Sering rapat mepet di jam pulang kerja membuat suami memilih untuk membawa pulang konsumsi rapatnya. Selain karena jarak dari tempat kerja ke rumah menempuh waktu yang cukup lama (lebih dari satu jam), ketika selesai jam kerja suami selalu bersegera untuk langsung pulang.
Tentu saja dengan membawa makanan dalam kemasan, entah itu berupa nasi box yang berbahan kertas, styrofoam atau bahkan thinwall. Akibatnya ada tambahan sampah yang dibawa dari luar ke rumah.
Untuk kemasan makanan yang terbuat dari kertas dan styrofoam biasanya kami membakarnya di kebun samping rumah untuk mengurangi penumpukkan sebelum diambil oleh petugas pengambil sampah. Kebetulan lahan di samping areanya cukup luas dan cukup jauh dari tetangga.
Namun untuk kotak thinwall kadang suka membuat saya dilema. Sebab suami sering meminta saya untuk menyimpannya baik-baik. “Unda, jangan dibuang ya, simpan saja dulu!,” katanya.

Saya yang kurang suka memelihara benda bekas di waktu lama, jujur kurang nyaman dengan kebiasaan suami. Meskipun thinwall bisa digunakan berkali-kali untuk menyimpan makanan karena berbahan food grade, tetapi jika bukan yang berkode PP 5 alias thinwall yang berbahan tipis dan mudah berubah warna. Saya tidak berani menggunakannya sampai harus berkali-kali dalam jangka waktu yang panjang.
Selain digunakan sebagai wadah makanan tertentu kalau hendak membawanya atau berbagi dengan tetangga. Itu Pun harus makanan yang berbungkus semisal permen, dodol kemasan, atau sejenisnya.
Awalnya, ada pertanyaan besar di kepala, untuk apa sebenarnya suami meminta agar saya tidak membuangnya begitu saja? Kalau barang di rumah semakin menumpuk bagaimana?
Akhirnya pertanyaan saya pun terjawab setelah mengetahui bahwa ternyata suami menggunakan sampah thinwall tersebut untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Sehingga sampah yang satu ini tidak benar-benar langsung menjadi sampah. Melainkan masih bisa diambil kegunaannya yang lebih bermanfaat.
Akhirnya, karena kebetulan sebentar lagi kita akan memperingati hari peduli sampah nasional pada 21 Februari besok, saya akan menceritakannya di sini agar pembaca pun jangan buru-buru membuang sampah thinwall begitu saja. Apalagi sengaja membuangnya ke sungai sehingga semakin memperburuk kondisi lingkungan dan memicu bencana banjir.

Ternyata ini yang dilakukan suami saya dengan thinwall bekas tersebut:
- Menggunakan thinwall sebagai tempat penyimpanan benda kecil yang gampang tercecer
Karena kebetulan suami saya rajin sekali berkreasi dan terbiasa menyelesaikan masalah kerusakan yang ada di rumah sendiri tanpa memanggil tukang, maka alat pertukangan yang ia miliki pun cukup lengkap. Mulai dari gergaji, bor listrik, alat las, palu, cangkul sampai benda-benda kecil seperti berbagai jenis dan ukuran baut dan paku yang mudah sekali tercecer dan sukar ditemukan jika harus menyatu dengan benda lain.
Saya pun tidak suka ikut campur dalam membereskan barang-barangnya, untuk menjaga agar tidak sampai salah tempat hingga kesulitan menemukannya kembali. Namun rupanya ia sendiri cukup memiliki masalah tentang tata kelola barang yang belum bisa tertata rapi tersebut.
Akhirnya dengan adanya thinwall bisa difungsikan untuk menyimpan benda-benda kecil pertukangan seperti paku dan baut.
Anda juga tentu bisa mengkreasikannya dengan baik untuk menyimpan barang di rumah yang berukuran kecil. Bagi Anda yang berhijab, mungkin bisa menyimpan bros atau jarum pentul pada thinwall berukuran kecil yang sudah dilapisi kertas atau kain berwarna cantik.

- Menggunakannya sebagai tempat semai bibit tanaman sebelum ditanam
Kali ini saya sangat setuju. Sebab, sejak lama kami senang sekali menanam bunga dan berkebun. Maka kami memerlukan tempat untuk menyemai benih sementara sebelum dipindah tanamkan ke tanah atau pot. Suami menggunakannya untuk menyemai biji tanaman. Tidak lupa melubangi tinwall terlebih dahulu agar air tidak menggenang di tanah saat penyiraman dan tanah terjaga kelembapannya.
Benar saja, ternyata suami sudah menggunakan thinwall yang ada untuk menyemai biji bunga gelombang cinta yang kini sudah mulai tumbuh. Tinggal menunggu sampai agak besar, maka tanaman akan siap dipindahkan ke pot-pot tanaman.
Bahkan beberapa waktu lalu kami membeli beberapa bibit tanaman sayur untuk disemai. Nanti kami akan menanamnya ketika libur tiba. Kebetulan kami masih punya stok beberapa thinwall yang bisa digunakan untuk semai bibit sayuran tersebut.
Menurut saya keputusan suami sekarang harus saya dukung, karena ternyata menyimpan barang bekas tidak selalu menimbulkan penumpukan sampah jika bisa dimanfaatkan dengan bijak. Selain itu, pemanfaatan barang bekas/sampah bisa mendukung kemudahan untuk memisahkan alat atau barang berukuran kecil, juga memudahkan untuk penyemaian bibit tanaman yang mendukung hobi kami bercocok tanam.
Semoga cerita pengalaman ini bermanfaat.
