SMP Mandaraka di siang hari Ramadan nampak seperti lokasi syuting film zombi. Siswa-siswanya berjalan menyeret kaki, wajah pucat, dan pandangan kosong menatap jam dinding yang seolah mati. Namun, di balik ketenangan yang dipaksakan itu, sebuah skandal besar sedang tersembunyi di bilik ketiga toilet laki-laki.
“Bau apa ini?” gumam Pak Burhan, guru BK yang hidungnya lebih tajam dari radar militer.
Ia baru saja masuk ke toilet untuk mencuci muka. Alih-alih bau karbol, indra penciumannya justru menangkap aroma yang sangat spesifik, sangat gurih, dan sangat menggoda iman: Aroma Micin Bumbu Mie Instant.
Dengan gerakan pelan namun mematikan, Pak Burhan mendekati bilik ketiga. Pintu itu terkunci dari dalam. Tak lama, terdengar suara yang sangat ikonik: KREMES… KREMES… KREUK…
Dunia seolah berhenti berputar. Pak Burhan menggelengkan kepala. “Ada yang sedang ‘berpesta’ di dalam sini,” batinnya.
“Keluar,” perintah Pak Burhan datar. Suaranya tidak tinggi, tapi otoritasnya membuat kecoa di dinding pun mendadak diam.
Pintu terbuka perlahan. Munculah wajah pucat Aldi dan Rio dengan sisa-sisa bubuk putih di ujung bibir mereka. Di tangan Aldi, tergenggam erat sebuah barang bukti yang tak terbantahkan: bungkus mie instant yang sudah diremas hancur, lengkap dengan bumbu yang sudah ditabur langsung ke dalam plastik.
“Eh… Bapak. Mau… mau cuci muka juga, Pak?” tanya Aldi dengan suara gemetar.
“Duduk di kantor saya. Bawa ‘jamuan’ kalian itu,” ujar Pak Burhan tanpa ekspresi.
Sepuluh menit kemudian, suasana di ruang BK terasa sangat canggung. Bungkus mie instant itu diletakkan di atas meja, nampak seperti artefak berharga hasil sitaan kepolisian.
“Kalian tahu, mie instant mentah itu keras,” buka Pak Burhan sambil menatap mereka tajam. “Tapi ternyata, godaan lapar jauh lebih keras ya sampai kalian tega makan mie tanpa direbus di dalam toilet yang baunya saja bikin pingsan?”
Rio menunduk dalam. “Maaf, Pak. Tadi habis pelajaran olahraga, rasanya tenggorokan kering banget. Terus Aldi bilang punya stok mie di tas…”
“Kami khilaf, Pak. Cuma satu bungkus dibagi dua,” tambah Aldi membela diri.
Pak Burhan menghela napas panjang. Ia bersandar di kursinya, tatapannya yang tajam berubah menjadi sedikit sendu. “Kalian tahu apa yang paling menyedihkan dari bungkus mie ini?”
Keduanya menggeleng serempak.
“Bukan soal kalian batal puasa. Bapak tahu, di usia kalian, godaan itu berat. Tapi yang menyedihkan adalah kalian harus melakukan ini secara ‘sembunyi-sembunyi’ di tempat yang paling kotor di sekolah ini. Kalian merendahkan diri sendiri hanya demi kepuasan perut yang harganya tidak sampai lima ribu rupiah.”
Pak Burhan mengambil bungkus mie itu. “Kalian makan dengan rasa takut. Makan dengan perasaan bersalah. Bahkan kalian tidak bisa menikmati kegurihan bumbu ini karena telinga kalian sibuk mendengarkan langkah kaki orang lewat. Apakah itu yang kalian sebut ‘kenyang’?”
Aldi dan Rio hanya diam. Rasa gurih micin di lidah mereka mendadak berubah menjadi rasa pahit yang menyesakkan.
“Puasa itu latihan kejujuran, Nak,” lanjut Pak Burhan dengan suara lebih lembut. “Tuhan tahu kalian lapar. Tapi saat kalian memilih masuk ke bilik toilet itu, kalian sebenarnya sedang mencoba menipu diri sendiri. Kalian merasa hebat karena bisa ‘menyelundupkan’ mie, padahal kalian sedang kehilangan rasa bangga pada diri sendiri.”
Pak Burhan berdiri, lalu menyerahkan kembali bungkus kosong itu pada Aldi.
“Buang ini di tempat sampah luar. Jangan disembunyikan lagi. Besok, cobalah untuk bertahan. Bukan karena takut pada Bapak atau takut ketahuan, tapi karena kalian menghargai janji kalian pada diri sendiri. Lapar itu cuma tamu, dia akan pergi saat maghrib. Tapi rasa malu karena ‘mengemis’ kenyang di toilet, itu akan membekas lama.”
Aldi dan Rio keluar dari ruang BK dengan langkah gontai. Mereka tidak dihukum lari keliling lapangan atau membersihkan selokan. Tapi kata-kata Pak Burhan barusan terasa lebih berat dari hukuman fisik mana pun.
Saat berjalan menuju tempat sampah, Aldi melihat bungkus mie di tangannya. Aroma micinnya masih ada, tapi sensasi “heroik” saat memakannya tadi sudah sirna. Ia baru menyadari, bahwa satu bungkus mie instant mentah yang dimakan sembunyi-sembunyi di toilet, ternyata punya harga yang sangat mahal: yaitu hilangnya integritas seorang laki-laki.
“Besok nggak usah bawa mie lagi ya, Al,” bisik Rio pelan.
“Iya. Besok kita sahur yang banyak saja. Capek ternyata jadi ‘buronan’ micin,” jawab Aldi sambil melempar bungkus itu ke tempat sampah.
Siang itu, meski perut mereka masih terasa sedikit kenyang karena sisa mie tadi, hati mereka justru merasa lapar akan sesuatu yang lebih berharga: sebuah kejujuran.
“Jangan tukar harga dirimu dengan sebungkus mie instant di bilik sunyi. Karena kenyang yang didapat dari mencuri waktu adalah rasa kenyang yang paling hina; kau mendapatkan rasa gurihnya di lidah, tapi kehilangan rasa damai di dada.”
