Ilustrasi Anak Bersama Ayah Tanpa Ibu (Sumber: Unsplash/Aleksandar Popovski)
Hal yang sangat menyakitkan pernah saya dengar dari mulut kerabat dekat saya sendiri. Ia menuturkan bahwa, “Pemerintah itu salah jika memberikan santunan kepada kepada anak piatu, mereka hanya tidak punya ibu bukan tidak punya ayah. Hidup mereka tetap terjamin, sebab ayahnya masih mampu mencari nafkah.”
Ia melanjutkan dengan sangat tegas, “Mari kita lihat beberapa kasus di kampung ini, banyak kok yang Ayahnya sejahtera. Tapi kok kenapa dibantu ya? Menurut saya pemerintah itu salah kaprah.”Â
Kalimat itu terdengar berat, ketika kerabat saya mendapati data dan fakta bahwa ternyata ketika ada bantuan dana sosial bagi keluarga yatim piatu, terdapat kursi yang tersedia bagi mereka yang menyandang status piatu. Rupa dan jumlah bantuan yang sama, menjadi terlihat tidak adil. Karena anak yatim kehilangan figur pencari nafkah dan mereka banyak yang mau tak mau mencoba bertahan hidup, sedangkan anak piatu masih bisa diperjuangkan hidupnya oleh ayahnya.
Cerita Anak Piatu
Sungguh tersayat hati saya seketika itu juga. Ia tidak menyadari kalau ia sedang berbicara dengan seseorang yang pernah menjalani hidup masa kecil sebagai seorang piatu di tengah masyarakat. Jujur, saya juga sering sekali dikasihani dan saya juga pernah mendapatkan bantuan seperti yang dimaksud oleh kerabat saya tadi.
Saya pernah masuk ke dalam daftar nama yang keluar dari baznas saat pembagian zakat idul fitri di kampung. Saya sangat bersyukur hal itu terjadi, sebab ternyata masih banyak orang yang ingat. Bahwa orang yang kehilangan ibunya juga memiliki sakit yang sama, meski mungkin level efek kehilangannya di dunia terlihat berbeda.
Saya membahas hal ini karena saya pernah menemukan utas di sosial media. “Kalian gak tau betapa malunya wajah kita dijual di suatu kegiatan, entah itu berdoa bersama, acara santunan, atau sekedar acara mengemis doa pada kami. Katanya doa kami paling mujarab, aamiin kami menembus langit. Kami disantuni dengan uang yang tidak seberapa. Kami seakan dijual sebagai anak yatim piatu, difoto dan dikasihani oleh banyak orang.”
Tidak Menyukai Seremoni
Saya mengerti, sebab itu bukan suatu kebanggaan. Sejalan dengan pemikiran saya, bahwa kami sangat merasa sakit ketika menyadari bahwa kami kehilangan orang-orang yang kami cintai. Tapi cara mengasihani kami kadang berlebihan, bahkan kami tak suka seremoni.

Kehilangan orang tua, tidak bisa di definisikan. Donasi harta dunia sebanyak apapun tak bisa mengisi ruang kosong di hati kami. Mereka berdonasi pada kami dengan dalih “lumayan” sebagai penghibur, tapi jauh di lubuk hati kami, hal ini tak ada apa-apanya.
Terima kasih orang dermawan yang sering menyisihkan hartanya untuk kami tempo hari. Menjadikan saya lebih kuat, saya sekarang masih hidup dan bisa melanjutkan hal-hal di dunia yang memang mungkin sempat terhenti. Bahkan ketika saya berpikir bahwa hidup saya akan terasa buntu setelah kehilangan ibu.
Bukan tak tahu terima kasih, tapi ketika kami di kasihani, kami juga sangat ingin menjadi diri sendiri. Wajah kami tidak dipamerkan sebagai bahan kesedihan dan refleksi hidup orang lain. Kehidupan kami sangat sempit, namun tak seketika menjadi luas dengan seremoni dan acara santunan itu.
Cara Bijak Membantu
Setelah dewasa saya menyadari, betapa harus bijaknya kita dalam membantu. Akan lebih baik jika kita menemui mereka yang layak dibantu dengan mendatangi mereka satu per satu, tanpa dipoto tanpa di abadikan. Sebab orang lain juga tahu cerita yatim dan piatu itu benar adanya.
Kehidupan berjalan cepat, mereka yang dibantu membutuhkan ketenangan. Cerita soal seremoni dan dokumentasi yang rasanya seperti ‘dijual‘ melalui cerita menyedihkan, itu saya sangat setuju. Sebab ternyata, banyak cara dan jalan lain untuk benar-benar membantu seseorang.
