Saat Lebaran membawa kami pulang ke kampung, aku tak hanya ingin bersilaturahmi—aku juga ingin membagikan sepotong cerita masa kecil kepada keponakanku. Ia lahir dan besar di kota, akrab dengan buah kakao atau cokelat dalam bentuk batang atau kue, tapi belum pernah benar-benar tahu dari mana rasa manis itu berasal.
Suatu sore, kami berboncengan motor menyusuri jalan desa. Angin pegunungan terasa sejuk, sawah terbentang luas di kanan-kiri, dan di kejauhan Gunung Ciremai berdiri megah seolah menyambut kami. Tujuan kami sederhana: mengunjungi rumah adikku di dusun sebelah. Tapi perjalanan itu diam-diam berubah menjadi petualangan kecil.

Setibanya di sana, niat awal kami hanya ingin mengambil bunga kecombrang untuk bahan masakan. Namun adikku mengajak kami masuk lebih jauh ke kebunnya. Kebun itu seperti dunia kecil yang penuh kejutan—markisa bergelantungan, murbei merah menggoda, kecipir segar siap dipetik, hingga labu siam yang tumbuh subur. Kami memetik apa saja yang bisa dibawa pulang, sambil sesekali mencicipinya langsung.
Lalu, di antara rimbun daun, aku menemukan sesuatu yang membuatku tersenyum: buah kakao.
Keponakanku langsung mendekat, matanya penuh rasa ingin tahu. “Bibi, ini apa?” tanyanya polos.
Aku memegang buah itu, lalu menjawab pelan, “Ini buah cokelat.”
Ia tampak tidak percaya. Bagaimana mungkin cokelat yang biasa ia makan berasal dari buah seperti itu? Aku pun membelahnya, memperlihatkan biji-biji yang terbungkus lapisan putih tipis. Di saat yang sama, kenangan masa kecilku perlahan kembali.
Dulu, halaman rumah kami penuh dengan pohon kakao. Saat musim panen tiba, aku dan adikku akan berlarian memetik buahnya. Kami membuka buah itu dengan penuh semangat, lalu menikmati rasa manis dari lapisan tipis yang membungkus bijinya. Ibu tak pernah marah, meski kami sering meninggalkan sisa-sisa yang lengket. Ia akan membersihkannya dengan sabar, lalu menjemur biji kakao itu di bawah terik matahari untuk diolah menjadi campuran kue.
Masa-masa itu sederhana, tapi terasa begitu hangat.
Kini, pohon-pohon kakao itu sudah tak ada. Ayah menggantinya dengan pisang tanduk yang lebih menjanjikan hasil. Waktu memang selalu membawa perubahan.
Keponakanku masih menatap buah kakao di tangannya. Dengan ragu, ia mencoba mencicipinya. Seketika wajahnya berubah—matanya berbinar, senyumnya melebar.
“Iya, Bibi… manis sekali,” katanya takjub.
Saat itu, aku seperti melihat diriku sendiri di masa lalu—seorang anak kecil yang baru pertama kali mengenal rasa.
Kami pulang membawa buah-buahan dari kebun, termasuk kakao. Di rumah, buah itu menjadi bahan cerita. Ada yang mengenangnya dengan senyum, ada yang penasaran karena baru pertama kali melihat, dan ada yang tak sabar ingin mencoba.
Dan di tengah obrolan itu, kami semua seakan diingatkan pada satu hal sederhana: cokelat yang selama ini kita nikmati ternyata berasal dari buah yang nyaris tak berdaging.
Namun bagi kami, bukan soal bentuk atau prosesnya yang panjang. Yang paling berharga adalah kenangan—tentang masa kecil, tentang kebun, dan tentang rasa manis yang pernah kami petik langsung dari pohonnya.
