Jumat, 13 Maret 2026, halaman SDN Cimuncang terasa berbeda. Pagi itu bukan sekadar hari sekolah biasa, melainkan hari penutupan kegiatan Sanlat yang diberi nama PERMADANI—singkatan dari Pesantren Edukatif Ramadhan Membentuk Akhlak Disiplin Agamis Nurani Islami. Nama yang indah ini seolah menggambarkan tujuan besar kegiatan tersebut: menenun nilai-nilai keislaman ke dalam jiwa para siswa sejak usia dini.

Anak- anak antusias mendengarkan pengarahan dari Bu Guru( Sumber: Koleksi pribadi)
PERMADANI selama bulan Ramadan menjadi ruang belajar yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan agama, tetapi juga menanamkan akhlak, kedisiplinan, dan kesadaran spiritual. Anak-anak belajar membaca Al-Qur’an, memahami makna puasa, mempraktikkan ibadah, serta membiasakan diri dengan adab-adab Islami dalam kehidupan sehari-hari. Maka ketika hari penutupan tiba, suasana terasa penuh haru sekaligus kebanggaan.
Acara penutupan ini dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni Islami dari siswa kelas 1 hingga kelas 6. Ada pembacaan ayat suci Al-Qur’an, nasyid, puisi religi, hingga berbagai kreasi seni yang menggambarkan semangat Ramadan. Satu per satu anak-anak tampil dengan percaya diri di hadapan guru dan teman-temannya. Tepuk tangan riuh menyambut setiap penampilan, menandakan bahwa panggung sederhana itu telah menjadi ruang ekspresi yang bermakna bagi mereka.
Namun ada satu penampilan yang menjadi sorotan utama dalam acara tersebut, yaitu grand opening berupa drama pendek yang dimainkan oleh para guru SDN Cimuncang. Penampilan ini benar-benar memberikan warna tersendiri. Bukan hanya karena para guru yang biasanya berdiri di depan kelas kini tampil di atas panggung, tetapi juga karena pesan mendalam yang dibawakan melalui drama tersebut.

Pemeran utama sedang perang melawan hawa nafsu ( Sumber: Koleksi pribadi)
Drama ini mengangkat tema hikmah puasa sebagai terapi menahan diri dari berbagai hawa nafsu. Kisahnya sederhana, tetapi sarat makna. Puasa digambarkan sebagai proses perjuangan batin manusia dalam mengendalikan diri—antara bisikan kebaikan dan godaan yang datang silih berganti. Pesan yang disampaikan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dipahami oleh para siswa.
Drama tersebut disutradarai sekaligus didubbing oleh Ibu Didah Faridah, S.Pd.I, yang dikenal sebagai Guru Pendidikan Agama Islam di SDN Cimuncang. Dengan penuh penghayatan, beliau menghidupkan alur cerita melalui narasi yang kuat dan menyentuh. Suara yang mengalun dari balik panggung seolah menuntun penonton menyelami makna puasa yang sesungguhnya.

Ibu Guru Didah Faridah SPdI sedang mensutradarai drama (Sumber : Koleksi pribadi )
Tokoh utama dalam drama ini diperankan dengan sangat apik oleh Ibu Puza Halimatussa’diyah (PU), Guru Kelas 2, yang memerankan sosok ruh manusia. Ia menggambarkan pergulatan batin manusia dengan ekspresi yang mendalam—antara keinginan untuk berbuat baik dan godaan yang datang dari berbagai arah.
Sementara itu, peran setan penggoda dimainkan oleh Ibu Erma Aniska Fauziyah, Guru PJOK. Dengan gestur dan ekspresi yang kuat, ia berhasil menggambarkan bagaimana godaan sering kali hadir dalam kehidupan manusia. Penampilannya justru membuat pesan drama semakin terasa hidup dan menggugah.

Ibu Puza dan Ibu Erma sedang memainkan drama dengan penuh penghayatan
Drama ini juga didukung oleh para guru lainnya yang turut berperan sebagai pelengkap cerita. Kebersamaan para guru di atas panggung menghadirkan suasana yang berbeda. Mereka tidak hanya menjadi pendidik di kelas, tetapi juga teladan yang menunjukkan bahwa pesan-pesan kebaikan dapat disampaikan dengan cara yang kreatif dan menyentuh.
Yang membuat drama ini terasa istimewa adalah totalitas para guru dalam memerankannya. Mereka tampil dengan penuh penghayatan, seolah sedang memainkan kisah kehidupan yang nyata. Tidak berlebihan jika banyak yang mengatakan bahwa penampilan mereka tak kalah dengan para artis papan atas negeri ini. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah pesan moral yang berhasil sampai ke hati para siswa.
Melalui drama tersebut, para siswa diajak memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan menahan diri, mengekang amarah, menahan godaan, serta melatih kesabaran dan keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang ingin ditanamkan melalui kegiatan PERMADANI.
Acara penutupan Sanlat ini bukan hanya menjadi akhir dari rangkaian kegiatan Ramadan di sekolah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati tidak berhenti pada pelajaran di buku. Ia hadir melalui pengalaman, keteladanan, dan kebersamaan.
PERMADANI di SDN Cimuncang telah menjadi sebuah “permadani nilai”—tempat anak-anak belajar menapaki jalan kebaikan. Di atasnya tertanam benih-benih akhlak, disiplin, dan kecintaan kepada agama. Harapannya, nilai-nilai yang mereka pelajari selama Ramadan tidak berhenti di panggung acara penutupan, tetapi terus hidup dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari.
Karena pendidikan yang paling indah adalah pendidikan yang mampu menyentuh hati. Dan pada hari itu, melalui panggung sederhana di SDN Cimuncang, hati-hati kecil para siswa telah disentuh oleh pesan Ramadan yang begitu mendalam melalui drama ini.

MaasyaAllah Baarakallah ustadzah terima kasih sudah menulis tentang kegiatan. Kita hari ini, semoga menjadi inspirasi bagi yang lain dan mendapat hikmah/ pelajaran utk smuanya, HTR nhn Bu🥰🙏
Masya Alloh tabarokalloh pesantren ramadhan di akhiri dengan indah. Dia wali drama b guru yang Keren banget, sakit pokoknya. Kemudian tampilan anak anak yang tentunya dengan latihan dan kerja keras setiap pulang dari sekolah d saat puasa, dahaga dan lelah namun semangat membara. Sukses terus SDN CIMUNCANG dengan berjuta karya dan prestasi Nya