Pedagang Kecil Menjajakan Produknya (Sumber: Unsplash/ Evan Krause)
Interaksi sosial sederhana yang membangun minat serta kepuasan konsumen bisa kita jumpai di pedagang kaki lima. Bahkan penjaja makanan kecil di desa bisa menjadi role model dunia industri bisnis. Meski kesannya interaksi ini sulit jika dibangun di bisnis yang besar, namun cerita ini bisa menjadi cermin bahwa bisnis lebih dari sekadar perputaran uang.
Saya pernah membaca sebuah tulisan dari seseorang yang menyatakan, bahwa di Indonesia ada model interaksi sosial manusia yang berhubungan erat dengan cara berbisnis. Hal ini dianggap sepele, namun perusahaan besar kadang jarang memikirkan. Si penulis kurang lebihnya membagikan pengalaman, saat ia makan di sebuah warteg, dan penjaga warteg itu sudah mengerti jika ia adalah pelanggan setianya.
Pemilik warung yang ia sambangi itu ternyata tahu kebiasaan penulis yang sudah terbiasa makan dengan lauk Jengkol, Tempe dan Sambal. Penjaga warteg dengan sepenuh hati mengingat apa saja menu yang diinginkan oleh pelanggannya itu. Penulis pun demikian, jika ia kehilangan Jengkol, Sambal dan Tempe, maka ia akan merasakan perbedaan yang signifikan.

Terkadang perasaan seperti itu tidak benar-benar diperhitungkan oleh para penjual dan pelaku bisnis. Padahal minat pelanggan adalah indikator penting bagi kemajuan usaha. Sedangkan ingatan yang tepat dari pedagang soal minat pelanggan adalah bentuk ikatan, dan cara penjual menghargai pelanggannya.
Pengalaman Pribadi
Sejalan dengan pengalaman saya kemarin, saya mengalami dua kali pertanyaan yang unik dari para pedagang yang sudah saya jadikan langganan. Momen pertama adalah saat saya berpapasan dengan pedagang Cilok yang biasa saya beli di kampung. Saya telah lama menyukai jajanan ini, tapi lebih spesifik lagi, saya menyukai Cilok dari seorang pedagang bernama Pak Agung. Ia sudah akrab dengan saya, sampai hafal betul tentang apa yang biasa saya beli.
Jika anak saya menghampiri Pak Agung, maka ia akan segera menyajikan Cilok dengan porsi Rp. 2000 dengan bumbu asin atau menggunakan kecap. Ia selalu bertanya, hari ini pakai kecap atau tidak. Untuk saya pribadi Pak Agung sudah tahu seberapa porsinya, dan pasti menggunakan bumbu asin, pedas, dan kecap sedikit.
Tanpa saya sadari, selama ini Pak Agung menyadari pola konsumsi yang saya dan anak saya miliki. Interaksi saya dengannya mengenai pembelian saya untuk produknya, sudah dia ingat dan membuat saya terkesan. Saya merasa dihargai dan dipahami oleh Pak Agung selaku penjual jajanan yang saya sukai itu.
Setelah pulang ke rumah, saya mendapati tukang Bakso keliling yang memang tidak biasanya beredar di hari itu. Saya ingat betul, bahwa Pak Bagas biasanya akan berkeliling di kampung kami setiap minggu di hari Kamis. Saya ingat karena jika ada bel mangkuk di tengah hari, dan saat itu adalah di hari Kamis, bisa dipastikan itu adalah Pak Bagas.
Merasa Dihargai
Pak Bagas sendiri sudah ingat tentang apa yang akan saya minati darinya, apa kesukaan anak saya, dan racikan bumbu yang biasa anak saya pakai. “Punya Neneng enggak pakai bawang dan seledri kan? Mie-nya milih Neng mau yang putih atau yang kuning?” Tanya Pak Bagas sembari menarik-beberapa lembar mie dari etalase gerobaknya.
Lantas saya bertanya tentang apa alasan Pak Bagas jualan hari Rabu. Biasanya memang ia menjajakan dagangannya setiap hari Kamis ke kampung kami. Pak Bagas menjelaskan sambil tertawa kecil, “Iya neng, besok mau ada keperluan nih. Jadi sengaja, rute ke Dusun Jotang, hari ini saja.”Â
Memori sederhana semacam itu terlihat sepele bagi sebagian orang. Padahal, ikatan itulah yang membuat bisnis bertahan dan menjadi salah satu indikator minat dan kepuasan pelanggan. Kami yang saling mengingat satu sama lain, sangat merasa dihargai.
Jika restoran besar hanya memiliki list produk apa saja yang hari ini keluar dan best seller, maka Pak Bagas dan Pak Agung punya hal yang lebih besar dari itu. Meski usaha mereka kecil, hanya berkeliling dan tak memiliki cabang, namun mereka bisa mengingat satu persatu wajah pelanggan mereka dan tahu minat produk yang mereka inginkan. Pedagang kaki lima seperti mereka memang tidak memiliki survei dan data apapun mengenai pelanggannya.
Mereka tahu detail per individu seperti apa, pelanggannya biasa pesan bagaimana, dia orang mana, seleranya seperti apa. Menurut saya ikatan bisnis yang melibatkan interaksi sosial akan membangun hubungan yang lebih erat dan intens antara pelaku bisnis dan target pasarnya. Hal kecil yang tidak selalu dicatat dan masuk survei semacam itu, justru menjadi data penting yang bisa dipakai pebisnis untuk menjalankan usahanya.
Minat dan Kepuasan Pelanggan
Soal minat dan penilaian, serta keputusan pelanggan akan lebih terkontrol melalui proses interaksi sosial. Hal yang kerap dilupakan pebisnis, padahal bisa menjadi ndikator yang bisa dijadikan sumber pertimbangan membangun produk dan hubungan dengan konsumen. Hal itu lazim terjadi, namun banyak orang belum menyadari bahwa interaksi seperti itu adalah bagian dari bisnis.
