Lumpia Basah

Lumpia basah
Ilustrasi Lumpia Basah, sumber foto: resepkoki.id

“Lumpia basahnya enak!” seru anakku. Mulutnya belum selesai mengunyah, tetapi sibuk mengomentari rasa masakan hasil karya mas Arman; ayah sambungnya.

“Unda harus cobain juga, cepet, enak lho!” ungkapnya lagi.

Aku hanya tersenyum. Badanku yang lemah lunglai memang sudah merasa sangat lapar. Hanya saja belum bertenaga untuk pergi ke meja makan. Mas Arman yang masih sibuk dengan hobinya memodifikasi dan mengutak-atik motor belum juga selesai dengan aktivitasnya. Aku sendiri tidak berani mengganggu kesenangannya.

“Makan aja duluan ya!” jawabku sembari membetulkan selimut. Panas dingin di sekujur tubuhku terasa semakin meradang sampai akhirnya aku ketiduran.

“Yank, makan dulu….”

Sayup-sayup terdengar suara mas Arman. Perlahan kubuka mata, lelaki yang sangat menyayangiku. Tangannya lembut mengelus ujung keningku.

Aku terbangun, dan mengerjapkan mata. Suamiku duduk di sisian ranjang. Wangi harum makanan lezat menelusup hidungku, lumpia basah makanan kesukaanku nampak memenuhi piring di tangan mas Arman.

“Makan dulu biar bertenaga ya… Masih pusing gak?” tanyanya dengan lembut.

Aku berusaha bangun untuk duduk. Dengan sigap lelaki di hadapanku membantuku bangun. Dengan cekatan ia menata bantal agar badanku bisa bersandar dengan nyaman.

Setiap kali kami mendapatkan waktu untuk bersama seperti itu jujur saja hatiku tidak berhenti berdebar. Masa perkenalan yang begitu singkat, membuat aku sendiri merasa belum cukup untuk mengenalnya sebelum akhirnya kami menikah.

Apakah ini cinta yang baru saja tumbuh di hatiku secara perlahan kepada mas Arman? 

“Nunggu apa lagi? Kalian sudah bukan anak remaja lagi, lekas lah menikah!” ujar bapak mertuaku waktu itu. Kalimat itu membuatku tertegun.

Perasaan campur aduk tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Saat itu baru saja sepekan kami menjalin kedekatan. Sampai sekarang, rasanya tidak percaya jika akhirnya kami sudah menikah.

“Sudah nyaman duduknya? Kita makan ya…,” bujuknya lagi. Aku mengangguk patuh. Suamiku menyuapkan makanan yang dibuatnya dengan sangat hati-hati.

“Mas emang biasa masak dari dulu ya?” tanyaku di sela kunyahan.

“Ya dikit-dikit bisa lah, kan sudah lama hidup sendiri,” jawabnya.

“Kalau masak lumpia basah, sering juga ya?” tanyaku lagi.

“Ya, belajar aja kan tahu kamu suka makan ini,” jawab mas Arman sembari tersenyum manis.

“Kalau saja pedas, pasti jauh lebih nikmat,” ucapku. Tiba-tiba kalimat itu meluncur begitu saja.

“Kalau pedas tar perutnya sakit lagi dong….,” jawab suamiku.

Tanpa sadar, aku bisa menghabiskan makanan itu. Benar saja yang dikatakan putra semata wayangku, bahwa makanan ini memang enak.

“Alhamdulillah makannya banyak,” ucap suamiku. Entah kenapa kalimat dan perlakuannya selalu berhasil membuatku merasa nyaman.

Hari demi hari, rasa sayang itu tumbuh semakin subur. Ketulusan dan kasih sayang mas Arman terasa langsung ke hati. Pantas saja, anakku pun begitu sayang kepada ayah sambungnya.

Dulu aku begitu lelah bekerja banting tulang untuk menghidupi diri dan anakku. Kini, aku merasa bahwa aku benar-benar diratukan.

Tidak perlu hebat dan berlebihan. Perlakukan sederhana pun bisa membuat aku jatuh cinta berkali-kali kepadamu, Mas.

Terima kasih banyak ya. Semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga kita.

“Besok masak lagi ini ya, Ayah!” seru anakku. “Bunda juga suka tuh. Pasti cepet sembuh!” serunya lagi dengan tatapan jail.

“Apa sih, Dek?” ucapku kesal.

“Masakan ayah kan emang enak. Kenapa coba?” tanya mas Arman.

“Kenapa?” anakku balik bertanya.

“Karena dimasak dengan penuh cinta,” gurau mas Arman.

Kami semua tertawa. Setelah menghabiskan makanan badanku memang terasa lebih nyaman dan bertenaga.

“Terima kasih ya, Mas,” ucapku canggung.

“Kok canggung gitu… Kayak sama siapa aja.”

Mas Arman memeluk tubuhku dengan erat.

“Lekas sembuh ya….” ucapnya.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *