
Mitos tentang tumbal sering lahir dari kebutuhan tersebut. Ia memberi penjelasan ketika penjelasan resmi dianggap tidak cukup. Ia menghadirkan makna ketika kenyataan terasa terlalu kejam.
Mungkin karena itu cerita-cerita seperti ini tidak pernah benar-benar hilang. Meskipun teknologi berkembang. Meskipun kamera pengawas dipasang di mana-mana. Meskipun lampu LED menggantikan lampu minyak.
Kisah tentang suara dari tengah malam tetap menemukan pendengarnya. Menjelang dini hari, hujan turun lagi.
Tipis. Hampir tidak terdengar. Suara di telepon itu akhirnya berhenti. Percakapan selesai.
Namun kesan yang ditinggalkannya bertahan lama. Bukan karena adanya bukti tentang dunia lain. Bukan pula karena kemampuan untuk membuktikan sesuatu yang gaib. Melainkan karena kisah itu mengingatkan bahwa pembangunan selalu memiliki sisi manusia.
Di balik beton yang menjulang, ada pekerja yang meninggalkan keluarga setiap pagi. Di balik jalan tol yang mulus, ada keringat yang tertinggal di bawah terik matahari. Di balik proyek bernilai miliaran rupiah, ada mimpi dan kecemasan manusia biasa.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengagumi hasil akhir hingga lupa melihat mereka yang bekerja di baliknya. Dan mungkin itulah sebabnya legenda-legenda semacam ini terus lahir. Mereka, dengan cara yang aneh dan sering kali menakutkan, mencoba mengembalikan perhatian kita kepada manusia.
Kepada mereka yang terlupakan. Kepada mereka yang tak lagi memiliki suara. Kepada mereka yang hanya hidup sebagai cerita yang beredar dari satu malam ke malam berikutnya. Ketika fajar tiba, suara-suara itu menghilang.
Mesin kembali bekerja. Truk kembali datang. Para pekerja kembali mengenakan helm keselamatan. Aktivitas proyek berlangsung sebagaimana biasanya. Namun bagi sebagian orang, selalu ada sisa pertanyaan yang tertinggal dalam udara pagi.
Bagaimana jika suara yang datang tadi malam memang sungguh meminta pertolongan? Bagaimana jika yang dicari bukan pembuktian, melainkan pengakuan bahwa pernah ada seseorang di sana? Dan seperti kebanyakan kisah yang hidup di antara fakta dan kepercayaan, pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah menemukan jawaban pasti.
Ia akan tetap tinggal di antara besi-besi bangunan, di antara gemerisik hujan malam, dan di antara bayangan panjang yang muncul ketika lampu proyek mulai redup.
Di situlah cerita itu terus hidup. Bukan sebagai laporan investigasi. Bukan pula sebagai bukti tentang yang gaib.
Melainkan sebagai kisah manusia yang berusaha memahami ketakutannya sendiri di hadapan malam yang terlalu sunyi.
