Aku sangat mencintai gunung. Sayangnya, itu hanya sepihak. Dia tidak pernah mencintaiku meski hampir setiap bulan aku mengunjunginya untuk berkencan. Buktinya, dia sengaja melumat kakiku dengan jurang terjalnya, tepat tiga tahun sejak aku pertama kali mendaki. Perayaan anniversary yang menyedihkan. Sungguh di luar pengharapan. Secara tidak langsung, dia mengirimkan pesan agar aku berhenti mendaki. Dia seakan berteriak, “Jangan datang lagi!”
Rindu? Bohong kalau aku bilang tidak. Kenapa dia tidak membuatku bosan saja? Kenapa harus merenggut langkahku hanya karena aku memujanya?
“Patah hati?”
Satu suara membuatku menoleh. Pemuda tampan bertubuh jangkung, kulit putih bersih, dan matanya … buta. Aku tertegun sejenak.
“Aku?” tanyaku, sekadar memastikan.
“Iya. Siapa lagi? Kan, nggak ada siapa pun di sini selain kita.”
Jawaban yang kembali membuatku tertegun. Bukankah dia buta? Bagaimana bisa tahu kalau kami hanya berdua?
“Pendengaranku tajam.” Dia memulas senyum, seperti bisa membaca pikiranku.
“Desahanmu tadi persis orang yang lagi patah hati,” lanjutnya, masih menatap ke depan.
Harus diakui, aku memang patah hati, tetapi bukan karena laki-laki. Apakah pemuda ini seorang cenayang? Bagaimana dia tahu isi hatiku?
“Namaku Damar. Kamu?”
Perbincangan kami lambat laun menghangat. Damar sangat pandai membawa suasana. Entah kapan terakhir kali aku menikmati obrolan seperti sekarang ini. Sejak tragedi dua tahun lalu, aku selalu menutup diri.
Tanpa ada kesepakatan, kami selalu bertemu di lobi setiap pagi di jam yang sama seperti pertama kali. Pukul delapan setelah sarapan menjadi rutinitas yang membuat kami saling menanti dan baru berpisah setelah makan siang bersama. Selebihnya, dia sibuk bermain piano dan membantu ibunya mengelola wisma tamu ini.
Kami saling berbagi cerita. Aku dan kisah pilu kedua kaki yang tidak bisa digerakkan lagi. Dia dengan mata buta sejak lahir ke dunia.
“Kamu … nggak pengin naik gunung lagi?” tanya Damar di hari ke-11 pertemanan kami.
“Mustahil!” Aku menjawab ketus.
“Pertanyaanku bukan soal mustahil atau nggak. Aku nanya, kamu pengin naik gunung lagi apa nggak?” Damar melukis garis lengkung sempurna di paras tampannya.
“Tidak!” Lagi, aku menjawab dengan sinis.
“Kamu selalu memandangi Bukit Banyak sambil menghela napas berat.” Damar mulai mencerocos. Ternyata dia sudah lama mengamatiku sebelum kemudian mengajak berkenalan di hari keempat aku menginap.
Aku menyewa kamar untuk satu bulan karena ingin merenung. Sudah jenuh terpasung di kursi roda selama 24 bulan. Aku harus segera menentukan pilihan, bangkit atau mengakhiri hidup. Damar adalah sosok di luar rencana.
“Kalau kamu mau, kita bisa mendaki Bukit Banyak. Jujur, aku belum pernah.” Damar tertawa renyah.
Ah, dasar orang buta! Apa dia pikir mendaki itu mudah? Untuk orang normal saja susah, apalagi dia dan … aku!
“Mau nggak?” Dia kembali bertanya.
“Jangan mengkhayal, deh, Damar. Aku lumpuh dan kamu buta. Mustahil buat ke sana!” Hampir saja aku berteriak saking kesalnya.
“Mustahil kalau kita berangkat sendiri-sendiri, tapi nggak mustahil kalau kita berangkat bersama. Kamu jadi mataku dan aku akan jadi kaki buatmu. Lengkap, kan?”
“Terus, bagaimana caranya?” Aku menatap penuh tanya.
Bukit Banyak memang tidak tinggi. Bahkan, tidak layak untuk disebut bukit sebenarnya. Lebih mirip gundukan tanah. Mungkin karena aku terbiasa naik gunung.
Damar tiba-tiba berjongkok di depan kursi roda. “Yuk!”
Dia mau menggendongku? Otak menolak, tetapi hati menggerakkan tangan untuk merangkul lehernya. Sejauh mana dia mampu melangkah? Aku tertawa dalam hati.
Ternyata Damar sudah mempersiapkan semuanya. Tas ransel berisi air minum dan potongan gula merah sudah di punggungku. Nekat dan benar-benar gila!
Aku pikir dia akan menyerah di tengah jalan. Nyatanya tidak. Kami berhasil sampai ke puncak meski harus beristirahat berkali-kali. Dia, bukan aku.
Aku menangis terharu. Kemustahilan yang selama ini aku yakini telah dipatahkan oleh Damar dengan kekuatan tekadnya. Tidak ada yang mustahil selagi langit masih mau mendengar doa dan kita tidak enggan berupaya. Itu yang Damar katakan.
“Mau nggak … jadi tim selamanya?” tanya Damar di sela mengatur napas yang masih ngos-ngosan.
“Maksud kamu?”
“Aku … pengin nikah sama kamu, Adisti.” Damar merogoh saku celana, lalu menyodorkan cincin ke arahku.
“Tapi, kita baru kenal, Damar.”
“Aku cuma perlu satu detik buat jatuh cinta sama kamu dan itu akan bertahan selamanya.”
“Tapi, aku … lumpuh.”
“Dan aku buta. Terus kenapa? Laa taqlaq. Araaki biqalbii, laa bi’aynii. Jangan khawatir. Aku melihatmu dengan hatiku, bukan mataku.”
