Ditulis berdasarkan pada perjalanan dan kisah-kisah pernikahan orang lain, penulis merangkum banyak pesan penting dari setiap pasangan yang bisa diambil oleh kita sebagai seseorang yang telah dewasa, dan menjadi suami dan istri. Karena saat berpasangan, banyak sekali sesuatu yang kita lihat dari pasangan, mulai dari tingkat kepekaan sampai kepedulian sosial.
Setiap orang yang berpasangan tentunya memiliki target masing-masing. Namun ada yang harus berjuang untuk mewujudkan mimpinya, ada juga yang ditemani orang tuanya untuk merakit keinginan mereka satu persatu. Baik didukung secara finansial atau dorongan emosinal dari orang tua.
Karena setelah menikah, seketika perjalanan hidup berpasangan kembali menjadi titik baru baru. Awal yang lebih besar dari perjalanan seseorang, sebab setelah menikah akan lebih banyak menemukan lika-liku. Setelah kita beranjak dari rumah, dan meninggalkan orang tua untuk membuka hidup yang baru bersama seseorang yang kita sayangi.
Penilaian beragam cara pandang mengenai hidup, tentang menyelesaikan masalah, dan masih banyak lagi. Mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda, dengan menempatkan diri kita sebagai pasangan yang sama-sama menghadapi fase perubahan. Berubah dari yang tadinya hanya pasangan, dan berubah menjadi orang yang melalui fase ayah dan ibu.
Di dalamnya pasti ada banyak cara-cara sederhana untuk memandang pasangan lebih luas lagi. Terdengar sepele, namun hal ini banyak dikesampingkan. Mari kita merenung perlahan untuk melihat peran dan tanggung jawab kita atas pasangan, demi keberlangsungan dan keharmonisan berpasangan.
Pesan Untuk AyahÂ
Hargai setiap peluh keringat istrimu. Meskipun mereka hanya di rumah saja, terlihat tidak sibuk dan banyak waktu luangnya. Percayalah, mereka adalah seseorang yang rela mengorbankan hati dan dirinya untuk sengaja memindahkan jiwanya dari rumah.
Melepaskan diri dari segala kenyamanan bersama orang tuanya di rumah. Ia rela hidup denganmu bersusah bertahun-tahun denganmu, mengorbankan apa yang dia punya. Menyerahkan diri dan hatinya.
Jika kamu menikahi perempuan yang bekerja dan berkeras pada dirinya. Lihatlah dia, luaskanlah peluk dan cinta untuknya. Dia berkembang dan mengaktualisasi diri sambil bertumbuh menjadi sosok ibu yang sempurna.
Namun atas kekurangan waktunya di rumah, maklumi jika masih ada baju yang kurang rapi, noda di rumah kurang bersih. Lihat sisi lainnya, betapa berkerasnya dia bekerja barangkali niatnya membantumu menopang perekonomian keluarga. Jika niatnya bukan untuk mencari nafkah dan membahagiakan diri sendiri, maka lihatlah dirimu, sudahkah dengan maksimal membahagiakannya?
Barangkali kerja kerasnya selama ini bukan hanya untuk mengisi waktu luang, tapi ikut membantumu mencari uang. Hal itu ia lakukan semata-mata demi agar tidak melihatmu kepayahan menopang keluarga sendirian. Maafkan dan maklumi dia juga jika tidak berpenghasilan, sebab tuhan sudah percaya akan tanggung jawabmu sebagai seorang suami dan ayah.
Dipercaya tuhan ntuk menjadi seseorang yang memberikan kebahagiaan, kenyamanan dan tempat yang layak untuknya. Jika dia memang masih belajar maafkan dia, jika banyak kekurangan dan tidak sesempurna ibumu. Maafkan jika istrimu punya selera sendiri dalam menambahkan bumbu pada makanan yang disajikan untukmu.
Dukung dia melalui hal apapun, doakan agar dia selalu bahagia bersamamu, doakan agar dia selalu setia mendampingimu dalam hal apapun. Doakan semoga dia menjadi ibu terbaik bagi anak-anakmu dan menjadi pasangan terbaik. Sesekali berilah mereka ruang untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Seperti yang diketahui, kehidupannya telah tumpah di rumah. Dia melakukan segala upaya yang dia mampu dari dirinya melalui apapun. Dia mau menemani seorang pria yang tertatih-tatih sepertimu, dia tidak membeli barang mewah ketika kamu punya uang.
Dia tidak pernah tertarik dengan hal apapun selain kebahagiaan keluarga yang ia bangun denganmu. Syukuri dia seperti kamu bersyukur saat melihatnya pertama kali dan memilihnya untuk menjadi istri. Betapa kurang yang ia miliki hari ini.
Ia gendut dan berjerawat, lusuh dan mementingkan urusan rumah dan anak. Selalu terima ia bagaimanapun keadannya hari ini saat bersamamu. Daster dan riasan wajah yang hilang saat malam-malam duduk bersamamu, ia ganti dengan pengabdian seumur hidup untukmu dan keluargamu.
Pesan Untuk IbuÂ
Bersyukurlah saat kita memiliki seorang pelindung dan seorang yang bertanggung jawab seperti dia. Biarpun pernah ada di titik yang sangat rendah bersamamu. Perekonomian pas-pasan, kehidupan sosial berantakan, di cemooh sana sini.
Bersabarlah, karena keputusan menikah dengannya adalah sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan untukmu. Memilih dia yang bertanggung jawab, biar dia tidak kaya, tapi selalu berusaha membahagiakan. Apapun langkah yang diambil selalu didoakan dan bersemoga melihat dirinya lebih baik dari hari ini.
Semoga keberadaanmu sebagai perempuan menjadi motivasi yang besar untuk ia tetap berjuang menunaikan kewajibannya di hadapan Allah. Membuktikan kepada dunia bahwa dia adalah sosok laki-laki yang mampu memberikan keamanan, tuntunan, dan kehidupan yang layak. Jika kehidupan kita sekarang tengah berada di titik yang cukup, semoga hal itu bisa menjadi patokan rasa syukur untuk menghadapi kehidupan di dunia.
Semoga keberadaanmu sebagai wanita selalu menjadi alarm bagi pasangan, bahwa keadaan cukup ini tidak membuat kita berlebih. Membuat kita ingat sedekah dan berbagi. Mari doakan pasangan supaya lebih baik, menjadi imam yang baik, menjadi contoh di keluarga dan di masyarakat.
Mencerminkan kepemimpinan keluarga, memperlihatkan identitas keluarga, menampilkan tanggung jawab yang baik dan akhlak yang baik pula. Sebagai makhluk berpasangan dan berkeluarga tentunya kehidupan kita sehari-hari di luar rumah akan merepresentasikan kehidupan yang kita bangun selama ini.
Seperti kalimat merujuk pada sebuah cuplikan yang menayangkan Raditya Dika tengah berpendapat tentang adanya pertanyaan yang datang padanya dari sang istri. Ia bertanya “Apakah khawatir jika suatu saat anaknya akan salah memilih pasangan?”
Raditya Dika menjawabnya dengan lugas, menurutnya pemilihan pasangan dan teman-teman di lingkungan tentunya merepresentasikan bagaimana anak dididik oleh orang tuanya. Contoh kecil dari hal respect, dari hal kecil ini membawa sikap sikap turunannya. Contohnya waktu, sederhana saja, jika di rumah anak dibiasakan untuk disiplin, maka ketika dia bertemu dengan teman yang agak telat dia akan merespon.
Sebab, bagaimana dirinya dibentuk di rumah menilai sebuah perilaku seperti contohnya telat. Ia akan melihat itu sebagai sesuatu yang kurang baik. Jadi Raditya mengaku bahwa, pemilihan anaknya terhadap lingkungan mencerminkan cara orang tua memberikan didikannya.
Penulis sangat setuju, sebab anak adalah hasil pendidikan yang dibentuk orang tua di rumah. Jadi sejauh ini bagaimana? Apakah anda saling memahami pasangan.
Yuk belajar membuka diri, saling memaafkan kekurangan dan memaklumi diri masing-masing. Saling menjaga, saling menghormati dan menjaga marwah satu sama lain. Istri tetap menghormati suami dan istri juga dihargai oleh prianya.
Semoga kita selalu bertemu dengan orang-orang yang baik, menghargai dan menghormati, apalagi kepada perempuan. Jika sekarang anda belum bertemu dengan jodoh yang ditakdirkan oleh Allah. Percayalah Allah bukan hanya menunda, tapi memberikan anda waktu untuk bersiap diri jauh lebih lama daripada yang orang lain lakukan.
