Berbagai Wahana yang Ditawarkan (Sumber: Dokumen Pribadi)
Akhir-akhir ini ada istilah yang membuat hangat media sosial, yakni ungkapan ‘in this economy’. Biasanya persoalan yang menyertainya adalah tentang keuangan keluarga, taraf ekonomi seseorang dan kehidupan sosial, atau jika lebih luas lagi biasanya membahas tentang perekonomian di negara kita Indonesia. Di tengah carut marutnya ekonomi, mengapa masih banyak orang Indonesia yang membeli pakaian terkini, mengikuti tren viral atau pergi berwisata ke pasar malam?
Hal ini ingin ingin saya kupas, sebab di daerah saya sekarang tengah diadakan pasar malam yang populer disebut sebagai pameran. Dalam pelaksanaannya, terdapat penjaja makanan, mainan anak, pakaian, perabot rumah tangga dan juga penyedia wahana permainan. Saya lantas merasa penasaran, apa sih yang membuat orang berbondong-bondong rela menghabiskan waktu dan uangnya untuk mendatangi pasar malam.
Di tengah hiruk pikuk aktivitas manusia yang sedang bertahan hidup dan keadaan ekonomi yang rasanya semakin menyempit. Saya melihat fenomena populernya pasar malam di tengah masyarakat. Lalu saya mencoba menjajal, bagaimana sebenarnya sudut pandang orang-orang di daerah mengenai minat mereka mengapa ingin mendatangi pasar malam.
1. Arena Pasar yang Gratis
Masyarakat bisa memasuki arena pasar malam secara gratis, siapapun bisa datang ke tempat ini. Mereka bisa berfoto, hanya berjalan-jalan, atau sekadar menghabiskan waktu di tengah keramaian. Siapapun bisa masuk ke sini secara gratis, pasar malam yang dilaksanakan di daerah saya hanya mematok biaya parkir untuk mereka yang membawa kendaraan.
Pasar yang luas memungkinkan pengunjung untuk berkeliling dan berjalan-jalan. Menghabiskan waktu bersama keluarga adalah kegiatan yang cocok ketika mendatangi pasar malam ini. Pasar yang buka dar sore hari menjelang petang, akan lebih ramai ketika malam hari tiba, jadi pengunjung harus pintar melihat waktu kapan wahana dibuka.

2. Wahana yang Ditawarkan Relatif Murah
Ketika datang ke pasar malam, pengunjung harus menyiapkan sejumlah uang jika ingin mengikuti berbagai wahana. Mulai dari melukis, wahana komidi putar, sangkar burung, taman balon anak dan banyak lagi wahana lainnya. Sistemnya tidak seperti dulu yang mengharuskan kita membayar uang secara cash di tempat permainan, sekarang tersedia loket khusus untuk menukarkan uang menjadi sebuah kertas berbentuk tiket yang nantinya bisa pengunjung tukar sebagai alat transaksi menaiki wahana.
Saya melihat fenomena betapa diminatinya wahana yang mereka tawarkan. Saya pribadi mengantar anak untuk melukis dikenakan tarif Rp. 15.000. Menaiki wahana anak masing-masing Rp. 10.000, dan ada beberapa wahana yang bisa dinaiki oleh orang dewasa tapi tiketnya tidak sampai Rp. 20.000.

Anak saya pun menaiki beberapa wahana anak dengan durasi yang cukup lama. Bagi saya, tarif itu cukup ramah di kantong untuk keluarga semacam kami kelas menengah ke bawah. Jadi tidak heran jika wahananya selalu ramai, dan pasar malamnya juga dikunjungi banyak orang, karena itu salah satu faktornya.
3. Makanan dengan Harga Murah
Saat saya mencoba menjajal beberapa jajanan, ternyata stan makanan yang tersedia memang sangat banyak. Tidak dikelompokkan, tapi hampir di setiap sudut lapangan ada penjaja makanan. Namun makanan-makanan yang ditawarkan dengan bandrol yang murah ini ternyata mulai terasa asing di kepala.
Saya dan suami akhirnya hanya membeli 4 tusuk makanan yang ditawarkan. Masing-masing adalah sosis dan bakso tusuk yang dikenakan tarif Rp.20.000 oleh penjualnya. Lalu saya perlahan mengedarkan pandangan, di sana dijajakan cheese coin, burger, kebab dan makanan-makanan asing lain yang mungkin di lidah saya terasa aneh.
Namun jangan khawatir, ketika pengunjung berjalan-jalan tersedia juga makanan-makanan lokal dan murah seperti bakso, cimol, makaroni dan martabak. Tentunya tidak ketinggalan, makanan khas pasar malam yakni permen kapas atau aromanis. Semuanya harganya terjangkau, tapi kami hanya membeli makaroni, sosis dan bakso bakar, serta arumanis warna biru.
4. Barang Dijual dengan Harga Murah
Bukan hanya makanan dan wahana permainan, di pasar malam juga terdapat penjual barang-barang. Dimulai dari pakaian dewasa hingga anak, mainan, perabot rumah tangga, aksesoris, dan banyak hal lainnya yang dijual di pasar malam. Masing-masing menjajakan barang dagangan dengan menuliskan bandrol besar agar terlihat oleh para pengunjung.
Saya melihat penjaja pakaian di sudut lapangan menuliskan angka 25.000 di bagian rak celana. Penjual memasang patokan harga dengan potongan yang cukup besar, dan barang-barang yang disediakan di pasar malam juga masih wajar dan bisa ditawar. Saya memutuskan untuk tidak terlalu jauh menjajal tempat penjualan pakaian karena kami rasa menaiki wahana dan menemani anak kami bermain dan membeli makanan juga sudah cukup.
Kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah sekitar pukul 20.30 WIB. Dari semua analisa yang saya lakukan, dan melihat kenapa di tengah ekonomi yang sulit seperti ini masih banyak yang meminati pasar malam. Alasannya karena wahana dan makanan yang ditawarkan murah, masih terjangkau, dan bisa dinikmati oleh siapapun.

Dalam tulisan poster di pintu masuk pun, pasar malam ini diklaim sebagai taman bermain keluarga. Memang wahana yang tersedia untuk semua umur dan kita bisa bisa membawa anak-anak untuk menjelajahi banyak permainan. Tak sedikit wahana untuk orang dewasa dan menantang adrenalin, bagi yang suka tantangan hal ini pasti cukup menarik.
Namun kita juga patut berjaga-jaga dan waspada. Karena kita memasuki pasar malam ini secara gratis, wahana yang disediakan murah. Kita juga harus berhati-hati tentang protokol keselamatan dan kesehatan kita. Jika diperhatikan, standar keselamatan dan keamanan masih sangat minim sehingga tergantung kita sebagai orang tua yang harus telaten betul menjaga anak.
Selalu berhati-hati saat naik wahana atau mendampingi anak. Jangan lupa tentunya untuk selalu berjaga-jaga atas barang bawaan pribadi, karena mudahnya akses dan siapapun bisa masuk ke pasar malam. Kita tidak tahu bagaimana tingkat keselamatan yang kita punya.
Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya masing-masing, tidak boleh sembarangan menyimpan barang, selalu bersamai anak dan tidak boleh jauh dari orang tua supaya tetap aman dan tertib sampai pulang.
