Bagi sisa dunia, Ramadan adalah tentang cahaya. Cahaya lampu gantung di restoran mewah tempat orang-orang tertawa di atas meja penuh hidangan, atau cahaya lampu kilat ponsel yang menangkap momen lima orang pemuda bersedekap di depan pilar masjid megah dengan takarir: “I’tikaf Malam ke-29, Berburu Cahaya.”
Aris menatap layar ponselnya di sudut kamar yang temaram. Ibu jarinya terus bergerak ke atas, melewati deretan foto buka bersama (bukber) teman-temannya yang nampak sangat bahagia. Ada foto meja penuh sushi, ada foto tawa di kafe berkonsep industrial, dan ada pula unggahan cerita pendek seorang kawan yang sedang membagikan paket sembako dengan wajah menoleh ke arah kamera.
“Ramadan tahun ini sepertinya sangat… sibuk,” gumam Aris lirih.
Ia menoleh ke arah meja kecil di samping tempat tidurnya. Di sana hanya ada segelas air putih dan sepotong roti sobek sisa sahur tadi. Aris tidak punya foto bukber untuk diunggah. Ia tidak punya momen “sujud bersama” di masjid ikonik untuk dipamerkan. Ramadannya tahun ini adalah Ramadan yang sunyi; antara jam kerja yang padat, kelelahan fisik, dan perjuangan melawan sepi di perantauan.
Esok malamnya, Aris mencoba ikut “berburu cahaya”. Ia datang ke sebuah masjid terkenal di pusat kota yang sering muncul di lini masa. Benar saja, masjid itu penuh sesak. Namun, Aris merasa ada yang ganjil.
Di barisan belakang, ia melihat sekelompok orang sedang mengatur posisi agar kamera ponsel bisa menangkap wajah mereka yang sedang memegang Al-Qur’an dengan latar belakang kubah emas. Di sudut lain, sebuah keluarga sibuk berbisik mengatur anak-anaknya agar nampak “estetik” saat berdoa, demi sebuah unggahan yang nantinya akan dipuji oleh orang asing di internet.
Aris merasa seperti berada di sebuah panggung sandiwara besar. Seolah-olah, ibadah belum sah jika belum diberi tanda pagar. Seolah-olah, Tuhan baru akan mendengar doa jika sudah ada ribuan likes yang mengamini.
Ia teringat kata-kata gurunya dulu: “Hati-hati dengan riya yang halus, ia lebih tersembunyi daripada semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam.”
Aris perlahan bangkit. Ia merasa sesak di tengah keramaian yang sibuk memoles citra itu. Ia memutuskan untuk pulang.
Di perjalanan pulang, motor Aris melambat saat melewati sebuah gang sempit di samping pasar loak. Di sana, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, ia melihat seorang pria tua—mungkin seorang pemulung—sedang duduk bersimpuh di atas selembar kardus.
Di depan pria itu, hanya ada sebotol air mineral dan sebungkus nasi sisa yang ia bagi dua. Tidak ada ponsel di tangannya. Tidak ada lampu kilat yang menyambar wajahnya. Pria itu menengadah ke langit malam, bibirnya bergerak pelit melafalkan syukur, lalu ia meminum airnya dengan gerakan yang sangat lembut, seolah air itu adalah nektar paling mewah di bumi.
Aris terpaku. Di tempat yang paling tidak “estetik” itu, ia justru menemukan Ramadan yang sesungguhnya. Di sana tidak ada pamer, tidak ada jadwal kesenangan yang harus diposting, tidak ada masjid megah yang harus ditandai lokasinya. Yang ada hanyalah percakapan jujur antara seorang hamba yang lapar dengan Tuhannya yang Maha Memberi.
Sesampainya di kamar, Aris mematikan ponselnya. Ia meletakkannya di dalam laci, jauh dari jangkauan tangan. Ia kemudian membentangkan sajadah tuanya yang mulai menipis.
Ia mulai shalat. Kali ini, ia tidak peduli apakah punggungnya terlihat tegak atau tidak. Ia tidak peduli apakah cahayanya cukup untuk sebuah foto. Ia hanya ingin sujud. Sebuah sujud yang hancur, yang tidak butuh penonton, yang tidak butuh pengakuan dari dunia luar.
Aris menyadari bahwa Ramadan di media sosial adalah sebuah “etalase”—sebuah tampilan luar yang indah namun seringkali kosong. Ia tidak lagi merasa iri pada jadwal bukber mewah teman-temannya. Ia tidak lagi merasa kecil karena tidak bisa i’tikaf di masjid terkenal.
Karena di malam itu, dalam kegelapan kamarnya, Aris merasa “kereta ampunannya” justru tiba lebih awal. Ia menemukan bahwa keberkahan tidak selalu berada di tempat yang paling banyak diposting, melainkan di tempat yang paling tulus dirasakan.
“Ibadah adalah rahasia antara kau dan Penciptamu. Jangan sampai kesibukanmu memoles ‘konten’ membuatmu lupa memoles ‘hati’. Sebab pada akhirnya, yang naik ke langit bukanlah foto-foto indahmu, melainkan getaran ketulusan yang tak pernah sempat kau unggah ke dunia.”
