Ramadan #12. Ini adalah sebuah catatan masa SMP ketika menjadi peserta pesantren kilat.
Pukul 04.00, bunyi alarm beker menggergaji hening kamar. Aku mengucek mata, mencium aroma nasi liwet dan ayam goreng dari dapur.
“Ayo, sahur dulu! Nanti jangan ngantuk di pesantren kilat,” suara ibu memecah kantuk. Tahun itu, aku kelas 2. Ramadan datang dengan paket wajib: puasa, tarawih, dan pesantren kilat—ritual tahunan sekolah yang bikin deg-degan sekaligus greget.
Pesantren kilat di sekolahku seperti festival agama versi fast track. Tiga hari penuh, dari subuh hingga dzuhur, kami dikurung di aula sekolah yang disulap jadi “mini-madrasah”. Karpet merah digelar, sound system dipasang, dan ustadz-ustadzah muda didatangkan. Agenda hariannya padat: tadarus, ceramah motivasi, hafalan doa, hingga permainan kelompok bertema Islami. Awalnya, kupikir ini bakal membosankan. Ternyata, di situlah semua kejutan dimulai.
Hari pertama, Ustad Farhan—pemateri dengan logat Medan yang kental—menggebrak dengan sesi “Tanya Jawab Tanpa Sensor”. Murid-murid boleh bertanya apa pun seputar agama, bahkan yang dianggap tabu. “Ustad, kalau puasa tapi skip sahur, dosa nggak?” tanya Rizal, si jago olok. Ustad Farhan tertawa, lalu menjawab dengan analogi motor yang kehabisan bensin. “Puasa tetap sah, tapi ibarat motor, kamu cuma bisa ngegas seadanya.” Kami tergelak, tapi tercerahkan.
Yang paling kutunggu: sesi games. Lomba adzan beregu, tebak ayat Al-Qur’an, hingga roleplay kisah nabi. Hadiahnya? Bukan tropi, tapi stiker kaligrafi yang bisa ditempel di buku catatan. Stiker itu jadi rebutan. Aku dan tim berhasil menang lomba hafalan doa dengan strategi flashcard ala kadarnya. Ketika stiker “Bintang Iman” ditempelkan di muka kelas, rasanya seperti memenangkan Piala Dunia.
Tapi, pesantren kilat bukan cuma tentang tawa. Suatu pagi, Ustadzah Lina bercerita tentang seorang anak yang memilih jujur mengaku lupa puasa, meski ibunya tak tahu. “Kejujuran itu seperti lampu dalam gelap. Sekecil apa pun, Allah lihat,” katanya. Kalimat itu nempel di kepala, bahkan sampai kini.
Hari terakhir, kami berfoto bersama dengan sertifikat peserta. Aroma keringat bercampur minyak wangi tikar masih terasa. Pesantren kilat mengajarkanku bahwa agama bukan sekadar ritual, tapi juga ruang untuk bertanya, tertawa, dan tumbuh. Sekarang, setiap Ramadan tiba, aku selalu teringat stiker “Bintang Iman” itu—simbol kecil bahwa semangat belajar agama bisa datang dari hal-hal yang tak terduga.
Dan tentu, aroma nasi liwet ibu yang selalu menemani sahur sebelum pesantren dimulai.
Nostalgia yang renyah, bukan?
