Gema takbir mulai bersahutan, menggetarkan udara sore di Kampung Melati. Suaranya memantul dari dinding-dinding rumah yang baru dicat, menyusup di antara aroma opor ayam yang gurih dan kue nastar yang manis. Semua orang tersenyum. Semua orang sibuk menyambut lebaran. Kecuali di sebuah rumah panggung kayu yang atapnya mulai bocor, di ujung kampung yang paling sunyi.
Di teras rumah itu, tiga pasang mata kecil menatap lurus ke jalan setapak yang berdebu.
Raka (10 tahun), Sari (8 tahun), dan si bungsu Adi (5 tahun). Mereka duduk berjajar, kaki mereka berayun-ayun bosan. Tangan Raka menggenggam erat sebuah benda pipih yang layarnya retak—ponsel tua peninggalan ayahnya. Ia terus-menerus menekan tombol refresh pada aplikasi video call, berharap lingkaran hijau itu berubah menjadi wajah yang sangat mereka rindukan.
“Mas Raka, Ibu jadi pulang kan?” tanya Sari, suaranya pelit, nyaris tenggelam oleh suara mercon yang meledak di kejauhan.
Raka tidak menjawab. Ia hanya bisa menelan ludah yang terasa hambar. Ia ingat surat terakhir dari ibunya, yang dikirim melalui WhatsApp dua bulan lalu. Surat yang ia baca berulang kali, sampai ia hafal setiap titik dan komanya. Ibu mereka, Lastri, bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hong Kong, sudah tiga tahun tidak pulang.
“Nak, maafkan Ibu. Tahun ini Ibu belum bisa pulang. Kontrak Ibu baru saja diperpanjang. Tabungan Ibu masih kurang untuk biaya sekolah kalian tahun depan. Sabar ya, Nak. Ibu janji akan kirimkan baju baru untuk kalian semua. Ibu sayang kalian.”
Lastri pergi saat Adi baru berusia dua tahun. Ayah mereka meninggal lima tahun lalu karena sakit keras. Lastri terpaksa merantau, meninggalkan ketiga buah hatinya di bawah asuhan Nenek Wati yang sudah sepuh dan rabun.
“Tapi Ibu janji mau belikan Sari mukena baru, Mas,” sambung Sari lagi, air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Mukenanya yang warnanya pink, biar samaan sama punya Laras.”
Adi, yang masih terlalu kecil untuk memahami rumitnya ekonomi, hanya bisa bergumam, “Adi mau mainan mobil-mobilan yang ada lampunya, Mas. Kayak punya anaknya Pak RT.”
Dada Raka sesak. Ia adalah anak tertua, satu-satunya tiang sandaran adik-adiknya. Ia tahu seberapa keras ibunya bekerja di negeri orang, memeras keringat di tengah dinginnya beton-beton Hong Kong, hanya agar mereka bisa makan dan sekolah. Ia tak ingin menambah beban ibunya dengan keluhan mereka.
“Iya, iya, Sari. Ibu pasti kirim mukenanya. Mainan Adi juga pasti ada di dalam paket,” kata Raka, mencoba terdengar meyakinkan, meskipun hatinya sendiri rapuh.
Nenek Wati keluar dari dapur, tangannya gemetar membawa tiga piring berisi opor ayam yang sederhana. Ia tahu, di hari Lebaran, opor Nenek tak akan pernah bisa mengalahkan opor Ibu.
“Ayo makan dulu, Nak,” kata Nenek Wati, suaranya serak. “Jangan sedih. Ibu kalian sedang berjuang untuk kalian di sana.”
Raka menatap piring di depannya. Aromanya memang enak, tapi tak ada “aroma cinta” yang biasa Lastri bubuhkan. Ia mengambil sendok, mencoba menyuapkan nasi ke mulutnya, tapi tenggorokannya seolah terkunci.
Malam semakin larut. Gema takbir semakin riuh. Nenek Wati sudah terlelap di kamar sebelah. Raka, Sari, dan Adi masih berada di kamar mereka. Mereka tak bisa tidur.
Di bawah bantal Raka, tersembunyi sebuah amplop kusam. Isinya bukan uang, tapi kertas-kertas berisi gambar yang mereka buat sendiri. Raka menggambar dirinya, Sari, Adi, dan Ibu Lastri sedang berdiri di depan rumah baru yang besar dan bagus. Sari menggambar seekor kucing lucu yang ia beri nama ‘Bintang’, dengan text ‘KAMI MERINDUKANMU IBU’. Adi menggambar mobil-mobilan yang ada lampunya.
Mereka menamai kertas-kertas itu ‘Mimpi untuk Ibu’. Setiap malam sebelum tidur, mereka membacakan doa di atas kertas-kertas itu, berharap angin malam akan membawanya ke Hong Kong, menembus dinding-dinding gedung tinggi dan mendarat di bantal Lastri.
“Mas, Ibu lagi apa ya sekarang?” tanya Adi, sambil memeluk erat gulingnya yang sudah kempes.
“Mungkin Ibu lagi shalat takbir juga, Adi,” jawab Raka.
Tiba-tiba, ponsel Raka bergetar. Sebuah notifikasi muncul. Panggilan Video Masuk: IBU.
Dada mereka berdegup kencang. Raka segera menekan tombol hijau. Layar ponsel perlahan menampilkan wajah Lastri. Wajahnya terlihat lelah, matanya bengkak. Ia sedang duduk di sebuah pojok kamar yang sempit, di balik tumpukan kardus barang-barang.
“Anak-anak… Ibu merindukan kalian,” kata Lastri, suaranya langsung pecah oleh tangis.
“IBUUU!” teriak ketiga anak itu bersamaan, air mata mereka tumpah tak tertahankan.
Mereka mengadu tentang semuanya. Sari tentang mukena pink-nya, Adi tentang mobil-mobilannya, Raka tentang gambar ‘Mimpi untuk Ibu’. Mereka memperlihatkan gambar-gambar itu melalui kamera ponsel.
“Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu. Ibu tidak bisa pulang. Ibu ingin sekali memeluk kalian,” isak Lastri, tangannya gemetar mencoba mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya.
Di balik tangis itu, Raka melihat ketulusan yang luar biasa. Ia melihat kebanggaan di mata ibunya. Ia melihat perjuangan yang tak kenal lelah.
“Ibu, jangan menangis. Kami tidak apa-apa,” kata Raka, suaranya bergetar menahan tangisnya sendiri. “Baju barunya tidak apa-apa, Ibu. Mukenanya tidak apa-apa. Mainannya juga tidak apa-apa. Kami cuma mau Ibu tahu, kami bangga sama Ibu. Kami akan rajin belajar, biar nanti bisa menyusul Ibu ke Hong Kong.”
Panggilan video itu berlangsung selama satu jam. Satu jam yang penuh dengan tangis, tawa, dan janji-janji untuk masa depan yang lebih baik. Panggilan video itu adalah “Lebaran” yang sesungguhnya bagi mereka.
Keesokan paginya, mereka pergi ke lapangan desa untuk shalat Ied. Mereka tidak memakai mukena baru, tidak memakai baju baru, Adi tidak punya mobil-mobilan yang ada lampunya. Mereka hanya memakai mukena tua, baju yang sudah pudar warnanya, tapi di wajah mereka tak ada lagi kesedihan yang mendalam.
Di mata penduduk kampung yang sibuk memamerkan “kilau duniawi”, ketiga anak ini mungkin terlihat menyedihkan. Namun, di mata langit, mereka adalah pahlawan-pahlawan kecil yang telah memenangkan peperangan melawan egoisme. Mereka telah memahami makna fitrah yang sesungguhnya: bahwa kemenangan bukan tentang apa yang kita miliki di dunia, melainkan tentang apa yang kita miliki di hati nurani.
Saat imam takbir, Raka bersujud. Ia merasakan kedamaian yang luar biasa. Ia tahu, di pojok kamar yang sempit di Hong Kong, ibunya juga sedang sujud yang sama, mendoakan hal yang sama, dan mencintai mereka dengan cara yang sama. Di sela-sela sujudnya, ia membayangkan kertas ‘Mimpi untuk Ibu’ yang kini telah berubah menjadi Bintang yang bersinar terang di langit Lebaran mereka.
” Tidak semua anak merayakan Lebaran dengan pelukan, namun sebagian merayakannya dengan doa yang menembus jarak ribuan kilometer. Karena cinta sejati tidak selalu hadir dalam wujud fisik—ia hidup dalam pengorbanan, bertahan dalam rindu, dan bersinar dalam kesabaran yang tidak terlihat oleh mata manusia.”
( Mohon maaf cerita ini hanya fiktif belaka , adapun kesamaan nama dan tempat adalah faktor ketidaksengajaan untuk menambahkan kesan mendalam pada cerita)
