Lebaran di Cibatu, Garut, selalu hadir dalam ingatan saya seperti potongan gambar yang kabur, sebagian hilang, sebagian masih menyala. Banyak yang sudah terlupakan, namun ada sepotong kenangan yang tetap bertahan, seakan menolak larut bersama waktu.
Saya masih kecil ketika itu, belum mengerti dunia orang dewasa. Kami tiba di stasiun Cibatu menjelang magrib, hanya bersama ibu. Ayah tidak ada, entah di mana, dan saya tidak pernah bertanya. Dunia anak-anak memang penuh tanda tanya yang dibiarkan menggantung. Dari stasiun, kami keluar dan naik delman menuju rumah ayah tiri, Adang. Ia termasuk orang berada di kampung itu, rumahnya besar, berdiri tegak di antara rumah-rumah lain yang lebih sederhana.
Meski ibu dan ayah tiri sudah resmi bercerai, hubungan mereka tidak penuh dendam. Ayah tiri sudah beristri lagi, namun ibu tetap diperbolehkan menginap beberapa minggu. Ada keakraban yang aneh, semacam kompromi yang hanya bisa lahir dari orang-orang kampung yang tahu betul arti silaturahmi.
Perjalanan kami belum selesai. Ibu hendak melanjutkan ke kampung Sapeundeuy, tempat leluhur dan saudara-saudaranya. Perjalanan itu panjang, melewati sungai besar yang hanya bisa diseberangi dengan rakit. Saya masih ingat betul, kaki kecil saya terperosok ke celah rakit, sepatu baru dan kaos kaki basah seketika. Ibu dengan sabar membukanya, mengeringkan seadanya, lalu kami melanjutkan langkah.
Dari tepian sungai, jalan menanjak menunggu. Kami menyusuri pematang sawah, membawa banyak bawaan—oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Malam itu kami transit di rumah kakak atau saudara ibu, lalu esoknya melanjutkan perjalanan.
Di kampung, suasana Lebaran terasa hangat. Ada Ua, ada mamang, lengkap saudara-saudara ibu. Kini saya tak tahu lagi apakah mereka masih hidup. Wajah-wajah itu sudah kabur dalam ingatan, nomor telepon pun tak pernah ada. Yang tersisa hanya rasa rindu yang tak bisa dituju.
Cibatu adalah tanah kelahiran ibu, tanah leluhur. Dari sanalah cerita keluarga berakar. Ibu sendiri seorang sinden, suaranya pernah mengisi panggung-panggung kecil, mengiringi tembang yang kini jarang terdengar. Ayah tiri pertama, Epen Saputra—atau dikenal juga sebagai E. Sutardi—adalah seniman serba bisa, seangkatan dengan Mang Koko, maestro legendaris. Ia bisa memainkan kecapi, melantunkan tembang, menari jaipongan, bahkan bersilat. Konon ia sering tampil di RRI Bandung pada tahun 1940-an.
Kenangan itu, meski samar, tetap menjadi bagian dari diri saya. Lebaran di Cibatu bukan sekadar perayaan, melainkan perjalanan panjang yang penuh simbol: rakit yang goyah di sungai, pematang sawah yang harus dilalui, rumah besar ayah tiri yang menyimpan cerita, dan wajah-wajah keluarga yang kini hilang jejak.
Lebaran masa kecil di Cibatu adalah tentang perjalanan menuju akar, tentang ibu yang sabar menuntun anaknya, tentang dunia orang dewasa yang masih misteri bagi seorang bocah. Kini, ketika saya menuliskan kembali, saya merasa seakan sedang menyeberangi sungai itu sekali lagi—dengan rakit kenangan yang rapuh, namun tetap membawa saya pulang.
