Waspada, Dampak Bullying Bisa Menimbulkan Trauma Seumur Hidup

Dampak Bullying

Pernah menjadi korban Buli? Atau bahkan secara tidak sengaja kitalah pelakunya. Pernah kah terbayang bagaimana dampak bullying pada korban, atau bahkan pada diri sendiri ketika kita menjadi korban.

Di sekolah saat masa kecil dulu kita mungkin pernah merasakan dibuly oleh teman. Mungkin juga di dalam  keluarga, mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari sesama anggota keluarga. Atau mungkin di tempat kerja mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari atasan bahkan sesama teman sejawat?

Berhati-hatilah. Jangan sampai Anda terus menerus larut dalam keadaan yang membuat Anda terus tersakiti. Karena dampak bullying itu tidak mudah disembuhkan bahkan bisa membekas seumur hidup.

Akhir-akhir ini nyatanya ramai  juga berita-berita tentang bullying yang kian marak. Ada anak yang menjadi korban perundungan teman sampai ia trauma tidak mau keluar rumah. Makin ke sini makin berani anak-anak membully anak yang lainnya hanya karena mereka melakukannya bersama dengan yang lainnya. Ini menandakan bahwa betapa krisis mental dan empati telah semakin akut.

Semakin banyak orang yang tidak bisa memaklumi manusia lainnya. Mereka menuntut kesempurnaan seperti kesempurnaan yang para pembuly rasakan.

Ada yang salah sedikit saja langsung dihujat. Ada yang tidak sesuai dengan keharusan secuil saja langsung dimaki.

Bahkan, seorang artis, Bunga Citra Lestari dicibir warganet karena menikah lagi. Oleh para “netizen ahli sejarah” terus digoreng dan dipermasalahkan.

“Apa kabar kuburan yang dibangun sebelahan?” Sampai pada masalah kuburan sekalipun dipertanyakan. Padahal setiap orang punya hak menentukan arah hidupnya sendiri. Sangat berhak mengambil keputusan-keputusan besar untuk yang terbaik dalam hidupnya. Termasuk juga kita bukan?

Ada banyak hal yang memang ditakdirkan pada kita berbeda dengan orang lain. Manusia tidak punya hak untuk menjadi hakim manusia lainnya, kecuali memang dalam kasus hukum.

Manusia tidak ada hak menilai apakah perbuatan seseorang ini dosa besar atau bukan kecuali malaikat pencatat amal baik dan buruk yang memang ditugaskan Allah untuk melakukannya.

Lantas, apa hak kita membully dan menghakimi seseorang yang berbuat kesalahan secara brutal dan habis-habisan?

Namun, dalam kasus pembulian ini rata-rata para pelaku melakukannya beramai-ramai. Tak ayal, ini sama persis yang dilakukan para netizen julid di media sosial. Mereka berani karena mereka bersembunyi, mereka jauh, mereka merasa punya perlindungan aman, dan ini karena mereka banyakan.

Mereka berani karena memiliki “pasukan”. Satu sama lain saling “udunan” kekuatan. Andai pembuly sendirian, maka dampaknya tidak akan separah yang korban dapatkan.

Korban disiksa ramai-ramai, dikucilkan, dikata-katain dengan bahasa yang menyakitkan. Karena mereka berjumlah banyak, maka mereka lupa bahwa mereka punya hati nurani. Yang mereka pahami adalah, “temanku juga sepakat bahwa orang itu pantas dibuly.”

Yang para pembuly pikirkan hanyalah, dia salah, dia berbeda, dia melenceng dari keharusan, maka dia pantas diperlakukan sebagai pelaku dosa. Tanpa mau peduli latar belakang dan alasan mengapa seseorang melakukan suatu tindakan.

Orang pincang dan buta pun masih bisa jadi bahan bullyan, tanpa menyadari latar belakang penciptaan dan siapa yang menciptakan seseorang seperti itu. Mereka (para pembully) yang memiliki kehidupan sempurna serta merta menghakimi seseorang yang memang berbeda dari mereka.

Namun pernahkah sebenarnya terpikirkan di otak mereka bahwa dampak dari perlakuan buliying itu akan membekas dan sukar sekali sembuh dalam waktu yang lama?

Seandainya korban didamping para ahli sekalipun dan menggunakan terapi terbaik pun tidak akan sembuh total.

Melalui terapi, mungkin mereka bisa kembali tertawa, jiwanya menjadi sehat kembali dan siap menghadapi kehidupan lagi. Namun luka yang terlanjur tergores tidak akan pernah hilang, mewujud trauma tersendiri dalam diri korban pembullyan.

Suatu hari ketika ada satu hal saja yang memicu dan mengingatkan korban pada kesakitan yang pernah ia terima, maka luka itu akan kembali menganga. Sulit sekali memaafkan.

Trauma dalam jangka panjang ini disebabkan karena bullying sendiri dapat memiliki dampak serius pada kesehatan mental dan emosional, seperti stres, depresi, dan kecemasan bagi korban. Ini juga dapat memengaruhi kinerja akademis dan hubungan sosial mereka. Korban bullying mungkin mengalami penurunan harga diri dan bahkan berisiko mengalami masalah kesehatan jangka panjang.

Sedangkan trauma merupakan respons psikologis dan emosional yang timbul sebagai hasil dari pengalaman yang menyakitkan, mengancam, atau mengganggu secara signifikan.

Pengalaman trauma dapat memengaruhi seseorang secara mendalam, memicu stres berlebihan, kecemasan, dan dampak negatif pada kesehatan mental.

Trauma bisa bersifat fisik maupun psikologis, dan setiap individu meresponsnya dengan cara yang berbeda

Berikut adalah jenis-jenis trauma yang bisa terjadi akibat perlakuan buliying.

1. Trauma Fisik

Trauma ini timbul akibat cedera atau kecelakaan yang menyebabkan kerusakan pada tubuh fisik seseorang. Ini bisa terjadi karena seseorang mendapatkan perlakuan kekeran fisik dari pelaku. Misalnya dibanting, ditendang, dan penyiksaan fisik lainnya.

Trauma ini pun bisa terjadi pada seseorang yang mengalami kecelakaan.

2. Trauma Psikologis atau Emosional

Trauma ini terjadi karena pengalaman yang mengancam secara emosional, seperti pelecehan, kehilangan yang mendalam, atau kekerasan verbal.

Menyembuhkan trauma ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan trauma fisik. Trauma fisik bisa lekas sembuh karena pengobatan dan pengobatan medis. Namun trauma psikologis lebih mengerikan. Jika ini dibiarkan bisa memicu depresi dan mendorong seseorang pada keinginan bunuh diri.

3. Trauma Kompleks

Trauma ini berkaitan dengan pengalaman traumatis yang terus-menerus akibat seringkali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan yang terjadi dalam hubungan jangka panjang seperti pelecehan atau keluarga disfungsional. Ini karena korban terus berada dalam lingkungan yang toxic dalam waktu lama. Akibatnya korban sulit menyembuhkan diri.

4. Trauma Sosial

Trauma ini melibatkan pengalaman ketidakadilan sosial, diskriminasi, atau perlakuan tidak adil berdasarkan faktor seperti ras, gender, atau orientasi seksual.

Bisa juga karena adanya ketidakadilan dalam perlakuan di tempat kerja karena adanya perlakuan dan pendiskriminasian jabatan, beban kerja, dan lain sebagainya.

Setiap jenis trauma tersebut dapat memiliki dampak yang berbeda pada kesejahteraan seseorang tergantung pada kekuatan mental dan kadar trauma yang dialami seseorang. Penanganannya pun sering memerlukan pendekatan yang spesifik. Harus dilakukan secara khusus dan intensif.

Trauma yang berlebihan dan tidak tertangani dengan baik, cenderung akan memicu depresi. Depresi sendiri dapat memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan seseorang, di antaranya adalah,

1. Gangguan Fungsi Sehari-hari.

Individu dengan depresi mungkin mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belajar, atau merawat diri sendiri.

2. Gangguan Kesehatan Mental

Depresi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental lainnya, seperti kecemasan atau gangguan makan. Seseorang yang mengalami depresi cenderung malas makan atau bahkan malah makan berlebihan yang memicu pada obesitas.

3. Isolasi Sosial

Orang dengan depresi cenderung menarik diri dari interaksi sosial, dapat mengalami isolasi, dan kesulitan membangun atau mempertahankan hubungan interpersonal.

4. Masalah Kesehatan Fisik

Depresi dapat berkontribusi pada masalah kesehatan fisik, termasuk gangguan tidur, penurunan nafsu makan, dan penurunan energi.

5. Pengaruh pada Kualitas Hidup

Kehidupan sehari-hari dapat terasa kurang bermakna, dan individu dengan depresi mungkin mengalami penurunan kualitas hidup.

5. Peningkatan Risiko Bunuh Diri

Depresi dapat meningkatkan risiko pemikiran atau perilaku bunuh diri. Oleh karena itu, penanganan depresi dengan serius sangat penting dilakukan.

6. Gangguan Kinerja Kerja atau Akademis

Kemampuan untuk berkonsentrasi dan berkinerja dalam pekerjaan atau pendidikan dapat terpengaruh secara negatif.

7. Masalah Fisik Serius

Pada tingkat yang lebih ekstrem, depresi yang tidak diobati dapat berkontribusi pada risiko penyakit fisik serius.

Penting untuk mencari bantuan profesional jika seseorang mengalami gejala depresi. Terapi dan pengobatan dapat membantu mengelola kondisi ini dan meningkatkan kualitas hidup.

Begitu buruknya dampak dari perlakuan buliying terhadap korban. Mari saling membantu satu sama lain. Ciptakan lingkungan yang kondusif, dan yang paling penting, jangan sampai kita menjadi salah satu pemicu seseorang untuk mengakhiri hidupnya karena perlakuan menyakitkan yang kita lakukan.

Entah itu secara fisik, verbal, maupun perlakuan lain yang membuat seseorang tersakiti. Mari ciptakan lingkungan sehat.

Semoga bermanfaat.

*Diambil dari berbagai sumber.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *