Langit pagi itu tampak biasa saja bagi dunia, tapi tidak bagiku. Ia seperti cermin retak yang memantulkan kenanganmu—pecah, tak utuh, namun tetap menyilaukan. Kau pergi, bukan karena waktu yang memaksa, bukan karena takdir yang menghalau, tapi karena pilihan yang tak pernah kutahu alasannya. Dan aku, yang masih berdiri di tempat kita biasa menunggu senja, tak pernah benar-benar siap untuk kehilanganmu.
Aku ingat hari terakhir kita bersama. Kau tersenyum, tapi matamu menyimpan badai. Aku menggenggam tanganmu, berharap genggaman itu cukup kuat untuk menahanmu tetap tinggal. Tapi ternyata, cinta tak selalu cukup. Kau melepaskan diri perlahan, seperti daun yang jatuh dari rantingnya—tenang, tapi menyakitkan. Tak ada kata perpisahan, hanya diam yang menggema lebih nyaring dari tangisan.
Sejak saat itu, aku menjadi pengembara dalam kenangan. Setiap sudut kota menyimpan jejakmu. Warna kopi pagi mengingatkanku pada tawa ringanmu, dan hujan sore membawa kembali suara langkahmu yang menjauh. Aku mencoba melupakan, tapi kenanganmu seperti bayangan—tak bisa dihapus, hanya bisa dihindari, dan bahkan itu pun tak mudah.
Malam-malamku menjadi panjang. Aku berbicara pada bintang, berharap mereka menyampaikan rinduku padamu. Tapi bintang pun bisu. Mereka hanya berkedip, seolah tahu bahwa luka ini terlalu dalam untuk dijelaskan. Aku menulis surat yang tak pernah kukirim, menyusun kata yang tak pernah kau baca. Mungkin itu caraku bertahan, agar tak sepenuhnya hancur oleh kehilangan.
Kau tahu? Aku tak pernah rela. Kepergianmu adalah luka yang tak pernah kuterima. Ia bukan sekadar kehilangan, tapi penghilangan. Kau mencuri bagian dari diriku yang tak bisa kupulihkan. Dan aku, yang dulu penuh warna, kini hanya bayangan dari diriku sendiri.
Namun, di balik semua itu, aku belajar bahwa cinta tak selalu berakhir dengan kebersamaan. Kadang, cinta adalah melepaskan meski hati menjerit. Kadang, cinta adalah menerima bahwa seseorang memilih jalan yang tak melibatkan kita. Dan meski perih, aku tetap bersyukur pernah mengenalmu, pernah mencintaimu, pernah menjadi bagian dari hidupmu—meski hanya sebentar.
Kini, aku berdiri di bawah langit yang pernah kita tatap bersama. Ia masih sama, tapi aku tidak. Aku telah berubah, bukan karena waktu, tapi karena luka yang kau tinggalkan. Dan meski aku masih menangis dalam diam, aku tahu bahwa suatu hari nanti, aku akan tersenyum lagi. Bukan karena aku melupakanmu, tapi karena aku belajar hidup dengan kenanganmu.
Dan jika suatu saat kau membaca ini, ketahuilah: aku tak pernah membencimu. Aku hanya merindukanmu dengan cara yang tak bisa dijelaskan.
