Saat musim kemarau, kita harusnya menyadari bahwa interaksi manusia dengan alam tak bisa dianggap remeh. Persoalan ini harus disikapi dengan serius, untuk menjaga keberadaan air agar tak benar-benar habis saat musim kemarau tiba. Manusia harusnya belajar memahami bahwa memiliki cadangan air, butuh waktu dan sikap serius dari kita sebagai manusia dan penggunanya.
Saat dewasa dan mengerti soal kehidupan, saya belajar memahami kalimat yang mengatakan bahwa “Pernikahan adalah satu keputusan politik.” Saya akhirnya mengerti, mengapa menikah adalah bagian dari keputusan politik. Karena ketika seseorang telah menikah, ia akan menemukan banyak realita nyata di masyarakat.
Realita, yang erat kaitannya dengan proses lahirnya berbagai kebijakan yang mengatur kehidupan bermasyarakat.
Tentunya sesederhana urusan harga garam yang kita pakai untuk memasak. Garam sebagai bumbu dan pemain inti dalam masakan banyak dapur di Indonesia. Namun jika diulas, garam bisa menjadi akar pembahasan tentang bagaimana negara mengelola kekayaan maritim ini.
Interaksi Manusia dengan Alam
Semua interaksi manusia di suatu negara dengan alamnya ternyata bisa didiskusikan dengan serius. Apalagi saya teringat, dulu waktu sekolah dasar pernah membaca salah satu majalah pendidikan bernama Sigma. Sekitar tahun 2010 dan 2011-an, ada satu tulisan yang saat itu membuat saya takut akan masa depan.
Dalam majalah itu, seorang penulis yang mengungkapkan angan-angan, bahwa di tahun 2045 orang-orang akan menyadari bahwa pohon adalah sesuatu yang berharga. Namun mereka menyadari kegunaannya ketika pohon itu tinggal satu di dunia. Di tahun itu, orang-orang akan kelaparan, butuh air, dan kesulitan hal-hal pokok.
Segala kemajuan dan modernitas yang terjadi di dunia sudah tidak akan berarti lagi. Karena suatu hari di tahun itu pohon akan habis, sedangkan perannya sangat berharga. Saya rasa penulis tepat betul, menggunakan bahasa seperti itu untuk membangun perasaan dan pengelolaan diri untuk anak seusia 10 dan 11 tahun.
Buktinya saya sebagai pembacanya, memaknai rasa takut yang ditanamkan penulis itu. Saya mengerti bahwa, penulis menyampaikan pesan yang dalam. Manusia dan teknologi tak ada apa-apanya di masa depan, jika kehidupan mereka tak berkeseimbangan dengan alam.
Saat ini, saya hidup berumah tangga memasuki tahun ke-lima. Hari ini adalah perjalanan kemarau ketiga yang kategorinya termasuk parah. Saya mengarunginya bersama suami saya, keadaan yang lumayan menguras tenaga dan waktu tentunya.

Memang tidak setiap tahun kami mengalami kemarau yang benar-benar ekstrim. Karena masih ada sumber air yang bisa kami peroleh dan bisa kami akali dengan listrik dan mesin air. Kami pun sebelumnya memperoleh air dari sumur dari saudara, namun di musim kemarau sekarang ini kita merasakan bahwa airnya sekarang mulai berkurang.
Cara Keluarga Kami Bertahan di Musim Kemarau
Untuk menyiasatinya, kami mencuci baju dan piring ke tempat yang agak jauh, serta selalu sekalian membersihkan diri setelah seharian beraktivitas. Hal yang kami alami kabarnya masih sangat tidak ada apa-apanya, karena saya mendengar ada beberapa desa yang sudah benar-benar kesulitan air, apalagi air bersih. Saya juga pernah menerima imbauan, bahwa warga harus segera melapor ketika ada dusun yang mulai kekeringan total dan butuh bantuan air.

Saya mendengar beberapa desa dikirimi oleh BPBD, dan mereka dipasok sekitar satu minggu dua dan tiga kali untuk stok khusus masyarakat serta fasilitas umum. Namun ada kabar baik di sebagian desa yang justru dianggap kuno karena tetap menganggap hutan sebagai area sakral, mereka masih dengan tenang karena ketersediaan air di daerahnya masih cukup bahkan melimpah. Menjaga gunung dan hutan dengan sebutan pamali dan memegang adat, adalah hal yang dianggap kuno bagi sebagian orang.
Padahal berbeda dengan masyarakat desa lain yang sudah mulai mengganggu sumber air, mereka yang kuno itu justru lebih aman dan lebih dekat dengan alam. Di masa modern ini, alih-alih menyalahkan kepercayaan mereka tentang kebiasaan kuno itu, justru menurut saya hal itu sangat dibutuhkan sekarang ini. Saat modernitas mengalir, bahkan sampai ke desa, justru nampaknya kita sebagai manusia harus lebih memahami bagaimana alam bekerja.
Masyarakat Kuno, Dianggap Lebih Baik
Jika kita menjaganya, maka alam juga pasti akan melimpahkan banyak hal pada kita sebagai penjaganya. Sebut saja banyaknya kerusakan di muka bumi sekarang di Indonesia, tentunya bukan tanpa campur tangan manusia. Dari semua buku tentang interaksi manusia dengan alam yang saya baca, mulai dari Sigma, Meraba Indonesia hingga Reset Indonesia, sangat menyadarkan saya.
Menyadarkan secara sederhana, bahwa saya mengalami kemarau berkepanjangan hingga merasakan mencari sumber air jauh dari rumah, ini adalah sesuatu yang tidak jauh dari keputusan manusia. Saya sebenarnya hidup di dusun yang pasokan airnya berasal dari gunung. Namun akhir-akhir ini air dari sumber ini banyak tersendat, karena operasionalnya banyak terganggu satu dan lain hal.
Menurut orang tua kami, semakin tahun kemarau semakin menunjukan perbedaannya. Biasanya air tanah dan ulu air masih bisa dipertahankan dan keberadaannya berlimpah. Sekarang kita harus benar-benar berhati-hati menggunakan air, karena beberapa sumber benar-benar hilang saat kemarau.
Semoga saya yang masih belum bisa berkontribusi banyak untuk bumi, juga punya pengaruh walau dengan cara lain. Saya yang belajar tentang interaksi manusia dan alam, banyak membaca buku, dan menghayati bahwa air adalah hal yang penting dan harus di hemat. Mari kita jaga bumi dengan hemat air, dan berusaha menjaga hutan dan alam dengan tak mencemarinya.
