Ketika Rasa ‘Nggak Enakan’ Menguasai: Budaya Sungkan dalam Masyarakat Kita
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, ada satu ungkapan sederhana yang sering kali memiliki kekuatan besar dalam menentukan sikap seseorang: “nggak enakan.” Ungkapan ini terdengar ringan, bahkan sopan, tetapi di baliknya tersimpan kompleksitas emosi, norma sosial, dan tekanan yang tidak selalu disadari. Budaya sungkan—yang sering dibungkus dalam perasaan “tidak enak”—telah menjadi bagian dari identitas sosial kita. Ia menjaga harmoni, tetapi di sisi lain, juga berpotensi membatasi kejujuran dan kebebasan individu.
Budaya sungkan pada dasarnya lahir dari nilai-nilai luhur seperti menghormati orang lain, menjaga perasaan, dan menghindari konflik. Dalam konteks ini, “tidak enak” menjadi semacam rem sosial agar seseorang tidak bertindak semaunya sendiri. Misalnya, seseorang tetap menghadiri undangan meskipun sedang lelah, atau menerima permintaan orang lain meskipun sebenarnya keberatan. Semua itu dilakukan demi menjaga hubungan baik dan menghindari kesan tidak sopan.
Namun, persoalan muncul ketika perasaan sungkan tersebut tidak lagi berada dalam batas yang sehat. “Nggak enakan” kemudian berubah menjadi tekanan sosial yang halus tetapi kuat. Banyak orang akhirnya mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin menolak, memberi ketika sebenarnya tidak mampu, atau diam ketika seharusnya bersuara. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan kelelahan emosional, bahkan konflik batin yang mendalam.
Fenomena ini sering terlihat dalam berbagai praktik sosial, seperti tradisi hajatan, budaya memberi sumbangan, hingga relasi kerja. Seseorang mungkin merasa harus memberikan sejumlah uang dalam acara tertentu karena khawatir dianggap pelit atau tidak peduli. Padahal, kondisi ekonomi setiap orang berbeda. Dalam situasi seperti ini, “tidak enak” bukan lagi sekadar bentuk empati, melainkan menjadi alat kontrol sosial yang tidak tertulis.
Lebih jauh lagi, budaya sungkan juga dapat menghambat komunikasi yang jujur dan terbuka. Dalam hubungan keluarga, misalnya, anggota keluarga mungkin menyimpan perasaan tidak nyaman karena enggan menyampaikan pendapat yang berbeda. Dalam lingkungan kerja, karyawan bisa jadi tidak berani mengungkapkan ide atau kritik karena takut dianggap tidak menghormati atasan. Akibatnya, masalah yang seharusnya bisa diselesaikan sejak awal justru berlarut-larut.
Meski demikian, bukan berarti budaya sungkan harus dihapuskan sepenuhnya. Nilai dasar yang terkandung di dalamnya—seperti empati, rasa hormat, dan kepedulian—tetaplah penting untuk dipertahankan. Yang perlu dilakukan adalah menempatkan “tidak enak” pada posisi yang seimbang. Kita perlu belajar membedakan antara menghargai orang lain dan mengorbankan diri sendiri secara berlebihan.
Keberanian untuk berkata jujur, dengan cara yang tetap santun, menjadi kunci dalam menghadapi budaya ini. Mengatakan “tidak” bukan berarti tidak peduli, melainkan bentuk kejujuran terhadap diri sendiri. Menolak dengan alasan yang baik justru dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat dan saling memahami. Dengan demikian, harmoni yang tercipta bukanlah harmoni semu, melainkan hasil dari komunikasi yang terbuka.
Pada akhirnya, “tidak enak” adalah cermin dari nilai sosial yang kita junjung tinggi. Namun, ketika ia mulai menguasai dan membatasi, kita perlu merefleksikan kembali posisinya dalam kehidupan kita. Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang rukun, tetapi juga masyarakat yang mampu jujur, terbuka, dan saling menghargai tanpa tekanan tersembunyi.
Karena sejatinya, menghargai orang lain tidak seharusnya berarti mengabaikan diri sendiri.
