Malam itu hujan turun dengan cara yang berbeda. Tidak deras, tidak pula angin ribut. Ia jatuh perlahan di atas genting rumah-rumah tua, seperti seseorang yang ragu mengetuk pintu kenangan. Di sebuah kampung yang dikelilingi kebun pisang dan rumpun bambu, orang-orang berkumpul di beranda rumah seorang lelaki yang sudah berhari-hari terbaring sakit.
Lelaki itu bernama Asep.
Tubuhnya kurus. Wajahnya pucat seperti lembar kertas yang terlalu lama disimpan dalam laci. Ia mengaku merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Bukan sesak biasa, bukan pula nyeri yang bisa dijelaskan dengan bahasa kedokteran yang sederhana.
“Ada yang mengikat saya dari dalam,” katanya lirih.
Kalimat itu beredar dari mulut ke mulut. Seperti biasa, sebuah kalimat yang lahir dari rasa takut selalu memiliki kaki yang lebih panjang daripada kebenaran.
Di kampung itu, cerita bukan sekadar cerita. Ia adalah warisan, mitos, dan kadang-kadang cara manusia menjelaskan hal-hal yang tidak mampu mereka pahami. Dari percakapan di warung kopi hingga obrolan selepas salat magrib, nama Asep mulai dibicarakan.
Ada yang bilang ia terkena kiriman gaib.
Ada yang yakin ia melanggar pantangan.
Ada pula yang berbisik bahwa ada “buhul” tersembunyi di dalam tubuhnya.
Buhul.
Sebuah simpul.
Kata sederhana yang tiba-tiba terdengar menyeramkan.
Saya tiba di kampung itu beberapa hari kemudian. Di halaman rumah Asep, beberapa sandal berjajar tidak rapi. Suasana sunyi bercampur penasaran. Orang-orang berbicara dengan suara yang lebih pelan daripada biasanya, seolah takut mengusik sesuatu yang tidak terlihat.
Di ruang tengah, seorang perempuan tua duduk sambil memegang tasbih.
“Itu bukan sakit biasa,” katanya.
Saya bertanya apa yang membuatnya yakin.
Perempuan itu hanya menggeleng.
“Tidak semua yang ada bisa dilihat.”
Jawaban seperti itu sering kita jumpai dalam banyak kisah desa. Kalimat yang sekaligus menjelaskan dan menyembunyikan sesuatu.
Di dalam kamar, Asep terbaring. Nafasnya pelan. Di sekelilingnya berdiri beberapa anggota keluarga. Ada kecemasan yang tidak dapat disamarkan oleh senyum.
Mereka telah membawa Asep ke dokter.
Mereka juga telah mendatangkan beberapa orang yang dianggap memiliki kemampuan spiritual.
Dua jalan yang sering ditempuh bersamaan oleh masyarakat kita: ilmu pengetahuan dan harapan.
Karena dalam keadaan genting, manusia kerap tidak memilih salah satu.
Ia memegang keduanya.
Malam semakin larut ketika seorang tokoh spiritual datang.
Tidak ada pakaian aneh. Tidak ada asap kemenyan yang memenuhi ruangan sebagaimana sering digambarkan dalam film-film horor. Lelaki itu tampak sederhana. Ia duduk di samping tempat tidur Asep lalu mulai membaca doa.
Orang-orang diam.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian sesuatu yang tidak biasa terjadi.
Asep batuk keras.
Tubuhnya menegang.
Keluarganya panik.
Seseorang memegang pundaknya.
Orang lain membaca ayat suci dengan suara bergetar.
Lalu dari mulut Asep keluar benda yang membuat seluruh ruangan terdiam.
Benda itu kecil.
Basah.
Kusam.
Ketika dibersihkan, tampak seperti tali yang terikat simpul.
Buhul.
Tidak panjang. Tidak pula besar. Tetapi cukup membuat semua mata membelalak.
Sejenak tidak ada yang berbicara.
Hanya suara hujan yang kini terdengar lebih jelas.
Bukan karena hujan bertambah deras, melainkan karena manusia sedang mencari makna atas sesuatu yang baru saja mereka saksikan.
“Saya tidak tahu ini apa,” ujar seseorang.
Tetapi justru ketidaktahuan itulah yang membuat berbagai kemungkinan lahir.
Keesokan harinya, kabar itu menyebar ke kampung-kampung sekitar.
Cerita berubah bentuk saat berpindah tangan.
Seperti air yang mengikuti bentuk wadahnya.
Ada yang mengatakan tali pocong keluar dari dalam tubuh Asep.
Ada yang menyebut panjangnya satu meter.
Ada pula yang mengaku benda itu bergerak sendiri.
Padahal tidak semua orang yang bercerita hadir pada malam kejadian.
Cerita selalu memiliki kebiasaan aneh.
Ia tumbuh bahkan ketika faktanya tetap.
Di sebuah warung kopi dekat pasar, saya mendengar para lelaki membahas kejadian itu dengan semangat.
“Masa bisa ada tali di dalam tubuh manusia?”
“Kalau bukan kiriman, lalu apa?”
“Semua ada penjelasannya.”
“Tapi belum tentu penjelasan kita benar.”
Percakapan itu berputar-putar tanpa mencapai kesimpulan.
Dan mungkin memang tidak harus ada kesimpulan.
Karena kadang-kadang yang lebih menarik daripada jawaban adalah usaha manusia untuk menemukannya.
Di kampung-kampung seperti ini, mitos dan kenyataan tidak selalu berdiri saling berhadapan.
Mereka justru hidup berdampingan.
Seorang petani bisa percaya pada doa sekaligus percaya pada pupuk.
Seorang ibu bisa membawa anaknya ke puskesmas sambil tetap meminta air doa.
Bukan karena mereka bingung membedakan fakta dan keyakinan.
Melainkan karena hidup terlalu rumit untuk dijelaskan oleh satu cara pandang saja.
Peristiwa yang dialami Asep menjadi cermin kecil dari kenyataan itu.
Orang-orang melihat benda yang sama.
Namun masing-masing menemukan makna yang berbeda.
Seminggu kemudian, kondisi Asep membaik.
Ia sudah bisa duduk di teras rumah.
Sesekali menerima tamu yang datang karena penasaran.
Wajahnya masih kurus, tetapi matanya terlihat lebih tenang.
“Saya hanya bersyukur masih diberi hidup,” katanya.
Saya bertanya apakah ia tahu apa sebenarnya benda yang keluar dari tubuhnya malam itu.
Asep tersenyum.
Senyum seseorang yang telah letih menjawab pertanyaan yang sama.
“Saya juga tidak tahu.”
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun justru di situlah letak kejujurannya.
Tidak semua peristiwa datang membawa keterangan lengkap.
Tidak semua misteri harus segera dibongkar.
Kadang-kadang manusia perlu menerima bahwa ada ruang kosong dalam pengetahuan mereka.
Ruang yang belum terisi.
Ruang yang membuat kita terus bertanya.
Di halaman rumahnya, hujan yang dulu turun malam itu kini sudah lama berhenti. Rumput tumbuh kembali. Anak-anak berlari mengejar layang-layang. Warung kopi kembali berbicara soal harga cabai dan pertandingan sepak bola.
Tetapi kisah tentang buhul itu masih tinggal.
Seperti bekas jejak kaki di tanah yang perlahan mengering.
Orang-orang akan terus mengingatnya.
Mungkin dengan versi yang berbeda.
Mungkin dengan detail yang bertambah setiap tahun.
Begitulah cara sebuah peristiwa berubah menjadi legenda kecil.
Dan mungkin, pada akhirnya, buhul yang sesungguhnya bukanlah simpul yang konon keluar dari tubuh seseorang.
Melainkan simpul di dalam pikiran manusia.
Simpul antara rasa takut dan rasa ingin tahu.
Antara keyakinan dan keraguan.
Antara yang bisa dijelaskan dan yang memilih tetap menjadi rahasia.
Simpul itu belum terbuka hingga hari ini.
Dan justru karena itulah cerita ini terus hidup.
