Bagian 1: Kasunyatan di Handap Gemericik Air
Angin sore berembus pelan mengelus dedaunan hijau di sekitar lereng bukit. Suara gemuruh air terjun bergema halus, menciptakan suasana tenteram di tengah kerimbunan hutan. Hiji waktu, Nay Pohaci jeung Samagaha lagi bermain di Curug. Dua bersaudara keturunan ningrat itu tampak begitu riang menikmati kesegaran alam.
“Kuring hayang ngojay ka belah ditu, Teteh!” seru Samagaha kecil seraya menunjuk ke kolam utama di bawah guyuran air terjun yang deras.
Nay Pohaci tersenyum lembut. “Ulah jauh-jauh, Samagaha. Bisi kageret ku arus,” ingat sang kakak dengan nada penuh kasih sayang.
Mereka berdua asyik bermain air di bawah deburan air terjun yang dingin membeku. Saat air jemari Nay Pohaci menyapu bebatuan licin di dasar sungai, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan asing. Dengan rasa penasaran, ia merengkuh benda itu dari dasar air. Betapa terkejutnya Nay Pohaci saat mendapati sebuah benda berbahan logam keemasan berbentuk segi delapan, berukirkan sulur-sulur gaib yang sangat indah.
Benda misterius itu lantas dibawa pulang ke istana. Begitu melihatnya, Ibunda Purnamasari menghela napas panjang seraya mengusap benda tersebut. Beliau menjelaskan bahwa benda itu adalah Cupumanik Astagina, sebuah pusaka langka yang legendaris. Apabila berhasil dibuka, siapa pun yang mengintip ke dalamnya akan dapat melihat keindahan surga yang tiada taranya.
Niat bening dan kesucian hati Nay Pohaci membuat sang ibu mempercayakan benda pusaka tersebut untuk dijaga baik-baik. Namun, di sudut ruangan, mata Samagaha menyala-nyala penuh nafsu keharuan. Samagaha sangat penasaran dan mendesak ingin mengintip rahasia surga di dalam cupu itu.
“Teteh, meunang teu kuring ningali eusina? Sajepret wae!” bujuk Samagaha dengan mata berbinar penasaran.
“Teu tiasa, Rayi. Ieu lain barang ulinan,” tolak Nay Pohaci tegas namun halus. Nay Pohaci tahu betul bahwa pusaka seperti ini bukan untuk main-main.
Bagian 2: Niat Buruk dina Poekna Peuting
Penolakan itu menanamkan benih kesal di dada Samagaha. Rasa penasaran yang tak tertahan lambat laun berubah menjadi iri dan dengki. Mengapa hanya kakaknya yang boleh memegang pusaka seajaib itu? Kenapa dirinya yang selalu dianggap belum cukup dewasa?
Niat jahat pun tumbuh subur dalam kegelapan. Samagaha merencanakan niat licik untuk merebut Cupumanik Astagina dari genggaman kakaknya.
Dicurilah benda cupumanik itu pada suatu malam. Saat seluruh istana terlelap dalam senyap dan rembulan tertutup awan mendung, Samagaha menyusup masuk ke kamar Nay Pohaci. Dengan jemari gemetar, ia berhasil memetik cupu segi delapan itu dari tempat penyimpanannya.
Dengan dada berdebar kencang, Samagaha berlari menuju ruangan tersembunyi. Ia berniat langsung membukanya malam itu juga. Namun, betapa terkejutnya ia! Meski cupu itu tidak memiliki kunci fisik, penutupnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Seolah ada kekuatan gaib yang mencengkeram rapat tutup Cupumanik Astagina.
Samagaha mencobanya berulang kali hingga jemarinya memerah, tetapi hasilnya nihil. Hanya Nay Pohaci yang bisa membukanya. Konon, seperti kata Ibunda Purnamasari, pusaka keramat itu hanya bisa dibuka oleh orang yang suci pikirannya dan baik hatinya.
Bagian 3: Amarah jeung Supata
Keesokan harinya, rasa kesal Samagaha membuncah hingga tak tertahankan. Dengan wajah merah padam, ia menghampiri Nay Pohaci sambil membawa cupu yang dicurinya. Ia memaksa kakaknya untuk membuka pusaka tersebut saat itu juga.
“Tukang bohong! Buka cupu ieu ayeuna keneh, Teteh! Bukakeun pikeun kuring!” bentak Samagaha tanpa rasa malu.
Nay Pohaci menatap adiknya dengan tatapan kecewa dan sedih. “Teteh moal bakal membukanya tanpa seijin hati Teteh sendiri, Samagaha. Sikep Rayi geus salah. Kenapa harus mencuri? Hati yang penuh dengki dan ketakutan tidak akan pernah bisa menikmati keindahan surga.”
Nay Pohaci sungguh tidak suka dengan kelakuan buruk adiknya yang telah tercemar oleh rasa serakah dan tega mencuri. Ia menolak keras permintaan tersebut.
Ditolak mentah-mentah, Samagaha gelap mata. Amarah mengerak di dadanya, mengikis habis rasa persaudaraan. “Luyu jeung pamenta kuring, atawa Teteh bakal maot di leungeun kuring sorangan!” ancam Samagaha, mengacungkan senjata dan mengancam akan membunuh Nay Pohaci jika cupu itu tak diserahkan.
Melihat adiknya sudah kalap dan mengancam jiwanya, Nay Pohaci yang biasanya lembut akhirnya terpancing amarah. Kecewa, sakit hati, dan kekecewaan mendalam menyatu di dadanya. Tanpa sadar, keluarlah kata-kata supata—sumpah kutukan yang lahir dari kesakitan hatinya.
“Lisan anjeun kasar, kelakuan anjeun kawas sato! Teu boga hate, dasarna munding dongkol!” jerit Nay Pohaci penuh duka.
Begitu kata-kata kutukan itu terucap, langit mendadak gemuruh. Angin kencang bertiup melolong-lolong di sekeliling mereka. Petir menyambar kilat menyelimuti tubuh Samagaha.
Samagaha menjerit kesakitan saat kulitnya menghitam pekat, tulang-tulangnya berderak membesar, dan bentuk tubuhnya berubah secara mengerikan. Tiba-tiba, Samagaha berubah wujud menjadi seekor kerbau hitam pekat, bertubuh raksasa, dan sangat menakutkan. Tanduknya membengkok tajam mengarah ke depan, sementara sepasang matanya menyala merah saga bagai bara api yang membakar.
Bagian 4: Dosa nu Teu Bisa Dihampura
Dalam wujud munding dongkol yang mengerikan, Samagaha kehilangan kewarasan pikirannya. Ia mengamuk hebat, memusnahkan apa saja di sekitarnya. Dengan dorongan tanduknya yang sangat kuat, ia menyeruduk tubuh kakaknya sendiri.
Bruk!
Tubuh halus Nay Pohaci terpental jauh, melewati tebing terjal, dan jatuh meluncur deras ke dalam jurang curug yang dalam. Nay Pohaci menghembuskan napas terakhirnya di dasar lembah yang sunyi. Begitu pula benda pusaka Cupumanik Astagina, terlempar melayang dan tenggelam dasar air terjun, melenyapkan rahasia keindahan surga bersama jasad Nay Pohaci.
Setelah amukannya mereda, Samagaha tersadar. Ia melihat telapak tangannya yang kini berubah menjadi kuku kerbau yang keras. Ia meraung-raung pilu, menyadari dosa besar yang telah dilakukannya. Samagaha merasa sangat bersalah, penyesalan membakar jiwanya hingga hancur berkeping-keping.
Ia mencoba berteriak meminta maaf, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah lenguhan keras seekor binatang. Wujudnya sudah tidak bisa diubah kembali menjadi manusia. Penyesalan itu datang terlambat.
Samagaha hendak kembali ke istana untuk bersujud meminta ampun, namun langkahnya terhenti di pinggir hutan.
Ia sangat takut bertemu dengan Ayahanda dan Ibunda Purnamasari. Bagaimana mungkin ia berani menampakkan diri setelah membunuh kakaknya sendiri, Nay Pohaci, demi memuaskan rasa serakahnya?
Dengan hati yang hancur dan penyesalan abadi, munding dongkol itu akhirnya berlari menyusup ke dalam kegelapan hutan rimba, meratapi dosanya di balik riak air terjun yang kini menjadi saksi bisu tragedi itu.
Catatan: Kisah Nay Pohaci dan penyesalan Samagaha ini menjadi bagian tak terpisahkan dari legenda yang berembus di sekitar Curug Pelangi, di mana konon pada malam-malam tertentu, wujud kerbau bermata merah masih sering terlihat meratapi kepergian sang kakak di balik gemuruh air terjun.
