Ada yang pernah mengamati telur keong? Bagaimana rasanya ketika harus kembali dan melihatnya di suatu tempat? Seperti memanggil kembali kenangan masa kecil, telur keong yang saya temukan di pematang sawah berhasil membuka kenangan indah masa itu.
Lahir dan tumbuh besar di pedesaan, dewasa bekerja di perkotaan lalu kini kembali hidup tenang di lingkungan pedesaan membuat saya merasa harus banyak bersyukur kepada Allah. Banyak pengobat rindu yang kembali saya dapatkan. Jalan-jalan di pematang sawah, meski sawahnya bukan milik sendiri.
Merasakan kembali kulit bersentuhan dengan daun-daun yang masih basah dengan embun di pagi hari, menghirup udara segar tanpa polusi, menemukan kembali tanaman, sawah dan apapun yang sering dimainkan saat kecil.
Saya selalu bahagia dan tak jarang bersorak kegirangan saat menemukan semua itu. Tidak terkecuali ketika melihat dua gumpal telur keong mas di pematanga sawah ketika berjalan-jalan berburu mata hari terbit di sawah Cikawao Pacet Sabtu pagi.
Telur Keong Mas Memanggil Kenangan Masa Kecil
Dulu, saya sering main ke sawah ikut dengan Uwak. Mulai dari musim mencangkul, tebar, tadur, babad hingga kembali panen saya selalu senang mengekor di belakang uwak dan abah ke sawah.
Tak peduli kulit menghitam, saya selalu anteng bermain apapun di sana. Memancing suwike menggunakan umpan belalang, membuat “ole-olean” terompet dari batang padi, menangkap belalang sampai berburu tutut dan keong.
Sayang masa itu telah jauh tertinggal di belakang. Ah, rasanya rindu ingin kembali.
Kalau menemukan telur keong mas di sawah saya selalu senang mengamati. Meski begitu rasa geli selalu menghampiri sampai tak sadar saya bergidik, sebab ribuan telur berukuran kecil bersatu membentuk gumpalan. Kalau dilihat dari dekat, bentuknya aneh dan bikin bergidik.
Saya membayangkan jika seorang yang mengidap tripofobia (ketakutan melihat permukaan berlubang-lubang kecil atau pola tekstur yang mirip sarang rayap) tak akan sanggup melihatnya. Karena saya sendiri selalu merasakan itu. Meski tak sampai di tahap kecemasan dan takut yang berlebihan.
Kata Abah, kalau ada telur keong di sawah boleh dihancurkan saja. Apalagi ketika padi masih kecil (baru ditanam) karena jika telur-telur itu menetas, akan melahirkan ribuan telur yang siap merusak padi.

Bahaya Keong Mas untuk Tanaman Padi
Kini setelah dewasa saya kembali mengenang perkataan Abah bukan hanya sebatas ingatan masa kecil. Namun abah benar, sebaiknya jika terlalu banyak telur keong mas di sawah sebaiknya dimusnahkan saja.
Alasannya adalah karena keong mas merupakan hewan yang memiliki sifat invasif (cenderung menyebar, merusak, atau menembus dengan cepat serta agresif). Hewan ini jelas berbahaya untuk tanaman dan sangat merugikan para petani.
Bahaya Keong Mas untuk Padi
- Sangat rakus dan menyukai bagian tanaman padi yang masih lunak berusia 1 hingga 30 hari setelah tanam.
- Memarut jaringan lalu memotong batang muda, anakan, hingga daun di bawah permukaan air.
- Serangan parah dalam semalam dapat membuat rumpun padi habis tak tersisa, hanya menyisakan serpihan potongan membuat tanaman padi menjadi gundul
- Membuat padi gagal membentuk anakan secara maksimal pada minggu-minggu awal pertumbuhan
Keempat bahaya tersebut membuat para petani harus melakukan kerja ekstra. Memupuk, merawat hingga harus mengganti dengan tanaman baru karena habis dimakan keong mas.
Tak Pernah Makan Keong Mas Harus Diwaspadai
Meski kenangan yang terpanggil begitu manis dan melekat di ingatan, saya sama sekali tidak pernah memakan keong mas seperti beberapa orang yang saya kenal, mereka menyukainya.
Seperti halnya tutut yang bisa dimakan, keong mas (memiliki cangkang bulat berwarna kuning hingga kecoklatan berdiameter 1-5cm) pun bisa dijadikan makanan jika pengolahan benar dan didapatkan di tempat aman seperti sawah.
Namun meskipun demikian, bagi yang suka mengkonsumsi tutut dan keong haruslah lebih berhati-hati karena keduanya dapat memicu keracunan, gangguan pencernaan dan infeksi parasit berbahaya. Beberapa orang bahkan mengalami iritasi kulit setelah mengkonsumsinya.
Jika menemukannya, saya cukup melihat, mengamati dan mengagumi keberagaman ciptaan Allah. Saat bersama anak, saya pun hanya menjelaskan nama, ciri, bahaya dan detail kain yang informatif kepadanya.
Kenangan masa kecil tentang telur keong mas tidak hanya memanggil kenangan. Saya pun belajar banyak hal tentang bahayanya untuk padi, tentang betapa para petani harus kerja keras menjaga tanaman padi dari pertama kali menanam hingga memanen.
Masalah mereka bukan hanya soal mahalnya harga pupuk dan sulitnya pengairan di musim kemarau. Hama keong mas yang sangat invasif pun menjadi ancaman tersendiri yang berpotensi menggagalkan panen mereka.
Saya baru ingat, kenapa tadi pagi gak langsung memusnahkan telur-telur itu ya?
