Pertama kali ingat orog bukan dari buku resep, tapi dari perjalanan pulang kampung. Di Panawangan, Ciamis, makanan ini masih bisa ditemui, meski tidak setiap hari. Di kota, orog nyaris tak terdengar namanya. Padahal, bagi saya, ia adalah rasa yang selalu dirindukan setiap kali mengingat rumah. Beruntung masih ada uwak yang baik, yang masih bisa membuatkannya ketika pulang kampung.
Banyak orang mengira orog sama dengan horog-horog yang berbahan tepung beras. Padahal berbeda. Orog yang saya maksud adalah orog dari tepung singkong, yang diolah dengan cara panjang dan sabar. Prosesnya tidak bisa sembarangan. Satu saja langkah terlewat, rasanya akan berubah. Dan justru di situlah letak keistimewaannya: rasa khas yang tidak bisa ditiru oleh makanan instan.

Ayah pernah bercerita, dulu orog adalah pengganti nasi. Zaman ketika beras sulit didapat, orang-orang desa mengandalkan singkong agar tetap bisa makan kenyang.
“Waktu kecil, biasa dimakan dengan ikan mujair goreng. Soalnya beras masih susah,” katanya suatu sore.
Cerita itu membuat saya semakin penasaran pada proses pembuatannya. Ternyata, tidak semua orang bisa membuat makanan yang satu ini. Singkong harus diparut terlebih dahulu, lalu direndam selama tiga hari tiga malam sampai sari patinya keluar dan baunya berubah khas. Setelah itu dijemur hingga kering, barulah menjadi tepung singkong.
Di dapur, uwak mengajarkan saya tahap berikutnya. Kebetulan memang ada tepung singkong yang masih baru. Stok uwak kalau akan membuat orog atau paris. Hasil menjemur sebelum musim hujan datang. Tepung singkong dicampur sedikit garam di dalam wadah, lalu disiram air panas mendidih sedikit demi sedikit sambil diaduk.

“Saeutik-saeutik ngabanjurna supaya teu ngagumpal. Jadi alus nyiki,” katanya.
(Sedikit demi sedikit saja air panasnya, supaya tidak menggumpal.)
Pelan-pelan, tepung itu berubah menjadi butiran kecil seperti nasi oyek. Setelah dikukus sampai matang, orog lalu dicampur dengan parutan kelapa yang sudah dikukus juga agar tidak cepat basi. Saat masih hangat, orog sudah bisa dimakan sebagai pengganti nasi.

Tapi orog tidak berhenti sebagai orog saja. Di kampung saya, ia bisa berubah menjadi makanan lain yang disebut “paris”. Orog yang sudah matang ditumbuk selagi hangat seperti membuat uli ketan. Irisan bawang daun atau bawang goreng ditambahkan agar rasanya semakin gurih. Setelah kalis, adonan itu dibentuk pipih, dipotong-potong, lalu digoreng hingga kecokelatan.
Paris paling nikmat disantap bersama segelas teh atau kopi panas, biasanya sore hari, ketika obrolan mengalir dan waktu terasa lebih lambat.

Makanan ini bukan sekadar pengganjal perut. Ia adalah jejak cara orang-orang dulu bertahan hidup, mengolah singkong menjadi sesuatu yang layak dan lezat dimakan. Kini, di saat nasi mudah ditemukan, orog justru menjadi kenangan yang jarang dijumpai.
Barangkali, suatu hari nanti, makanan unik ini hanya tinggal cerita. Atau justru, cerita-cerita kecil dari dapur kampung seperti ini yang membuatnya tetap hidup. Semoga di kampung halaman saya tidak pernah hilang. Sebab saya dan para sepupu pun sudah belajar membuatnya.
Ada yang ingin mencicipi rasa yang hampir hilang ini?
