Cuplikan Film Kisah Balita Populer/Baby's Day Out (Sumber: Suara.com)
Tak boleh abai, menjaga anak adalah tanggung jawab orang tua. Lengah sebentar saja, bisa mengundang bahaya bagi anak yang sedang senang-senangnya mengeksplorasi banyak hal. Berbagai kasus yang menimpa anak, seperti KDRT dan bullying adalah berbagai contoh kelalaian orang tua mengenai pola asuh anak.
Sebagai orang tua, saya cukup sedih mendengar berita tentang anak yang menangis ketika ditinggal sarapan oleh orang tuanya di sebuah tempat penginapan. Sang anak diduga inisiatif mencari orang tuanya, hingga terjatuh dari lantai 5 sebuah bangunan. Saya cukup miris dan bisa merasakan, bahwa menjadi orang tua adalah masa-masa emas, sekaligus sulit.
Saya pribadi sebagai ibu, banyak mempertimbangkan jika saya memutuskan untuk bepergian. Apakah anak saya aman berada dengan orang yang tepat? Faktor kenyamanan pun saya selalu pikirkan.
Meninggalkan Anak
Bahkan saya mulai berpikir sedikit demi sedikit membiasakan mental saya untuk meninggalkan anak. Melatih dirinya supaya ia suatu hari bisa ditinggal bekerja. Sebenarnya saya banyak berpikir ulang soal kelangsungan keseharian anak saya nanti.
Disamping soal keamanan, saya juga sebenarnya tak punya tempat penitipan seperti yang diceritakan orang. Kerabat dekat pun punya kesibukan masing-masing, bahkan mertua saya dua-duanya bekerja. Jadi, untuk sekadar menitipkan anak pun saya selalu berpikir ulang.
Terlebih, suami saya pernah berkata. “Kalau kamu kerja, dan gajinya hanya cukup untuk ongkos pulang pergi, aku rasa lebih baik di rumah saja. Si Dede mau sama siapa juga, uangku belum cukup untuk membayar pengasuh.” Walhasil anak jadi benar-benar menempel dan tak mau jauh dari saya, ibunya.
Menyoal ikatan antara orang tua dan anak, juga mengingat kasus balita yang terjatuh ketika ditinggal sarapan. Saya juga punya pengalaman pahit, hampir persis seperti apa yang terjadi pada orang tua sang anak. Bedanya, kronologi ini terjadi di rumah dan dalam lingkungan terdekat, makannya saya sangat sesali karena pengawasan anak yang dinilai longgar waktu itu.
Kejadian Tak Terlupakan
Dulu, anak saya pernah ditinggalkan untuk berkegiatan di rumah tetangga, pagi-pagi sekali. Saya harus sudah keluar rumah dan meninggalkan semua pekerjaan rumah karena saya harus turut membantu mengerjakan sebuah proyek pembuatan makanan yang harus selesai di sebelum jam 8 pagi. Saat itu di kampung kami ada acara, sehingga patokan waktu sangat penting kala itu.
Saya meninggalkan anak dalam keadaan masih tidur di rumah, saya berpikir ia masih sangat pulas tidurnya. Namun saya juga tak serta merta meninggalkannya sendirian, ada Ayahnya di rumah dalam keadaan tidur pula. Pola yang saya ingat waktu itu, seharusnya setelah sadar saya tidak ada, anak akan bertanya pada Ayahnya dengan membangunkannya terlebih dahulu.
Bodohnya, saya sangat percaya diri bahwa pola itu akan terjadi. Fatal sekali, saya meninggalkan anak saya dalam pintu dan gerbang yang tidak terkunci. Saya merasa cukup memahami, bahwa anak saya pasti akan mencari saya, namun hanya akan mencari di rumah saja.

Benar saja, semua pola yang saya pikirkan seluruhnya salah. Dugaan dan persepsi saya bahwa ia akan membangunkan Ayahnya terlebih dahulu juga menjadi hal yang tak dilakukan oleh anak saya. Tiba-tiba pagi itu menjadi pembuka hari yang mengerikan bagi saya dan keluarga.
Mengambil Makna Dari Kejadian
Masih beruntung, rumah tetangga hanya berjarak beberapa meter. Jadi, tangisan anak saya dari rumah dan beranda, cukup terdengar dengan jelas. Kala itu saya meninggalkan anak belum bangun dari tidurnya, entah kenapa saya sangat yakin bahwa dia tidak akan bangun sebelum saya pulang.
Ia punya kebiasaan, akan bangun cukup siang jika malamnya ia tidur terlalu larut malam. Namun di hari itu peristiwa menjadi berbeda, anak saya bangun lebih cepat dan terlihat sangat panik saat ditemui. Menurut pengakuannya dengan bahasa balita, ia telah mencari saya kemana-mana, di seluruh sudut ruangan di rumah.
Namun karena panik dan sedih, ia tidak bertanya pada ayahnya. Ayahnya yang tidur lagi setelah Subuh, tidak menyadari bahwa anaknya menangis dan betapa sedihnya ia mencari ibunya. Peristiwa menjadi lebih menegangkan, ketika anak saya bisa membuka pintu dan keluar dari gerbang rumah.
Sepertinya anak saya mengetahui saya berada di rumah tetangga, namun salahnya ia mencari ke rumah tetangga sebelah kiri. Padahal saya sedang berada di rumah tetangga sebelah kanan, namun untuk sampai menuju rumah tetangga, saya yang harus menyusuri jalanan terlebih dahulu. Spontan ia menangis sekencang-kencangnya dan mencari perlindungan, atau mungkin mencari orang di sekitar rumah.
Waktu itu pagi sekali, tetangga belum banyak yang beraktivitas di luar rumah.
Bayangkan, anak dua tahun terlunta-lunta di jalanan pagi hari, mencari orang dewasa, mencari bantuan untuk mencari ibunya. Ia menangis dalam keadaan mengenakan piyama, pintu rumah terbuka dan gerbang pun terbuka lebar. Salah saya pula tidak menutup gerbang, tiba-tiba saya terpikir keras mengingat kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Dampak Dari Kejadian
Bagaimana jika hari itu ada kendaraan yang lalu lalang, atau ada orang yang tidak baik menjumpai dia dalam keadaan panik. Setelah mendengar suara tangisan anak yang histeris, saya memeriksa dan segera menghampirinya. Dia sangat panik, ketakutan, dan jantungnya berdetak sangat kencang.
“Sayang, ini Mama ada di sini. Mama sekarang udah ada di dekat Dede. Maaf ya tadi Mama tinggal sebentar.”
Seketika anak saya dengan wajah panik, memeluk saya erat-erat dan ia tidak ingin melepaskannya. Saya merasakan betul emosi yang dia sampaikan pada saya secara pribadi, ia sangat ketakutan dan membutuhkan saya, tidak ingin jauh dari saya. Saya juga teringat kepada anak yang ditinggal sarapan itu, mungkin ia juga panik seperti apa yang anak saya alami.
Balita ketika bangun tidur mendapati orang tuanya tidak ada, maka rasa nyamannya hilang seketika. Terbayang kalang kabutnya, sebab anak saya juga keluar dari pintu gerbang dan lari tak tentu arah. Terbayang, ia memutuskan bertekad mencari orang tua bagaimanapun caranya, hingga ia terjatuh dari lantai atas.
Semoga banyak hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa ini, orang tua lebih waspada dan perlindungan terhadap anak-anak lebih diperketat lagi.
