Di tengah derasnya arus komunikasi digital, kita semakin mudah saling terhubung. Pesan singkat, grup percakapan, dan media sosial menjadi bagian dari keseharian. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu adab sederhana yang perlahan mulai terlupa: menjawab salam.
Sering kali kita menjumpai atau bahkan mengalaminya sendiri ketika mengirim pesan yang diawali dengan salam, pesan tersebut dibaca dan dibalas, tetapi salamnya tidak dijawab. Percakapan tetap berjalan, topik tetap dibahas, namun doa dan sapaan awal seakan terlewat begitu saja. Padahal, dalam Islam, salam bukan sekadar pembuka kalimat, melainkan bagian dari adab dan ajaran yang memiliki nilai ibadah.
Jika diberi salam, maka jawablah. Baik saat bertatap muka, lewat pesan singkat, maupun melalui media sosial. Salam tidak kehilangan maknanya hanya karena disampaikan lewat tulisan. Ia tetap doa, tetap bentuk penghormatan, dan tetap jembatan awal komunikasi yang baik. Menjawab salam terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan menunjukkan bahwa kita tidak hanya membalas pesan, tetapi juga menghargai orang yang menyapa.
Islam memberi perhatian besar terhadap adab salam. Allah ﷻ berfirman:
وَإِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا ۗ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam, maka balaslah salam itu dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.”
(QS. An-Nisā’: 86)
Ayat ini menegaskan bahwa menjawab salam bukan sekadar pilihan etika, tetapi bagian dari tuntunan yang diperintahkan Allah. Bahkan, dianjurkan untuk membalasnya dengan lebih baik sebagai bentuk akhlak mulia.
Lalu, mengapa sebagian orang tidak menjawab salam, terutama di media sosial? Umumnya bukan karena sikap tidak sopan. Banyak yang menganggap salam hanya formalitas, terbiasa dengan budaya chat yang serba singkat, atau belum menyadari nilai salam sebagai doa. Ada pula yang membalas pesan dalam kondisi tergesa-gesa sehingga fokus pada isi, bukan pada adab pembuka. Dunia digital memang sering membentuk kebiasaan yang cepat, praktis, dan minim basa-basi.
Namun, justru di situlah pentingnya menjaga adab. Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya salam sebagai sarana mempererat hubungan sosial:
أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa salam adalah jalan tumbuhnya cinta dan persaudaraan:
أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Salam adalah doa, penenang hati, dan penanda bahwa komunikasi dibangun di atas niat baik. Menjawab salam, meski hanya dengan satu kalimat singkat, adalah bentuk penghargaan, latihan kerendahan hati, dan bukti bahwa adab Islam tetap kita jaga, bahkan di ruang digital.
Karena itu, ketika hari ini kita menerima pesan yang diawali dengan salam, mari biasakan untuk menjawabnya terlebih dahulu. Tidak perlu panjang, tidak perlu berlebihan. Cukup dijawab dengan tulus. Sebab dalam Islam, adab kecil yang dijaga dengan konsisten sering kali bernilai besar di sisi Allah. Wallahu a’lam.
