Ada masa ketika kita merasa perlu menjelaskan hampir segala sesuatu.Mengapa kita memilih diam. Mengapa kita mengambil keputusan tertentu. Mengapa kita tidak lagi datang seperti dulu. Mengapa kita berubah. Mengapa kita menolak sesuatu yang dahulu pernah kita terima. Bahkan terkadang kita merasa perlu menjelaskan niat baik kita kepada orang-orang yang sejak awal memang tidak ingin memahaminya.
Kita ingin mereka tahu bahwa kita tidak bermaksud menyakiti. Kita ingin mereka mengerti bahwa keputusan yang kita ambil bukan karena kebencian. Kita ingin mereka melihat bahwa di balik sikap yang mereka anggap keras, ada alasan panjang yang tidak pernah mereka ketahui.
Namun semakin dewasa, kita perlahan belajar bahwa tidak semua hal harus dijelaskan. Sebab tidak semua orang yang bertanya benar-benar ingin memahami. Ada yang bertanya hanya untuk mencari celah. Ada yang mendengarkan bukan untuk mengerti, melainkan untuk menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk menghakimi. Dan ada pula yang sebenarnya sudah memiliki kesimpulan tentang diri kita, bahkan sebelum kita selesai berbicara.
Pada titik tertentu, kita akan merasa lelah.Bukan karena kita tidak mempunyai penjelasan, tetapi karena kita sadar bahwa penjelasan sebanyak apa pun tidak akan mengubah hati orang yang memang memilih untuk salah memahami kita.Di sinilah kita perlu belajar membedakan antara meluruskan kesalahpahaman dan terus-menerus membuktikan diri.
Meluruskan sesuatu yang keliru tentu tidak salah. Apalagi jika menyangkut hak orang lain, amanah, pekerjaan, keluarga, atau sesuatu yang memang membutuhkan kejelasan. Islam mengajarkan kita untuk berkata benar dan berlaku adil.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa’ [4]: 135)
Namun ada perbedaan antara menjelaskan kebenaran dan mengejar pengakuan. Kadang-kadang kita terlalu sibuk ingin membuat semua orang memahami diri kita. Kita ingin semua orang tahu bahwa kita sebenarnya baik. Bahwa kita tidak seperti yang mereka pikirkan. Bahwa kita punya alasan. Bahwa kita juga pernah terluka.
Padahal, bukankah Allah mengetahui semuanya? Allah mengetahui kalimat yang tidak pernah sempat kita ucapkan. Allah mengetahui niat yang tidak terlihat. Allah mengetahui air mata yang kita sembunyikan. Allah mengetahui mengapa kita memilih bertahan dan mengapa pada akhirnya kita memilih pergi.
Manusia hanya melihat potongan kecil dari sebuah cerita. Allah mengetahui keseluruhannya. Karena itu, ada ketenangan tertentu ketika kita mulai berhenti menjadikan pemahaman manusia sebagai ukuran ketenangan hati.
Tidak semua orang harus mengerti kita.Tidak semua orang harus menyukai keputusan kita.Tidak semua orang harus mengetahui alasan di balik setiap langkah yang kita ambil.Dan tidak semua kesalahpahaman harus kita kejar sampai mendapatkan pembenaran.
Ada saatnya kita cukup berkata dalam hati, “Allah tahu.” Kalimat itu sederhana, tetapi bagi hati yang sedang lelah, ia bisa menjadi tempat bersandar. Allah berfirman:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa pengetahuan manusia memang terbatas. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik sebuah kejadian. Begitu pula orang lain tidak mengetahui seluruh cerita tentang diri kita.
Maka, jangan terlalu sibuk mengurus penilaian manusia sampai lupa mengurus keadaan hati sendiri.
Ada orang yang akan tetap menganggap kita salah meskipun kita sudah menjelaskan dengan hati-hati. Ada yang akan tetap menganggap kita berubah meskipun sebenarnya kita sedang belajar menjadi lebih baik. Ada pula yang akan tetap mengingat kesalahan masa lalu kita, sementara kita sudah berusaha memperbaiki diri.
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Teruslah memperbaiki diri.Bukan demi membungkam mereka, tetapi demi Allah. Jika kita pernah salah, akui. Jika kita pernah menyakiti, minta maaf. Jika ada yang harus diperbaiki, perbaiki. Tetapi setelah itu, jangan habiskan seluruh hidup untuk membuktikan bahwa kita layak dipahami.
Kita bukanlah apa yang dikatakan orang tentang kita. Kita adalah apa yang Allah tahu tentang kita dan apa yang terus kita usahakan untuk menjadi lebih baik.
Terkadang hidup mengajarkan kita untuk tidak lagi menjelaskan diri kepada semua orang. Bukan karena kita sombong. Bukan pula karena kita tidak peduli. Tetapi karena kita mulai memahami bahwa ketenangan tidak selalu lahir dari keberhasilan membuat orang lain mengerti.
Ada ketenangan yang justru lahir ketika kita menyerahkan sebagian penilaian manusia kepada Allah.Biarlah mereka mempunyai pendapatnya.Biarlah sebagian orang memahami kita dengan caranya sendiri.
Kita tidak memiliki kendali atas apa yang orang lain pikirkan. Yang berada dalam kendali kita adalah bagaimana kita bersikap, bagaimana kita menjaga lisan, bagaimana kita memperbaiki kesalahan, dan bagaimana kita tetap berjalan di jalan yang kita yakini benar.
Pada akhirnya, hidup terlalu singkat jika digunakan untuk terus-menerus menjelaskan diri.Kita tidak perlu memenangkan setiap kesalahpahaman. Kita tidak perlu membalas setiap prasangka. Kita tidak perlu menjawab setiap penilaian.
Ada kalanya diam bukan tanda kalah.Diam adalah pilihan ketika kita tahu bahwa penjelasan tidak akan mengubah apa pun.Dan ada kalanya melepaskan kebutuhan untuk dipahami adalah bentuk lain dari kedewasaan.
Sebab ketika hati sudah cukup dekat dengan Allah, kita tidak lagi terlalu gelisah ketika manusia tidak memahami kita.Kita hanya ingin memastikan satu hal: jangan sampai manusia mengenal kita sebagai orang baik, sementara Allah menemukan hati kita jauh dari-Nya.
“Tidak semua orang harus memahami perjalanan kita. Cukuplah Allah mengetahui mengapa kita berjalan, mengapa kita bertahan, dan mengapa akhirnya kita memilih pulang.”
