Catatan Ramadan#13. Setiap senja Ramadan selalu membawa getar rindu yang sulit diungkapkan. Saat langit berubah jingga, udara lembap menyapu wajah, dan dentang azan maghrib masih tertahan di ujung waktu, saya sering terduduk di teras rumah, menatap kerumunan orang yang berlarian di jalan. Mereka seperti pasukan kecil yang bersemangat, membawa kantong plastik berisi gorengan, kolak, atau es buah. Inilah “War Takjil”—tradisi unik di Indonesia yang mengubah sore Ramadan menjadi medan perang rindu, bukan dengan senjata, melainkan dengan senyum, ketulusan, dan semangat berbagi.
***
Istilah “War Takjil” mungkin terdengar paradoks. Kata “war” (perang) dari bahasa Inggris dan “takjil” dari bahasa Arab (ajila, artinya “menyegerakan”) disatukan menjadi metafora yang indah: sebuah perlombaan penuh sukacita untuk menyegerakan buka puasa dengan makanan terbaik. Tapi di sini, tidak ada kompetisi yang egois. Yang ada justru gelak tawa, keriangan anak-anak, dan kehangatan obrolan antarwarga. Sejak pukul empat sore, jalanan ramai oleh lapak takjil. Aroma gorengan pisang, kue cucur, dan martabak mini memenuhi udara. Suara tukang es campur mengocok sirup di dalam gelas berpacu dengan teriakan penjual kurma yang menawarkan harga promo.
Saya masih ingat suatu sore, ketika hujan gerimis membuat jalanan licin. Seorang bapak paruh baya dengan payung compang-camping tetap setia di lapaknya, menjajakan bubur sumsum. “Ini takjil gratis untuk yang tidak mampu, Nak!” katanya sambil menyodorkan mangkuk pada seorang anak kecil. Di sebelahnya, seorang ibu non-Muslim dengan jilbab warna-warni ikut membagikan kue lumpur. “Saya Cina Kristen, tapi Ramadan itu kebahagiaan untuk semua,” ujarnya, tersenyum. Saat itu, saya tersadar: War Takjil bukan sekadar perburuan makanan, melainkan pertemuan hati yang mengabaikan sekat agama atau suku.
***
Tradisi ini adalah cermin toleransi Indonesia. Di sudut kota, gereja-gereja sering membuka posko takjil. Tempat ibadah lain pun turut meramaikan. Seolah seluruh negeri sepakat: Ramadan adalah momen untuk merajut kebersamaan. Saya pernah bertemu seorang pemuda Bali yang dengan bangga bercerita, “Setiap tahun, keluarga saya yang Hindu selalu masak takjil untuk tetangga Muslim. Ini cara kami merawat kerukunan.”
Namun, di balik riuhnya War Takjil, ada kesedihan yang tersembunyi. Sebab, waktu berlari terlalu cepat. Begitu azan maghrib berkumandang, keramaian itu lenyap dalam sekejap. Lapak-lapak takjil berubah menjadi kenangan, menyisakan kantong plastik bekas dan rindu yang tertinggal. Setiap tahun, saya selalu berjanji pada diri: “Tahun depan, aku harus lebih sering ngabuburit di sini.” Tapi waktu tak pernah cukup. Ramadan selalu pergi sebelum kita puas menikmatinya.
***
Kini, di perantauan, kerinduan pada War Takjil semakin menjadi. Saya sering membayangkan senja di kampung halaman: ibu-ibu dengan dandanan casual berburu takjil sambil bercanda, bapak-bapak yang pura-pura tegas menawar harga meski akhirnya memberi uang pas, atau anak-anak yang matanya berbinar melihat tumpukan kue serabi. Itulah keindahan yang tak tergantikan.
War Takjil mengajarkan bahwa “perang” tak melulu tentang kekerasan. Di sini, kita berperang dengan cara berbeda: saling memberi, mengalah demi orang lain, dan merayakan kemanusiaan. Seperti kata seorang penjual takjil tua, “Yang penting bukan dapat makanan banyak, tapi pulang dengan hati senang.”
Ramadan akan selalu pergi, tapi kenangan tentangnya tetap hidup. Sore-sore seperti ini, saya kembali membayangkan langit jingga, desau angin, dan senyum orang asing yang tiba-tiba terasa seperti keluarga. Mungkin inilah makna sejati War Takjil: sebuah perang rindu, di mana kita semua adalah pemenangnya.
