Ilustrasi (foto: Social Mode/Unsplash)
Sebuah Kejutan Manis di Kafe Kopi. Sebuah cerita karya Reni Nurhayati
Malam itu, Cika merasa sangat suntuk. Kepalanya terasa penuh. Banyak hal memenuhi rongga pikirannya.
Berkelebat dalam bayangannya. Mulai dari deadline demi deadline yang terus saja berdatangan. Berbagai aturan perusahaan yang memberatkan. Teman satu-satunya tempat bercerita pindah kerja. Yang semuanya bermuara pada satu menurut pemikirannya, “Tidak ada satu orangpun yang memahami.”
Cika bekerja sebagai salah satu desain grafis di perusahaan percetakan terkemuka. Hobinya sejak kecil menggambar yang lalu berkembang menjadi profesi. Banyak yang menyukai desainnya, yang out of the box, menarik, unik dan… sedikit nyeleneh. Dengan gambar-gambar yang “nendang” banyak perusahaan klien yang menyukai karyanya. Hingga perusahaan mitra, produknya laku keras.
Tak ayal, meski ada beberapa desain grafis di perusahaannya, ia yang suka kebanjiran menggambar. Demikianlah… Jika dulu, don’t judge book from the cover. Saat ini, cover are everything. Kemasan memegang peranan penting dalam kesuksesan penjualan.
Dengan kemasan yang menarik, konsumen menjadi lebih tertarik. Meski ada harga yang mesti dibayar, tapi sah-sah saja. Kemasan menaikan nilai jual. Dan ini menjadi tugas Cika. Bagaimana desain yang dibuatnya menjadikan produk biasa menjadi luar biasa. Produk “murah” menjadi mahal dan berkelas.
“Hhhh… Suntuk banget. Jalan-jalan aja dah. Siapa tahu juga bisa dapat inspirasi,” gumam Cika. Motor beat merahnya membelah jalanan malam itu.
Garut terang benderang. Di tengah padatnya aktivitas warga dan pekerjaannya. Di mana banyak orang demikian sibuk di siang hari. Kini jalan-jalan malam menjadi kian diminati. JJM demikian istilahnya. Banyak sudut kota yang bisa dijadikan tempat nongkrong.
Motor melaju dengan kencang. Dalam pekatnya malam, aneka cahaya bersinar. Jalanan kota penuh kerlap kerlip lampu. Dari kendaraan yang lalu lalang, lampu toko-toko, baligo perusahaan rokok yang berjejer rapi, PJU, dari warung Madura 24 jam yang lampunya demikian putih benderang, atau dari minimarket yang seakan gagah merajai kota dalam gelap gulita.
Inilah yang disukai Cika, light in the dark. Lagipula sejak dulu, Garut memang terkenal dengan istilah “Kota Intan”. Cahaya dari rumah-rumah warga, dari kota pada malam hari yang terlihat di kejauhan laksana intan yang berkilauan. Bersinar terang. Semarak.
Pikiran Cika demikian penuh malam itu. Dengan berkendara motor keliling kota, rasa penat di kepalanya sedikit demi sedikit perlahan berkurang. Kegalauan berbaur dengan angin yang menerpa wajahnya. Garut cukup panas saat itu. Lagipula musim kemarau panjang hingga udara terasa kering. Angin malam, tak terasa dingin, tapi segar.
Cika, memang punya cara sendiri untuk healing. Jika galau, ia akan bersatu dengan angin. Naik motor salah satunya lalu diam di tempat yang menenangkan. Cika masih membelah jalanan. Setelah Bundaran Suci, di salah satu sudut Sukaregang, dalam kabel listrik terlihat burung- burung kecil berjejer rapi.
Kendaraan dipelankan. Sambil tetap memegang setir, matanya menatap deretan burung itu. Lucu sekali. Burung-burung itu seakan akur satu sama lain. Berbaris tanpa takut jatuh. Sesekali terlihat matanya yang menutup. Tapi, banyak pula yang masih terbuka terbuka sambil mencicit-cicit. Senandung kecilnya, menjadi harmoni di antara bisingnya kota.
Motor dibelokannya. Sampailah ia di kafe yang sering dikunjunginya. Kafe brand nasional yang menyediakan aneka kopi dengan tampilan dan rasa kekinian. Ada Americano, Cafe Latte, Cappuccino, Cafe Salt Caramel, Choco Black Forest, Butter Vanilla, dll. Cika lalu memilih, patokannya satu. Kopinya harus manis.
Kopi seringkali terasa pahit sebagai rasa aslinya. Bagi para pecinta kopi murni, katanya kopi pahit lah yang enak. Tapi tidak baginya. Bagi Cika hidup dengan segala haru biru dan lika likunya sudah pahit, maka bolehlah ia menyesap manisnya kopi. Sebagaimana ia berharap manisnya kehidupan.
Pilihannya jatuh pada kopi cappuccino dan semangkuk pasta. Duduk di meja 32 pikirannya menerawang pada apa yang terjadi di hari-harinya selama ini. Banyak hal terjadi, tak satupun bisa ia kendalikan. Sebagai manusia ia hanya bisa berusaha sebaik-baiknya. Mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, melakukan apa yang bisa dilakukan. Meski rasanya, beban demi beban kehidupan terasa demikian berat, tak ada habisnya.
Ia hanyalah seorang perempuan. Perempuan yang dipaksa dunia untuk tegar dan kuat berdiri. Menentang badai, melakukan banyak hal. Tapi, tetap ia hanyalah perempuan dengan sosok rapuhnya.
“Ini Teh kopinya,” kata seorang pelayan.
“Owh… Ia,” jawab Cika tersentak dari lamunannya. Dengan sedikit tergagap ia menerimanya.
Cappucino di cangkir porselen putih dengan berhiaskan buih love di atasnya. Di pinggirnya sebungkus gula semut merah. Juga semangkuk pasta dengan potongan beef besar yang diiris menjadi beberapa bagian. Beef berwarna kecoklatan dengan taburan peterseli di atasnya berpadu dengan harumnya keju.
Menatap lama Cappuccino love nya.. Ah.. cinta. Apa itu cinta? Worth it kah berbicara cinta jaman sekarang? Senandung lagu terngiang-ngiang di kepalanya.
Hidup ini mahal bila dipikirkan. Cari makan untuk sebulan Memang sulit. Apalagi sampai ku harus melamar. Sayang sudah susah jadi tambah susah. Tolong sabar sebentar saja. Bila berjanji ku pasti tepati. Asal kau sabar menanti
In this economy? Ya… Segalanya serba mahal di tengah kenaikan gaji yang jalannya kayak siput dan inflasi sehingga menyebabkan kenaikan harga yang meroket. Pekerjaan yang padat merayap. Mana ada waktu dan energi mikirin cinta? pikirnya.
Gula dimasukan. Kopi diaduk perlahan. Bersama pikiran yang menerawang tak tentu arah. Seteguk demi seteguk kopi diminum sambil menyesap aromanya yang khas. Harum kopi dan rasa susu yang gurih berpadu dengan gula aren nan lembut.
Perlahan, Cika membuka tabletnya. Membuka aplikasi desain. Sedikit menggores-gores light pen. Mendesain sebuah karya. Deadline desain kemasan produk snack perusahaan terkemuka mesti kelar besok pagi. Sementara belum ada ide di kepalanya.
Ia mendesain draft dulu. Masih coretan tanpa warna. Memasukan beberapa elemen dengan nama produk berhuruf kapital di tengahnya. Kemudian slogan produknya. Beberapa gambar yang relevan. Dan ya, semua komposisinya harus pas dan presisi di bidang gambarnya.
Kopi diteguk. Pasta dililitkan digarpu lalu dimakannya. Kembali ke layar. Melihat mana yang perlu ditambahkan.
“Hau… sendirian aja nih?” seorang pria berperawakan tinggi menghampirinya. Kulitnya kekuningan, wajahnya bersinar. Matanya sedikit menyipit. Dan senyumnya yang menawan.
“Aeh ia… “ kata Cika tergagap.
“Kenalin.. Andre,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Owh.. Cika. Ancika,” Cika menjawabnya. Tangannya terasa halus. Dengan paras khas pria pribumi dan keramahan yang terasa menjalar mengisi relung hati.
“Aku lihat dari tadi kamu asyik menggambar… Lagi bikin apa?” sambil sedikit kepo melihat ke arah tab.
Cika sedikit tertegun. “Oh ini… ini aku lagi desain. Bawa-bawa pekerjaan. He he…”
“Wah… ternyata desainer grafis ya? Keren-keren!”
“Hehe… biasa aja.”
“Yah.. hebat sih. Perempuan jago desain,” kata Andre lagi.
“Hmm.. Menurutku desain grafis itu perpaduan antara seni dan teknologi. Aku suka karena kita bisa mengekspresikan seni dari hati yang paling dalam. Lalu dipadukan dengan teknologi mewujudkannya dalam bentuk kekinian, digital, dan jadi sebuah karya yang berguna. Dan semua yang ada dalam bayangan itu dikomputerisasi sehingga jadi apa yang dinginkan. Yang nggak bisa dibuat manual dibantu sama teknologi. Pilih-pilih warna juga tinggal klik aja. Banyak warnanya juga bebas mau apa aja bisa. He he…”
Entah kenapa Cika bisa bicara dengan panjang lebar begitu.
“Hmm…. Ya.., semua orang punya mata. Kalau orang lihat gambar-gambar yang bagus pastinya bakalan suka. Itu sih dari kaca mata orang awam kayak aku,” Andre menimpali sambil tersenyum.
Perbincangan pun berlanjut. Mengalir, begitu ringan. Bersama kopi yang diteguk perlahan. Bersama gambar yang perlahan-lahan dibuat. Kepenatan Cika sedikit berkurang. Dengan adanya teman ngobrol, dengan deadline yang perlahan bisa dikerjakan.
Andre yang hangat dan akraban. Dan Cika yang pandai menjawab pertanyaan dengan diplomatis. Obrolan yang seru. Sesekali gambarnya diperlihatkan.
“Gimana warna ini Dre?”
“Owh… kayaknya itu terlalu tajam deh Cika… Coba yang lebih soft…” ketika Cika memilih warna pink menyala, lalu digantinya dengan dusty pink, dan terlihat lebih pas.
Walau Cika sudah jago mendesain. Tapi memiliki teman yang bisa diajak diskusi dan mengoreksi gambarnya itu menyenangkan. Jadi ada yang membantunya mana yang lebih baik.
Obrolan berlanjut semakin cair. Perlahan malam semakin larut. Kopi masing-masing akhirnya habis. Pasta juga
tinggal cabainya saja yang sengaja dibuang karena pedas. Gambar Cika sudah 75%. Belum selesai dan membuat karya itu baiknya “dipeuyeum” dulu. Rencananya akan ia koreksi dan selesaikan besok pagi saja. Sebelum berpamitan, tak lupa Cika dan Andre bertukar no wa. Saling mengsavenya.. Mengsave pertemuan hari ini di kafe. Dan tentu saja mengsave bunga-bunga di hati mereka berdua atas segalanya tadi.
Cika membereskan tabnya, lalu berpamitan. Andre menatap kepergiannya yang perlahan menjauh. Tersenyum- senyum simpul. Senandung lagu berputar-putar di telinga.
Andre….
P p, apa? Pian sungguh mempesona
U u, apa? Ulun jadi jatuh cinta
Pa pa, apa? pada pandangan pertama
Ka ka, apa? Kapankah kita berjumpa….
***

