Ilustrasi (Icons8 Team/Unsplash)
Belakangan ada kejadian yang benar-benar menurut saya tidak masuk akal. Dibikin kesal oleh seseorang. Logika berkata seharusnya dia tidak melakukan hal tersebut. Hati pun sama saja, turut kesal pada perbuatannya. Lisan? Susah payah ditahan untuk tidak mencaci maki mengungkapkan kekesalan. Betapa lelahnya memahami orang lain.
Berkali-kali merenung dan mengucapkan kalimat istighfar. Meminta ampun kepada Allah dan memohon ketenangan agar kemarahan ini tak harus membludak.
Jujur rasanya ingin sedikit mencubit menggunakan tang, atau mencetak kepalanya menggunakan martil. Bayangan di kepala sudah kemana-mana, pertanyaan-pertanyaan yang menjengkelkan berkumpul di kepala.
Kok bisa dia melakukan itu?
Kok bisa dia nggak bilang sebelumnya?
Kok bisa-bisanya di belakang melakukan itu semua?
Namun memang tak ada gunanya untuk marah-marah. Sebab orang yang membuat kesal tak lagi ada di depan mata. Saya pikir hanya menghabiskan energi saja. Jika saya sama mengesalkannya berarti sama saja dengan orang itu.
Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi mempedulikan. Bukankah peduli berarti memperhatikan? Saya akan belajar abai dan tak akan lagi berinteraksi dengannya.
Setelah berhari-hari menenangkan diri, akhirnya saya paham. Berharap agar diri dan semua yang kita maksud selalu dipahami orang lain, itu adalah hal mustahil. Apalagi jika seseorang yang diharapkan mengerti itu tak pernah peduli.
Saya pun mengambil kesimpulan, bahwa memahami orang lain memang sulit. Namun jauh lebih sulit dan melelahkan jika kita terus berharap dipahami orang lain.
Ketika kita sudah paham dengan perlakuan, sifat dan sikap karakter seseorang kepada kita, cukuplah kita katakan, “Oh mungkin memang begitu karakternya.”
Sudahlah tak usah digubris lagi. Cukup jaga jarak bahkan kalau bisa lupakan tak perlu berinteraksi lagi.
Sungguh, hati dan pikiran kita tak perlu dibebani oleh seseorang yang berbuat curang. Tidak perlu dibebani oleh seseorang yang tidak menghargai pekerjaan kita.
Ketika kita bisa bekerja dengan baik, anggaplah itu memang nilai kita seperti itu. Percaya diri saja memang kemampuan kita tak perlu mengejar penghargaan dari orang lain. Cukup terus maju, terus berani dan terus melakukan yang terbaik. Karena nilai baik akan kembali kepada siapa yang mengusahakannya.
