PSIKOSOMATIS

Psikosomatis

Jam menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Aku masih terbaring merasakan nyeri hebat di bagian punggung. Psikosomatis sepertinya kembali menyerang. Akhir-akhir ini memang rasanya mudah sekali sakit.

Satu waktu, sakit di kepala yang seperti diremas oleh lempengan besi. Kadang ulu ati sakit atau bahkan sesak napas, sakit di dada. Bahkan lemas tiba-tiba ketika berdiri atau bangun tidur. Ah, rasanya sudah menjadi jompo saja aku ini.

“Usia ibu kan masih muda, tolong dijaga pikirannya ya. Bebasin aja, soalnya nanti akan berakibat ke yang lain,” ucap dokter spesialis dalam di RS Al-Islam waktu itu.

Aku terpaksa harus mengunjungi rumah sakit yang dianggap memiliki peralatan lengkap untuk EKG, rontgen, USG dan lainnya, karena menderita keram perut sebelah kiri.

Hasil pemeriksaan di klinik terdekat kemungkinan ada masalah di ginjal. Internis terdekat pun sudah didatangi, tetapi tidak kunjung menunjukkan perkembangan.

“Sebenarnya saya ini sakit apa, Dok?” tanyaku kepada dokter sesaat setelah pemeriksaan.

“Setelah saya melakukan pemeriksaan sesuai dengan sakit yang ibu keluhkan, semuanya dalam kondisi baik,” jawab dokter.

Aku dan suami saling pandang kebingungan mendengarkan perkataan sang dokter.

“Lalu keram hebat yang sering saya rasakan di bagian kiri perut itu apa, Dok?” tanyaku penasaran.

“Saya melihat indikasi bahwa ibu terkena psikosomatis. Saya sarankan untuk ibu agar menemui psikiater,” ucap dokter.

Aku terdiam, “apakah separah ini kesehatan mentalku sampai aku harus pergi ke psikiater?” bisikku pada diri sendiri.

“Dan untuk, Bapak, jaga istrinya baik-baik ya, Pak! Jangan sampai ibunya terlalu banyak pikiran,” tegas dokter.

Suamiku tertegun berusaha mencerna perkataan sang dokter. Ia menatapku dalam-dalam seolah bertanya, “ada masalah denganku?” aku mengangkat bahu seraya mengernyitkan dahi.

Dia yang masih belum paham tentang psikosomatis lantas meminta penjelasan lebih rinci kepada dokter. Lalu dengan gamblang dokter menjelaskan bahwa psikosomatis merupakan hubungan antara pemikiran atau psikis yang bisa mempengaruhi kondisi tubuh atau sebaliknya, sebagai contoh ketika kita mengalami sakit lambung atau maag jika sudah ditelaah atau sudah melakukan pemeriksaan tapi ternyata hasilnya normal disitulah adanya interelasi antara psikis dengan soma atau tubuh. 

“Ini harus segera diatasi, Pak. Jika tidak, maka akan jadi bom waktu yang membahayakan ibu. Lihatlah para artis yang diberitakan depresi, itu adalah kesakitan yang ditabung dalam jangka panjang yang akibatnya baru dirasakan beberapa waktu setelahnya. Kita juga tahu, kurang apa itu artis (sang dokter menyebutkan nama seorang artis populer)? Dia cantik, baik, artis, kurang cerdas apa dia? Namun dia kena penyakit ini. Pernah dengar kasusnya?” tanya dokter.

Pikiranku melayang pada sebuah kejadian. Memang beberapa waktu lalu, ada seorang artis yang diberitakan mengalami depresi hingga ia melakukan aksi konyol di depan kamera yang akhirnya jadi bulan-bulanan para netizen.

Bersyukur bahwa dia sekarang sudah sembuh. Ya, dia sekarang kelihatannya sudah sembuh. Namun siapa tahu di dalam dirinya masih ada luka yang belum selesai. Karena nyatanya, badannya bertambah meral dan dagunya terlihat double chin saja masih ramai dikomentari orang yang tidak menyukainya.

Lantas bagaimana dengan aku?

Aku yang merasa selama ini masih bisa menghadapi semuanya, akhirnya bergidik sendiri. Tidak terbayangkan jika semakin lama apa yang aku alami ini benar-benar menjadi bom waktu. Bagaimana masib keluargaku jika aku sampai….

Jangan-jangan, selama ini aku bukan kuat, tetapi hanya berusaha dan pura-pura kuat.

Aku lalu memberi kode kepada suamiku untuk segera mengakhiri perbincangan dengan dokter.

Setelah dokter memberikan resep, kami langsung menuju bagian farmasi. Ada obat penenang di antara tiga obat yang kudapatkan.

Kami meninggalkan lorong farmasi menuju lokasi parkir dengan langkah yang sangat hati-hati. Walau tidak sehebat tadi, tapi bagian perutku masih terasa perih sakit sekali.

“Apakah kamu tidak bahagia denganku saat ini?”

Tiba-tiba suamiku mempertanyakan soal kebahagiaanku selama hidup bersamanya.

Langkahku terhenti. Kenapa pula bahasan ini harus ada?

Aku berpikir sejenak. Ingin rasanya aku membagi cerita saat itu juga. Namun akhirnya aku urungkan. Ada beberapa alasan agar aku menunda cerita ini.

Ingin sekali aku ceritakan. Bahwa sebenarnya ada luka lain yang ingin ku ungkapkan di sini. Soal pembohongan dan penghianatan besar-besaran yang terjadi padaku selama ini tanpa bisa aku melawannya. Soal persekongkolan yang begitu rapi untuk membuatku tersingkirkan. Namun aku tidak tahu, harus memulainya dari mana.

Padahal, aku punya hak untuk membukanya, untuk memberi tahu pada semesta. Rasanya seluruh dunia harus tahu tentang kesakitan yang aku terima dari perlakuan mereka.

“Hai, jawab dong…!” desak suamiku.

“Gak sekarang. Kamu sendiri yang mengajarkan aku untuk tidak mengungkit kesalahan orang lain. Kamu sendiri yang mengajarkanku untuk tidak menjadi pendendam. Kamu sendiri yang memintaku terus mendekat kepada Allah atas semua yang terjadi karena hanya Dia lah sebaik-baiknya tempat mengadu.

Sekarang, jika aku mengadu padamu pun tidak akan berguna. Walaupun sebenarnya aku sangat butuh tempat yang bisa dijadikan tempat aku mencurahkan apa yang terjadi.

Aku butuh tempat yang bisa menerima kebenaran yang aku yakini benar. Namun sudah lah. Biar ini menjadi rahasia aku dengan Allah saja. Kau tak perlu tahu, apa yang aku adukan kepada Allah tentang ini semua.”

Mengingat semuanya, pandanganku tiba-tiba gelap. Kepalaku tiba-tiba sakit. Badanku lemas.

Tangan suamiku refleks menahan tubuhku agar tidak roboh.

“Kita makan dulu ya, biar kamu kuat,” ucapnya.

Aku hanya bisa mengangguk patuh.

Sesampainya di rumah makan, suamiku memilihkan beberapa makanan yang justru selama ini menjadi pantangan karena dianggap menjadi pemicu rasa sakit yang kuderita.

Setelah memberikanku tempat duduk, “makan yang banyak. Tidak perlu takut lagi makan pedas, makan gorengan, makan apapun yang kamu mau. Karena hasil pemeriksaan tadi, penyakitmu bukan bersumber dari makanan. Melainkan dari ini,” ujar suamiku sambil menunjuk jidatnya sendiri. “Setelah makan, kamu harus ceritakan semuanya kepadaku. Walaupun tidak menjadi solusi, setidaknya mungkin dadamu akan sedikit lega. Aku tidak ingin kamu begini terus, Din…,” pinta suamiku.

Benar, sakit yang diderita tidak selamanya bersumber dari kesalahan makanan yang kita makan. Semua bersumber dari pikiran kita.

Hari ini pun, aku mungkin sedang merasakannya. Berulangkali mengevaluasi diri. Makanan apa yang salah masuk ke perutku? Tidak masalah rasanya. Tidak ada pedas, gorengan, asam, atau makanan basi bahkan berkolesterol tinggi. Tidak juga habis begadang atau sengaja angin-anginan malam hari. Obat-obatan herbal seperti rebusan jahe, madu dan lain sebagainya pun sudah ku konsumsi. Namun nyeri punggung ini masih saja terasa begitu hebat. Kepalaku pun masih merasakan sensasi remasan yang kuat.

Lantas saat setan lewat, berbisik di hati, sempat terlintas di kepala untuk menyelesaikan semuanya dengan …. biar aku puas sekalian!

Namun nuraniku kembali berkata, bahwa ini tidak boleh terjadi. Aku dididik dan dilahirkan dari keluarga baik-baik. Maka kembali aku menahan diri. Berharap ini akan segera berakhir dan membaik dengan sendirinya. Semoga Allah memberikan kekuatan untuk aku kembali bangkit dari ini.

Waktu semakin siang. Perut sudah terasa sangat lapar. Suami masih di tempat kerja, petang hari baru akan kembali.

Kuambil ponsel, membuka salah satu aplikasi. Lantas memesan beberapa makanan untuk sarapan. Ya, sarapan yang sudah terlalu siang.

Aku harus sembuh. Jangan sampai psikosomatis menyulapku menjadi seorang psikopat. Karena rasa sakit berlebih sudah terlanjur bersarang di dadaku ini.

Aku harus kembali ke rel kehidupan yang normal. Aku tidak mau selalu jadi korban. Aku tidak akan lagi membiarkan orang lain menginjak harga diriku.

Aku memang harus tetap menjadi orang baik. Namun tidak untuk menjadi orang bodoh yang dibodohi seperti sekarang ini.

Mengingat semuanya membuat sakit di kepala dan punggung kembali menjadi. Aku memutuskan untuk kembali berbaring sambil menunggu seseorang mengetuk pintu.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *