Malam takbiran di jantung kota adalah hiruk-pikuk warna-warni. Etalase mal memantulkan cahaya neon yang menyilaukan, sementara klakson kendaraan seolah berlomba dengan suara takbir yang menggema dari pengeras suara masjid agung.
Di balik tembok beton sebuah pusat perbelanjaan, Pak Darmo duduk bersandar pada karung goni raksasanya. Tubuhnya yang ringkih dibalut kaos kusam yang sudah kehilangan warna aslinya. Di sampingnya, sebuah gerobak kayu tua yang menjadi separuh jiwanya terparkir lesu, penuh dengan botol plastik dan kardus bekas yang ia kumpulkan sejak subuh.
Bagi Pak Darmo, takbir bukan tanda untuk membeli baju baru atau memesan tiket mudik. Takbir adalah pengingat bahwa besok adalah hari di mana ia harus terlihat “bersih” di hadapan Tuhan, meski punggungnya sudah menyatu dengan debu jalanan selama setahun penuh.
Pak Darmo merogoh saku celananya yang berlubang. Ia mengeluarkan bungkusan plastik hitam kecil yang diikat karet gelang dengan sangat rapat. Di dalamnya, terdapat tumpukan uang kertas ribuan yang sudah lecek dan koin-koin yang menghitam.
Itu adalah “Uang Tuhan”, begitu ia menyebutnya. Selama berbulan-bulan, Pak Darmo menyisihkan dua ratus atau lima ratus rupiah dari setiap kilogram botol plastik yang ia jual. Ia menahan lapar di siang hari, hanya demi memastikan plastik hitam ini cukup berat saat malam takbiran tiba.
“Tiga puluh lima ribu… kurang lima ribu lagi,” bisiknya parau, menghitung lembaran lecek itu di bawah temaram lampu jalan.
Tahun ini harga rongsokan turun drastis. Perutnya keroncongan, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Zakat Fitrah. Ia tidak ingin menghadap Idul Fitri sebagai seorang hamba yang “berhutang” pada fakir miskin lainnya, meski ia sendiri seringkali menjadi bagian dari mereka.
Pak Darmo bangkit, memanggul karungnya, dan berjalan menuju masjid kecil di sebuah gang sempit—masjid yang tak semegah masjid agung, tapi pintunya selalu terbuka bagi orang-orang sepertinya.
Di tengah perjalanan, ia melihat seorang wanita muda duduk di emperan toko yang sudah tutup. Wanita itu memeluk seorang balita yang tertidur pulas tanpa alas kaki. Di depan mereka, ada sebuah gelas plastik kosong. Wajah wanita itu pucat, matanya menatap kosong ke arah kembang api yang meledak di langit malam.
Pak Darmo berhenti. Ia melihat plastik hitam di tangannya, lalu melihat balita yang kedinginan itu.
Dilema besar menghantam dadanya. Uang itu adalah zakat fitrahnya—tiket “pembersih” jiwanya agar ia bisa shalat Ied dengan tenang besok pagi. Jika ia berikan sekarang, ia tidak akan punya cukup uang untuk membayar zakat di masjid. Tapi jika ia lewatkan, rasanya sujudnya besok akan terasa sangat hambar.
Dengan tangan gemetar, Pak Darmo mendekat. Ia tidak memberikan semua uangnya. Ia mengambil selembar sepuluh ribu—uang yang sebenarnya ia simpan untuk makan sahurnya yang terakhir.
“Ibu… ini untuk beli susu si kecil,” katanya lembut, meletakkan uang itu di atas gelas plastik.
Wanita itu tersentak, menatap Pak Darmo dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Pak… Bapak sendiri…”
“Sudah, jangan dipikirkan. Gusti Allah itu Maha Melihat,” potong Pak Darmo sambil tersenyum, menampakkan deretan giginya yang sudah jarang.
Ia melanjutkan langkahnya menuju masjid. Saat tiba di meja panitia zakat, ia menyerahkan plastik hitam itu. Panitia melihat uang lecek dan koin hitam di dalamnya dengan tatapan heran, lalu mulai menghitungnya.
“Pak, ini jumlahnya pas tiga puluh lima ribu rupiah. Sesuai harga beras standar,” ujar panitia itu sambil menuliskan kuitansi.
Pak Darmo menarik napas lega. Ia tidak punya sisa uang sepeser pun di sakunya. Sahurnya besok mungkin hanya akan ditemani air keran masjid. Namun, saat ia melangkah keluar dari masjid, ia merasa tubuhnya seringan kapas.
Pagi Idul Fitri tiba. Pak Darmo mengenakan kemeja terbaiknya—satu-satunya kemeja berkerah yang ia temukan di tumpukan baju bekas tahun lalu. Ia shalat Ied di barisan paling belakang, beralaskan kardus bersih.
Saat imam mengucap salam, Pak Darmo bersujud sangat lama. Di atas trotoar yang keras itu, ia merasakan kehangatan yang tak bisa dibeli dengan uang miliaran. Ia menyadari bahwa ia baru saja menyelesaikan “zakat” yang paling berat: zakat dari rasa egoisnya sendiri.
Ia mungkin seorang pemulung yang tangannya berbau sampah, tapi di pagi yang fitrah itu, jiwanya beraroma kasturi. Ia telah membuktikan bahwa berbagi bukan tentang seberapa banyak yang kita punya, tapi tentang seberapa besar bagian dari diri kita yang berani kita lepaskan untuk orang lain.
“Kekayaan hati tidak diukur dari seberapa tebal amplop yang kau beri, tapi dari seberapa perih kau melepaskan apa yang paling kau butuhkan demi orang lain. Zakat yang paling suci seringkali datang dari tangan-tangan yang kasar dan berdebu, karena di sana tidak ada ruang untuk kesombongan, yang ada hanyalah ketulusan yang murni.”
