Masjid An-Nur di akhir Ramadan biasanya menjadi saksi bisu keheningan i’tikaf. Namun, malam ini, di salah satu sudut pilar utama, atmosfer terasa panas, seolah-olah ada dua pembalap F1 yang sedang memperebutkan pole position.
Pelakunya adalah Doni dan Ari. Dua sahabat karib sejak SD yang memiliki satu kesamaan fatal: tidak pernah mau kalah. Dan Ramadan tahun ini, mereka memutuskan untuk membalap satu hal yang paling suci: Khataman Al-Qur’an.
“Don, jujur ya,” bisik Ari, matanya kuyu tapi penuh ambisi, suaranya parau karena kurang tidur. “Aku sudah masuk Juz 28. Surah Al-Hasyr. Habis sahur tadi aku kebut setengah juz. Gimana, masih berani?”
Doni, yang sedang berpura-pura khusyuk menatap mushafnya, tersenyum sinis. Ia tidak menjawab, melainkan hanya menjentikkan jarinya ke halaman Al-Qur’an yang sedang ia buka.
“Heh, Ri. Jangan remehkan kekuatan ‘kopi saset tanpa gula’ di waktu sahur. Lihat ini.” Doni menunjuk tulisan ‘Juz 29’ di pojok kanan atas halamannya. “Aku sudah di Surah Al-Mulk. Satu surah penuh keutamaan. Dan aku sudah menyelesaikannya… secara ‘batiniah’.”
Ari melotot. “Secara batiniah? Apa maksudnya? Kamu cuma baca judulnya doang?”
“Nggaklah! Aku baca. Cepat. Tapi… ya, tahulah. Yang penting hatinya ‘khatam’,” Doni berkelit, wajahnya sedikit merah.
Persaingan mereka sebenarnya sudah tidak sehat sejak pertengahan Ramadan. Bukannya berlomba dalam kebaikan, mereka berlomba dalam kecepatan. Al-Qur’an bukan lagi samudera hikmah yang harus diselami, melainkan sirkuit balap yang harus segera diselesaikan.
Doni punya strategi licik: ‘Jalur Ekspres’. Ia membaca dengan mode speed-reading tingkat dewa. Makhraj dan tajwid ia abaikan, mad yang seharusnya panjang ia jadikan pendek, dan ayat-ayat yang sulit ia lewati dengan kecepatan cahaya. Baginya, satu ayat selesai, satu poin didapat. ‘Setoran’ adalah segalanya. ‘Makna’ adalah urusan belakangan.
Sedangkan Ari, strateginya lebih ‘halus’: ‘Jalur Selip’. Ia akan berpura-pura membaca dengan tartil saat Doni lewat. Tapi begitu Doni menjauh, ia akan ‘menyelip’ halaman demi halaman dengan mode fast-forward. Ia bahkan pernah ketahuan oleh Doni sedang melompat dari Juz 15 langsung ke Juz 18.
“Ari! Aku lihat ya!” tuduh Doni saat i’tikaf malam ke-27. “Kamu melompat Juz 16 dan 17! Nggak fair! Itu namanya ‘ngebut di jalur busway’!”
Ari panik. “Eh, nggak, Don! Aku… aku cuma… cuma ‘menabung’ pahala untuk dibaca nanti! Ini strategi ‘investasi khatam’!”
“Investasi khatam matamu! Pokoknya ulang! Aku nggak mau menang dari pecundang yang pakai ‘cheat sheet’!”
“Siapa yang pecundang? Kamu sendiri! Aku dengar ya tadi saat shalat, bacaan Al-Mulk-mu cepat banget! Macam tukang ojek lagi dikejar orderan! Itu namanya ‘bacaan kilat khusus’!”
Perdebatan mereka akhirnya dilerai oleh Pak Marbot yang sudah bosan melihat dua sahabat itu bertengkar setiap malam.
Puncaknya terjadi pada malam takbiran. Di saat jamaah lain sedang sibuk mempersiapkan baju lebaran, Doni dan Ari masih setia di pojok masjid, Mushaf mereka terbuka lebar di Juz 30. Wajah mereka pucat, mata mereka merah, dan bibir mereka kering. Mereka nampak seperti zombi yang sedang dikejar target KPI.
“Surah An-Nas! Aku… aku… aku sudah…” Doni terengah-engah, suaranya nyaris hilang. “Aku sudah di Surah An-Nas! Ayat terakhir! ‘Minal jinnati wan naas’!”
“Aku juga!” Ari tidak mau kalah, meskipun tubuhnya sudah gemetar. “Aku… aku sudah… sudah di… di ‘wannas’ juga! Aku… aku khatam!”
Mereka berdua lalu menutup Mushaf mereka dengan serempak. Hening. Tidak ada perasaan damai, tidak ada ketenangan, yang ada hanya rasa lelah yang luar biasa dan hampa.
“Khatam,” gumam Doni, menatap Mushafnya dengan pandangan kosong. “Tapi… aku nggak ingat satu ayat pun.”
Ari mengangguk kuyu. “Sama. Aku cuma ingat perasaan buru-buru. Macam lagi dikejar singa.”
Tiba-tiba, seorang anak kecil lewat di depan mereka, Mushafnya terbuka di Juz 2. Ia membaca dengan tartil, suaranya merdu, dan matanya berbinar-binar. Ia membaca perlahan, seolah-olah sedang menikmati setiap huruf yang keluar dari bibirnya.
Doni dan Ari terdiam. Mereka melihat diri mereka sendiri di masa lalu, saat mereka pertama kali belajar mengaji. Saat Al-Qur’an adalah sesuatu yang ajaib dan menenangkan. Bukan sebuah target yang harus dikejar.
“Ri,” Doni menatap sahabatnya. “Apa gunanya kita khatam cepat, kalau hatinya nggak khatam?”
“Iya, Don. Kita cuma dapat lelahnya, tapi nggak dapat hikmahnya.”
Malam itu, di bawah gema takbir yang mulai berkumandang, Doni dan Ari tidak lagi membalap. Mereka membuka kembali Mushaf mereka di Juz 1. Mereka memutuskan untuk memulai lagi. Kali ini tidak untuk ‘setoran’, tapi untuk ‘menikmati’. Tidak untuk kecepatan, tapi untuk kedalaman.
“Besok kita baca Surah Al-Baqarah, Don,” kata Ari, tersenyum tulus. “Tapi kita baca perlahan. Sehari satu halaman. Yang penting maknanya sampai ke hati.”
Doni mengangguk, kali ini senyumnya damai. “Iya, Ri. Khataman Jalur Ekspres sudah kita tutup. Sekarang, kita mulai Khataman Jalur Hati.”
Ramadan bukanlah sirkuit balap, dan Al-Qur’an bukanlah target KPI. Khataman yang sejati bukan terletak pada berapa kali kita menyelesaikan 30 juz, melainkan pada berapa banyak ayat yang berhasil ‘mengkhatamkan’ ego dan nafsu kita. Sedikit tapi bermakna, jauh lebih baik daripada banyak tapi hampa. Karena Tuhan tidak melihat kecepatan kita, melainkan ketulusan hati kita dalam mendekat kepada-Nya.
