Minggu lalu aku melihat sosial media sahabatku. Dia mengunggah foto anaknya sedang berada di tempat wisata yang sangat indah, namun asing terlihatnya. Lantas aku menerka-nerka, dimana dia? Pasti mereka liburan ke tempat yang jauh ini.
Tak heran, aku tahu sejak kuliah bagaimana karakter dan pribadinya. Namun, pemikiranku waktu itu selalu berkutat di hal mendasar dan awam dipikirkan orang. Bagaimana cara dia mencari uang, agar cukup untuk bepergian?
Dia sejak kuliah, menjalani hubungan dengan seorang laki-laki yang juga teman sebayaku. Kampus kami berbeda, namun hubungan pertemanan kami cukup baik dan intens komunikasi. Kami saling curhat, membagi rahasia dan saling membantu dalam hal materi.
Singkatnya, hubungan mereka awet hingga mereka menikah dan memiliki anak. Dulu orang lain bertanya-tanya, sebab saat berkuliah dia bisa bolak-balik pantai dan dia sempat memperlihatkan kalau ia telah melakukan perjalanan ke Bromo. Lagi-lagi teman yang lain berpikir, bagaimana cara dia mencari uang?
Saat sekarang telah menikah dan memiliki anak, dia kembali membagikan foto liburan dan memberitahu lokasinya. Dia berada di Nusa Penida, “Bukannya Nusa Penida itu Bali ya?” Pikirku.
Beberapa hari kemudian dia membagikan tips dan trik ketika menjalani perjalanan dari Jawa Barat menuju Bali. Aku sempat menulis komenatar di akun media sosial pribadinya,
“Bismillah bukan cuma viewers aja ya, sekarang nonton dulu dari akun kamu, siapa tahu uangku cukup buat ke Bali.”
Lantas dia membalas dan meng-aamiini komentarku di akunnya itu. Sejak kuliah dia memang berbisnis dan berusaha keras untuk memenuhi kabutuhan hidupnya. Mulai dari berjualan makanan ringan, menjadi reseller pakaian, membuat makanan sendiri dengan sistem PO, dan bisnis make up yang bisa di kredit waktu itu.
Keras usahanya kurasa sebanding dengan hal yang ia lakukan, menurutku sah-sah saja dia menghabiskan uang hasil jualannya untuk bepergian dan mengapresiasi diri dengan caranya. Tapi ternyata perlahan, setelah menikah seperti sekarang. Hal yang aku pikirkan bukan tentang temanku dan keluarganya, melainkan keluargaku sendiri.
Tabungan kami tak kunjung cukup untuk pergi ke tempat yang pernah kita mimpikan. Planning berwisata selalu ada, baik itu wisata kuliner atau sekadar berjalan-jalan sore hari bersama keluarga. Sejauh ini, rencana untuk bepergian ke tempat yang jauh masih berada dalam daftar yang samar, sebab belum benar-benar niat kami mencapainya.
Banyak sekali pertimbangan yang kami lakukan, dari mulai kesehatan anak, barang bawaan, akomodasi selama kita di tempat wisata, dan banyak lagi hal lainnya. Pernah suatu hari, kami menganggap bahwa uang kami mungkin cukup untuk untuk pergi ke tempat yang kami tuju dan mimpikan. Namun waktu masih sangat tidak memungkinkan, suami bekerja, dan tak cukup waktu untuk bepergian terlalu jauh.
Pada kenyataannya, aku dan suami hanya berusaha menyempatkan dalam dua minggu sekali kita pergi ke tempat yang dekat untuk sekadar melepaskan kepenatan setiap akhir pekan. Setelah melihat teman yang melakukan perjalanan ke Nusa Penida, kami juga melakukan perjalanan liburan yang cocok untuk keluarga kami. Walaupun hanya melakukan perjalanan ke Waduk Darma Kuningan, tapi anak kami terlihat bahagia.

Perjalanan ini memang mungkin tak seberapa bagi banyak orang. Pergi ke tempat wisata yang sangat sederhana, jajanan sederhana, dan harus berbagi dengan pengunjung lain. Kami memakan semangkuk bakso dan minum satu mangkok sup buah untuk bersama-sama sekeluarga.
Meski hanya perjalanan seperti itu yang bisa kami lakukan, bukan keluar kota, dan bukan keluar pulau. Kami hanya jalan-jalan, berfoto, menikmati makanan, pemandangan, dan menikmati apa saja yang diizinkan oleh Allah untuk tiba kepada keluarga kami. Anak kami terlihat bahagia meski tidak pergi ke pantai dan ke kota seperti yang orang lain lakukan.

Rasanya sore hari datang begitu cepat, suasana pun menjadi tak mendukung. Cuaca tiba-tiba berawan, menunjukan kalau hari akan segera hujan. Kami memutuskan untuk segera bergegas pulang, sebelum hujan dan badai datang. Bahaya rasanya, ketika hujan dan badai, namun kami masih berada di dekat danau.

Setelah sampai rumah, rasanya capek sekali. Energi seperti habis dan anak kami terlihat hanya tiduran dan menanggalkan bajunya, terlihat gerah dan kelelahan. Kami juga orang tuanya mengalami kelelahan dan butuh istirahat yang banyak.
Setelah malam datang, kami perlahan menyadari banyak hal. Perjalanan yang kami tempuh dengan cara yang sederhana ini, ternyata telah menutup rasa kurang dalam keluarga kami. Jika kami awalnya melihat teman yang melakukan perjalanan jauh dan ingin seperti mereka, memiliki tabungan dan cukup untuk bepergian.
Kini kami menyadari ternyata Allah tidak menitipkan rezeki banyak untuk kita pergi berwisata ke tempat yang jauh. Tapi Allah terlebih dahulu mengingatkan, bahwa rasa syukur kami harus digali lebih dalam lagi. Allah memberi takdir berakhir pekan hanya berjalan-jalan sore hari bersama keluarga pun sudah merupakan sesuatu yang indah.
Sangat terasa, perjalanan sederhana seperti itu saja ternyata sudah membuat anak kami bahagia dan banyak bercerita. Allah menyelipkan kesegaran dan kenikmatan dibalik makan semangkuk sop buah untuk bertiga. Bakso dan mie ayam yang kami makan sebelum pergi ke danau juga dibuat nikmat oleh Allah, sehingga perlahan memudarkan keinginan untuk pergi berlibur ke tempat yang jauh.
Semua sudah ditakar cantik dan indah oleh Allah. Menghabiskan waktu bersama keluarga adalah rezeki bagi kami. Dari lelah yang timbul kami juga sadar, kalau ternyata tubuh dan mental kita belum begitu siap untuk bepergian jauh membawa anak kami.
Pagi ini aku sadar kalau memang Allah belum menitipkan hal itu pada kami. Allah belum menitipkan materi berlebih untuk pergi berlibur pada kami. Allah melihat, dengan begini pun kami masih menemukan bahagia.
Memang benar melihat kebahagiaan orang lain tak akan ada habisnya, tak terasa hal itu bisa menutupi rasa syukur dalam dada kita selama ini. Namun jika sudut pandangnya tepat, justru rasa syukur itu bisa kita bangkitkan dengan cara melihat kebahagiaan orang lain dan menakar kebahagiaan diri sendiri. Mereka bahagia dengan caranya, kita juga bisa dengan mudah menentukan takaran kebahagiaan kita sendiri.
Pagi ini aku membuka rasa syukur dan lembaran baru dalam hidup. Allah mempertunjukkan sesuatu yang lebih baik untuk keluarga kami. Allah Maha Tahu kami di sini lebih menikmati hal ini dengan dada yang lapang, ikhlas, dan bahagia.
