“Bandung, July 1996. Kupersembahkan untuk anak-cucu kelak di kemudian hari!”
Tulisnya di bagian depan halaman album foto, yang akan langsung terpampang jelas begitu kau membukanya. Ditulis tahun 1996, tepat saat Ayah berusia 21 tahun, tepat 7 tahun sebelum Bunda menjadi teman hidupnya, tepat 13 tahun sebelum aku hadir ke dunia.
Dia, Ayahku. Begitu cintanya ia dengan alam. Menyusuri puluhan gunung, menghadapi ratusan badai, juga mengeluarkan jutaan rupiah, hanya untuk sebuah perjalanan yang tak semua orang pahami. Saat itu, teknologi belum secanggih sekarang. Hanya bermodalkan kamera analog yang hasilnya harus dicuci, berharap agar tidak terbakar. Namun ia percaya, bahwa kenangan akan tetap hidup, walau samar.
Ayah belum mengenalku, bahkan mungkin ia tidak pernah berpikir akan mempunyai anak seperti aku. Masa depannya masih menjadi pertanyaan. Namun entah mengapa, ia sudah mendedikasikan petualangannya untukku. Seolah ada sesuatu yang membisikannya dari masa depan.
Sore ini, Ayah memberikan albumnya untukku. Sampul biru, dengan motif batik. Aku menerimanya, lantas membukanya dengan hati-hati.
Album ini adalah saksi bisu akan petualangannya di masa muda. Menyimpan ribuan memori, yang tentu tak akan bisa diulang. Argopuro, Lawu, Agung, Rinjani dan masih banyaknya puncak yang sudah Ayah taklukkan.
Ayah bukan hanya mendaki gunung, namun sekaligus melangitkan doa-doanya. Ayah mendaki gunung bukan untuk sekedar bergaya, ia menyelami arti kehidupan yang sebenarnya. Langit tak selamanya cerah, angin tak selamanya segar dan hujan tak selamanya sekedar membasuh. Kadang, hal-hal yang dianggap tenang adalah badai yang tak peduli akan menerpa siapa saja yang ada di hadapannya.
Ayah selalu kembali ke pemukiman dalam keadaan bersih, karena pegunungan bukan tempat yang kotor. Ia tak pernah membuat risih penumpang kereta tujuan Yogyakarta dengan bau tak sedap dari dirinya dan teman-temannya pendakiannya. Ia tidak ingin “kotor” adalah tanda bahwa seseorang baru saja berada di atas awan, namun hanya dengan carrier lusuh yang ia pinjam dari temannyalah yang menjelaskan.
Ayah sudah beberapa kali menitipkan namaku dan Bunda di puncak-puncak paling megah. Berharap, jika ia sanggup melangkah sejauh itu, dengan bahaya yang tak dapat diterka, maka aku pun sanggup.
Muda berkelana, tua bercerita.
Terima kasih, Ayah. Tolong tunggu puncak pertamaku untukmu nanti. Ketika semesta telah memanggilku untuk meneriakkan harapan-harapan besarku, di negeri di atas awan.

Masyaa Allah anakku, trimakasih sudah menceritakan sedikit pengalaman petualangan ayah pada dunia.
Teruslah berkarya lagi Nak
KEREN BANGET PLSSS
Keren banget Raih 😍