Saya masih teringat ketika Persib dipandang mustahil untuk juara oleh pelatih asing sebab dalam sejarah hanya pelatih local yang mampu melakukan itu. Indra Thohir dan Djadjang Nurdjaman yang mampu membawa Persib untuk juara dikasta tertinggi Liga yang bergulir di Indonesia.
Saya masih teringat ketika Persib terseok-seok dimusim tahun 2023 awal kemudian ditinggalkan oleh pelatih Luis Mila sehingga Bobotoh hilang harapan untuk juara liga dan menganggap bahwa memang betul persepsi Persib tidak akan bisa juara oleh pelatih asing.
Namun, hal itu digoyahkan oleh seseorang yang Namanya jauh dari jajaran pelatih terkenal, Bojan Hodak. Ya dia menggugurkan semua persepsi itu bahkan bisa juara tiga kali berturut-turut di Liga Indonesia dan membuktikan bahwa tidak ada kemustahilan selagi ada keyakinan dan usaha yang tak pantang menyerah.
Lalu, bagaimana dengan kehidupan kita hari ini, apakah sudah juara sesuai versinya? Atau masih berusaha untuk mencapai juara (tujuan) selanjutnya?
Kisah pendek itu, kita bisa belajar bahwa segala tujuan yang ingin dicapai sering kali tidak hanya dihadapkan kepada tantangan secara internal. Akan tetapi ada juga hambatan penilaian sosial yang membentuk cara pandang terhadap kemampuan diri sendiri.
Terkadang ada anggapan bahwa tujuan itu terlalu sulit, tidak mudah digapai dan bahwa mustahil untuk bisa dicapai. Terkadang dalam kondisi ini akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk memulai, mempertahankan bahkan menghentikan usaha.
Kemudian lahir sebuah pertanyaan, bagaimana manusia memaknai sebuah persepsi kemustahilandalam proses mencapai tujuan? Dan harus bagaimana keyakinan dan ketekunan membentuk manusia dalam menghadapi keragunan atau hambatan untuk mencapai tujuan?
Keterikatan kemampuan manusia untuk mencapai tujuan dapat dijelaskan melalui tiga konsep yaitu Growth Mindset, Self Efficacy dan Grit.
Growth Mindset adalah cara berfikir yang selalu menerima atas perubahan sesuatu dan kemampuan berkembang melalui belajar, pengalaman dan usaha. Kemampuan ini selalu bersedia untuk menghadapi kesulitan dan tantangan demi meningkatkan diri.
Berbeda dengan fixed mindset yang mengartikan bahwa kemampuan sesuatu yang bersifat tetap atau tidak mau menerima perubahan. Sikap ini lebih memandang bahwa jika gagal berarti ditakdirkan Tuhan menjadi manusia gagal. Self Efficacy (efikasi diri) merupakan keyakinan diri sendiri atas kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
Kepercayaan ini mendorong untuk memikirkan dan berusaha keras melewati tantangan dan hambatan yang ada. Biasanya, seseorang dengan efikasi diri yang tinggi akan membayangkan kesuksesan dimasa depan karena ada kepercayaan pada diri sendiri.
Grit merupakan kemampuan untuk mempertahankan (konsisten) usaha dan komitmen terhadap tujuan dalam jangka panjang. Ketekunan sebagai proses menghadapi hambatan dan tantangan sebab keyakinan saja tidak cukup untuk mengubah tujuan mencapai pencapaian.
Manusia memaknai kemustahilan tidak selalu menjadi batas objektif dalam menggapai tujuan, tetapi dapat muncul sebagai persepsi yang terbentuk melalui pernilaian sosial dan kondisi manusia. Hal tersebut dapat direspon melalui proses keyakinan untuk membuka pikiran dan keteguhan hati demi mempertahankan orientasi tujuan.
Sedangkan usaha dan ketekunan menjadi langkah nyata dari keyakinan itu. Ketiga kemampuan di atas merupakan perluasan pemahaman dengan menempatkan persepsi manusia dan sosial sebagai proses pembentukan makna bahkan menjadi ruang untuk menetapkan tujuan, strategi dan evaluasi kegagalan.Â
