Kemarin, aku pulang kampung. Perjalanan yang bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga perjalanan batin untuk melepaskan rindu yang telah lama tertahan. Setelah sekian lama merantau, akhirnya aku kembali ke Desa Totokan, sebuah desa kecil di Kabupaten Ponorogo—tempat di mana banyak kenangan tumbuh dan tersimpan rapi dalam ingatan.
Tak ada yang benar-benar berubah. Ayahku masih mendiami rumah kuno itu—rumah yang mungkin tampak sederhana di mata orang lain, namun menyimpan kehangatan yang tak tergantikan. Di tengah deretan rumah-rumah modern yang kini bermunculan di sekitarnya, rumah itu tetap berdiri dengan tenang, seolah menolak waktu yang terus berjalan. Dindingnya mungkin telah menua, tetapi suasana asrinya tetap terjaga, seperti hati ayah yang tak pernah berubah.

Sumber : Koleksi pribadi
Desa Totokan masih alami dan menenangkan. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, seperti jati yang kokoh dan berbagai pohon buah yang berbuah lebat. Udara terasa lebih jujur, lebih bersih, seakan menyambut setiap langkahku yang kembali. Di sepanjang hari, suara burung menjadi musik latar yang tak pernah berhenti. Ada begitu banyak jenis burung yang bahkan tak kukenal namanya. Mereka beterbangan bebas, berkicau tanpa beban, seakan menikmati kebebasan sejati.
Di sana, burung-burung itu tampak hidup dalam keseimbangan. Buah dan biji-bijian tersedia melimpah, memberi mereka kehidupan yang cukup tanpa rasa takut akan kelaparan. Pemandangan ini menghadirkan kesadaran sederhana—bahwa alam, ketika dijaga dan dibiarkan dalam keasliannya, mampu memberikan harmoni bagi setiap makhluk yang hidup di dalamnya.

Sumber : Koleksi pribadi
Aku berdiri sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba menyerap semua keindahan itu. Rasanya seperti kembali menjadi bagian dari sesuatu yang pernah hilang. Di tempat ini, waktu berjalan lebih lambat, dan hati terasa lebih tenang.
Pulang kampung bukan hanya tentang kembali ke rumah. Ini tentang kembali pada akar, pada kenangan, pada cinta yang tidak pernah benar-benar pergi. Dan di Desa Totokan, di bawah langit sederhana Kabupaten Ponorogo, aku menemukan kembali diriku sendiri.
