Ketika Bersekolah Tidak Lagi Berarti Belajar
Setiap pagi, jalanan dipenuhi anak-anak berseragam. Ada yang diantar orang tua, ada yang berjalan kaki, dan ada pula yang berangkat bersama teman-temannya. Tas di punggung, sepatu di kaki, dan buku-buku di dalam tas menjadi pemandangan rutin setiap hari. Mereka pergi ke sekolah sebagaimana mestinya seorang pelajar.
Namun, ada satu pertanyaan yang terkadang menggelitik pikiran: apakah anak-anak yang setiap hari pergi ke sekolah benar-benar datang untuk belajar?
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Belakangan, kita sering menjumpai fenomena anak-anak yang secara fisik hadir di sekolah, tetapi tidak menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka datang, duduk di kelas, bercanda dengan teman, sesekali memperhatikan guru, tetapi pikirannya entah berada di mana. Ada yang lebih tertarik membicarakan permainan, gawai, atau hal-hal lain di luar pelajaran. Bahkan, tidak sedikit yang tampak lebih bersemangat menunggu bel pulang daripada menantikan materi pelajaran berikutnya.
Sekolah seolah-olah hanya menjadi rutinitas harian. Yang penting berangkat, yang penting tidak bolos, yang penting tercatat hadir. Sementara itu, persoalan apakah mereka memahami pelajaran atau mendapatkan pengetahuan baru sering kali menjadi urusan kesekian.
Fenomena inilah yang dapat kita sebut sebagai schooling without learning: bersekolah tanpa benar-benar belajar.
Ketika Sekolah Hanya Menjadi Kewajiban
Pada dasarnya, sekolah merupakan salah satu tempat bagi anak untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh pengetahuan, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan. Namun, ketika sekolah hanya dipahami sebagai kewajiban yang harus dijalani, makna pendidikan perlahan-lahan bisa kehilangan esensinya.
Sebagian anak pergi ke sekolah bukan karena memiliki keinginan untuk mengetahui sesuatu, melainkan karena memang harus berangkat. Belajar bukan lagi kebutuhan, tetapi beban yang harus diselesaikan. Mereka mengikuti pelajaran karena ada guru yang mengajar, mengerjakan tugas karena ada nilai yang harus diperoleh, dan membaca buku karena ada ujian yang harus dihadapi.
Akibatnya, belajar menjadi aktivitas yang bersifat sementara. Ketika ujian selesai, materi yang dipelajari pun seolah ikut menghilang dari ingatan. Pengetahuan tidak benar-benar melekat karena proses belajar tidak dibangun atas kesadaran dan rasa ingin tahu.
Padahal, belajar seharusnya bukan sekadar menghafal materi atau mengejar angka di atas kertas. Belajar adalah proses memahami, berpikir, bertanya, mencoba, dan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
Ketika Nilai Lebih Penting daripada Ilmu
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah cara sebagian anak memandang keberhasilan pendidikan. Nilai rapor, angka ujian, dan kelulusan sering kali menjadi ukuran utama keberhasilan belajar. Tidak salah jika nilai dijadikan salah satu alat evaluasi. Namun, menjadi persoalan ketika anak hanya berorientasi pada angka tanpa memedulikan pemahaman.
Ada anak yang merasa cukup puas mendapatkan nilai bagus meskipun belum tentu memahami materi yang dipelajari. Ada pula yang baru membuka buku ketika ujian sudah dekat. Setelah ujian selesai, keinginan untuk belajar kembali menghilang.
Kondisi ini tentu perlu menjadi bahan renungan. Jangan sampai pendidikan hanya menghasilkan anak-anak yang pandai menjawab soal, tetapi kesulitan menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
Allah Swt. telah mengingatkan tentang kedudukan orang-orang berilmu dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “Niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ilmu memiliki kedudukan yang mulia. Karena itu, mencari ilmu seharusnya menjadi kesadaran yang tumbuh dalam diri setiap pelajar, bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi tuntutan sekolah.
Pendidikan Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru
Ketika anak kehilangan semangat belajar, kita tidak seharusnya terburu-buru menyalahkan mereka. Ada banyak faktor yang mungkin memengaruhi keadaan tersebut. Lingkungan keluarga, pola asuh, pergaulan, penggunaan gawai, metode pembelajaran, hingga kurangnya motivasi dari dalam diri anak dapat menjadi bagian dari persoalan.
Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa sekolah bukan sekadar tempat menitipkan anak selama beberapa jam. Pendidikan pertama tetap dimulai dari rumah. Anak perlu dibiasakan memiliki tanggung jawab, disiplin, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk berusaha.
Guru pun memiliki peran penting. Mengajar bukan hanya menyampaikan materi sampai jam pelajaran selesai, melainkan juga membangun suasana yang membuat anak tertarik untuk belajar. Tentu saja, guru tidak bisa bekerja sendirian. Sebaik apa pun metode pembelajaran yang diterapkan, proses pendidikan membutuhkan keterlibatan dan kesadaran peserta didik.
Di sisi lain, anak juga harus belajar memahami bahwa pendidikan adalah investasi bagi dirinya sendiri. Orang tua boleh membiayai sekolah, guru boleh mengajarkan berbagai pengetahuan, dan lembaga pendidikan boleh menyediakan fasilitas. Namun, tidak seorang pun dapat menggantikan kemauan anak untuk belajar.
Mengembalikan Makna Belajar
Dalam Islam, mencari ilmu merupakan bagian penting dari kehidupan seorang muslim. Bahkan, wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw. adalah perintah membaca.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
- Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
- Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
- Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
- Yang mengajar (manusia) dengan pena.
- Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Perintah membaca dalam ayat tersebut bukan sekadar mengajarkan kemampuan mengenali huruf dan kata. Lebih dari itu, manusia diajak untuk belajar, memahami, dan mengenali kebesaran Allah melalui ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, semangat belajar perlu ditumbuhkan kembali. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai, bukan pula semata-mata agar kelak memperoleh pekerjaan yang baik. Belajar adalah bekal untuk menjalani kehidupan, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Kita tentu tidak ingin menyaksikan generasi yang rajin berangkat ke sekolah, tetapi enggan membuka pikirannya. Kita tidak ingin melihat anak-anak yang bertahun-tahun mengenakan seragam pendidikan, tetapi tidak memiliki keinginan untuk terus mengembangkan pengetahuan.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak anak yang hadir di ruang kelas, seberapa tinggi angka kelulusan, atau seberapa banyak ijazah yang dibagikan. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan terlihat dari tumbuhnya kesadaran untuk belajar, kemampuan berpikir, dan kemauan memperbaiki diri.
Sebab, sekolah adalah tempat untuk belajar, bukan sekadar tempat untuk menghabiskan waktu.
Jangan sampai anak-anak kita hanya tumbuh menjadi generasi yang pandai datang ke sekolah, tetapi lupa bagaimana caranya belajar. Sebab, pendidikan sejati bukan tentang seberapa lama seseorang duduk di bangku sekolah, melainkan seberapa banyak ilmu yang tumbuh dalam pikiran dan kebijaksanaan yang tumbuh dalam dirinya.
