Menuju puncak Artapela (dokumen pribadi)
Sering berseliweran foto indah dari puncak Artapela Bandung yang saya lihat. Langit biru, hamparan perkebunan yang indah terlihat dari puncak, menjadi spot foto yang begitu cantik.
Sebagai penyuka suasana alam, saya dan suami tertarik untuk mendatanginya. Terutama karena anak jagoan sangat ingin berfoto di tempat, “yang ada tulisan MDPL-nya,” katanya. Sebab memang tren naik gunung sedang digandrungi anak muda tidak terkecuali anak remaja awal seperti putra kami yang baru berusia 13 tahun ini.

Cek di Google Map, ternyata memang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Gunung yang berketinggian 2194 MDPL tersebut berlokasi di Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Hanya butuh satu jam perjalanan menggunakan motor sudah sampai ke daerah lokasi destinasi. Semakin penasaran, berangkatlah kami ke sana. Seperti biasa, niatnya memang hanya main dan nyari spot foto. Berharap bisa makan indomie rebus dengan pemandangan yang indah di pegunungan. Maka pergilah kami dengan pakaian seadanya, bukan pakaian pendakian.
Sempat beberapa kali kebingungan karena tidak menemukan petunjuk gerbang masuk yang mencolok sebagai penanda bahwa kami sudah sampai di dekat lokasi. Bahkan kami sempat salah jalan karena mengikuti perintah google map. Kami mengikuti jalan setapak yang menanjak, sampai akhirnya kami bertemu orang baik yang memberikan penjelasan bahwa itu salah jalan. “Bisa lewat sini, tapi kalau mau lebih aman, harus kembali ke bawah, lewat pos Chirawa,” katanya. Kami pun kembali ke jalan dimana kami mulai “tersesat” tadi.
Pencarian google map pun berpindah ke poski Cirawa. Beberapa menit kemudian akhirnya ditemukanlah lokasi poskonya yang ternyata ada di bawah jalan sebelah kiri, berlawanan arah dengan lokasi pendakian yang ada di sebelah kanan jalan. Oalah, pantesan susah ketemu. He he. Posko tersebut rupanya dikelola oleh pemuda karang taruna daerah setempat.
Mengikuti petunjuk petugas, kami berangkat bersama pengunjung yang akan menanjak juga. Dua orang pemuda usia sekitar belasan akhir berpakaian lengkap pendakian. Outfitnya keren, tasnya juga keran. Namun lihatlah kami, pakaiannya lebih cocok main ke pasar kuliner. He he. Untungnya kami menggunakan sepatu yang teruji kuat dan nyaman untuk berjalan jauh.

Kami mulai berjalan. Berjalan sekiatr 200 meteran dari posko, menyebrang jalan, tidak lama kemudian pemandangan indah sudah kami dapatkan. Hamparan perkebunan kentang, wortel dan kol nampak di depan mata. Terasering yang dibuat rapi sedemikian rupa memang memanjakan mata, meskipun ada semacam benjolan di kepala dan kekhawatiran besar dalam hati, “mengapa tidak ada pohon besar yang ditanam juga di beberapa titik sebagai penyangga yang akan membuat lahan lebih aman? Mengingat kejadian longsor dan bencana banjir yang terus menerus melanda tanah kita.
Lupakan soal itu, kami lanjutkan perjalanan. Jalan landai, cocok untuk pemula. Tidak terlalu menanjak, matahari sudah mulai menyengat di punggung kami, sebab kami mulai menanjak pukul 9 pagi.
Satu jam pertama kami masih asik mengambil foto keindahan langit dan perkebunan. Mengomentari hal menakjubkan yang kami lihat dengan riang gembira. Kami sudah tidak lagi memperdulikan dua pemuda yang pergi bersama, sebagai petunjuk jalan, sebab dari kejauhan, kami melihat pendaki lain yang bisa kami jadikan panduan jalan. Yang kami lewati hanya perkebunan, bukan hutan lebat. Jadi, punggung pendaki lain yang terlihat dari kejauhan sudah lebih dari cukup sebagai panduan perjalanan.
Jam kedua, kami masih berharap banyak bahwa perjalanan akan segera sampai. Ujung gunung sudah nampak. Kami bahagia, sebentar lagi akan sampai.
Namun kemudian, setelah kami mendapati fakta “pos bayangan” di sana tertulikan bahwa itu adalah tempat yang menunjukkan baru setengah perjalanan, semangat kami mulai kendor. Di depan mata, terlihat rute pun mulai menanjak, sedikit terjal. Saya dan suami saling beradu pandangan, menghela napas panjang dan mereset semangat sejenak. Kini semangat dan tenaga kami harus disiapkan untuk benar-benar melakukan pendakian bukan hanya berjalan jauh.
“Masih ingat bagaimana rasanya naik Gunung Gede?” tanya suamiku.
Saya mengangguk. Waktu itu sudah sangat lama sekali berlalu. Usia kami sudah banyak. Suami lebih kepala empat dan saya sebentar lagi akan menyusul. Kini kami mengkhawatirkan anak jagoan yang kami takutkan akan kelelahan. Namun semangat kembali membara saat ada anak usia SD kami tanya baru kelas 3 menyusul kami di pos istirahat. Kami pun kembali menyusun semangat.

Satu jam nanjak lagi dengan rute yang lumayan terjal. Ujung gunung alias puncak yang kami tuju rasanya tidak kunjung sampai. Untungnya pengalaman saat naik ke beberapa puncak selagi muda dulu, memberikan kami harapan dan semangat bahwa usia tidak akan mempengaruhi kami. Hanya saja memang mindset kami salah seting ketika berangkat dari rumah. Kalau saja niatnya memang untuk mendaki, akan jauh berbeda dengan kali ini.
Kaki kami masih kuat, hanya saja kami bertanya, maka ini ujungnya? Kami menengok ke belakang, puluhan bukit sudah kami lalui, jaraknya jauh sekali.
“Itu sutet yang tadi kita masih di bawah,” ucap putra kami menunjukkan sutet kembar yang kami lewati tadi sekitar 15 menit perjalanan dari posko. Jaraknya jauh….sekali.
Kami tertawa, ternyata sudah sejauh itu berjalan.
Tidak lama kemudian, ada dua orang yang turun. Kami tanya, apakah puncaknya masih jauh? Mereka menjawab dengan ekspresi aneh, “Ya…lumayan. Semangat aja pokoknya,” jawab salah seorang dari mereka.
Tak ada pilihan, kami hanya harus terus berjalan. Pendaki lain yang tadi kami lewati dengan keluhan kecapean sudah sangat jauh tertinggal. Tidak tampak warna bajunya yang mencolok dari kejauhan. Entahlah, kami berpikir mungkin mereka kembali lagi.
Kami berjalan dengan perlahan, sampai kemudian putraku yang sudah lebih dulu berjalan di depan berteriak dengan riang, “Unda… sudah dekat! Penandanya sudah terlihat.”
Semangat kami kembali membara. Berjalan menanjak sekitar 10 menit lagi dan kami pun sampai di sana, di puncak artapela yang indah. Dengan hamparan rumput hijau yang masih berembun basah. Namun saya tidak peduli, saya langsung rebah di sana. Sebuah kemenangan yang rasanya begitu indah.
Kami memang pernah menjadi pendaki. Namun semangat yang tidak disetting dengan benar ternyata cukup menguras tenaga kami.

Kami mengambil beberapa foto, lalu kembali beristirahat. Ada satu warung kecil di sana. Puluhan pendaki yang didominasi remaja asik bercanda di tengah waktu istirahatnya.
Sampai kemudian kami menyadari kabut tebal mulai turun. Saya mengingatkan suami untuk segera turun, khawatir turun hujan. Jalan akan sangat licin jika sampai kami kehujanan di jalan.
Istirahat hanya setengah jam, kami langsung turun dengan kaki yang masih lelah. Namun kekhawatiran akan hujan deras lebih mendorong kami untuk segera kembali ke posko dan pulang secepatnya.
Perjalanan yang sagat mebegsankan pokoknya.
Oh iya, untuk yang ingin merasakan keindahan puncak Artapela juga, jangan lupa siapkan fisik dan mental ya. Gunakan pakaian yang mendukung. Rute ini sangat cocok untuk pendaki pemula, hanya saja kalian harus sabar dengan jaraknya yang begitu jauh.
Kalau yang sering mendaki bahkan Pendaki profesional, ini bukan apa-apa.
Dengan tiket terjangkau dan biaya penitipan kendaraan di posko serta mendapatkan print out sertifikat pendakian saat kembali ke posko, ini sudah sangat worth it untuk mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan. Semoga kamu juga.
